Tampilkan postingan dengan label Sedarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sedarah. Tampilkan semua postingan

Anak Badung Season 2 Bagian.08 [Mencari Ayah yang Hilang]

Posted by Unknown


NARASI HANI
Aku sudah sampai di ibukota sekarang. Sebenarnya juga aku masih bingung dengan kota ini. Angkutan umumnya banyak, Selalu tanya kiri dan kanan. Tujuanku cuma satu, yaitu bertemu dengan Doni Hendrajaya. Dia ayah biologisku. Tujuh belas tahun yang lalu ibuku selingkuh dengan seseorang. Ibuku bernama Dian. Setelah kematian ayahku dialah yang mengurusiku sendirian. Namun akhirnya ibuku pun menyusul ayahku tak berapa lama kemudian. Sebelum beliau meninggal ia berwasiat kepadaku bahwa aku bukan anak kandung ayahku. Aku adalah anak seorang konglomerat. Namanya Doni Hendrajaya. Dulu ibuku berselingkuh dengan dia sehingga lahirlah aku. Dan ini tidak diketahui oleh ayahku. Tentu saja itu pukulan terberat bagiku. Aku tak menyangka ibuku melakukan tindakan seperti itu, mengkhianati ayahku sendiri. 

Tapi aku sudah memaafkan ibu. Dan ibu menyesali semuanya. Aku sekarang hanya ingin menuntut pertanggung jawaban kepada Doni Hendrajaya.

Sudah seminggu ini aku berada di ibukota. Aku pun bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Gajinya sih lumayanlah buat hidup. Kafe Brontoseno namanya. Pekerjaan di sini cukup mudah, karena aku bagian kasir. Cuma ngitung uang, tapi juga kadang merangkap melayani pelanggan kalau pelayan yang lain lagi ribet. Kadang juga aku dapat tip. 

Aku suka ama salah seorang pelanggan. Dia tipnya sangat besar. Entah siapa namanya aku tak mungkin menanyakan nama ke orangnya. Dia selalu duduk di sebuah meja, sendirian sampai kafe ini hampir tutup. Kudengar sih dia pacarnya salah satu musisi yang ngisi di kafe kami. Dia tiap malam selalu ada di sini. Cakep bangetlah pokoknya. Beruntung banget itu sang vokalis jadi pacarnya. 

Ngomong-ngomong soal vokalis, aku kenal dengan vokalis The Zombie Girls ini. Namanya Iskha. Kenalnya juga ya gara-gara dia ngamen di kafe ini. Kalau nggak ya mana bakal kenal? Terkadang juga kalau libur aku diajak ke konser musiknya. Aku pun jadi akrab sama Iskha ini. Orangnya periang, supel, enak deh diajak gaul. Dia juga adalah temanku pertama kali ketika singgah di ibu kota ini. Aku dibantu mulai dari cari kos sampai ngajakin aku jalan bareng ama anggota bandnya. Mereka asyik semua. 

"Malem mbak Hani?!" sapa Iskha. 

"Malem mbak?! Apa kabar?" balasku. 

"Baik," jawabnya. 

Seperti biasa, ia membawa gitarnya dan mulai membuka pembungkusnya. Aku melihat seorang laki-laki duduk di meja yang kosong. Itu lelaki yang aku ceritakan. Iskha menatap ke dirinya penuh arti. Duh enaknya yang pacaran. 

"Wah, setia banget sih mbak cowoknya?" kataku. 

"Nggak tahu tuh, nempel terus kaya' perangko. Hihihi," jawabnya. 

"Iya, tiap malam nemenin mbak. Apa nggak ada kegiatan lain dianya?"

"Nggak tahu, tanya aja!" katanya sambil nyengir.

Malam ini pengunjung kafe tak begitu ramai, maka dari itu aku bisa sedikit santai. Aku pun coba mendekati cowok itu. Tampangnya sih bukan dari keluarga biasa. Aku lihat dia memakai syal warna ungu, jaket warna hitam, celana jeans dan sepatu warna coklat. Aku membawa menu dan menanyakan pesanannya.

"Mau pesan apa mas?" tanyaku.

"Ah, seperti biasa aja, Cappucino," jawabnya. 

"Ok," kataku. "Ada lagi?"

"Nggak tahu deh, udah aja. Nanti kalau tambah aku kasih tahu," katanya. 

Aku pun segera ke dapur memberi tahu pesanan Cappucino. Tak berapa lama kemudian pesanan sudah jadi. Aku segera menuju ke mejanya cowok tersebut. 

"Makasih," katanya. 

Aku tak segera beranjak. Aku duduk di kursi di dekatnya. 

"Mas cowoknya mbak Iskha ya?" tanyaku.

"Iya," jawabnya.

"Wah, beruntung ya mbak Iskha. Ditemenin terus kalau malem," kataku. 

"Mau gimana lagi, kalau dia pulang sendirian bahaya kan. Cewek pula," katanya. 

"Bener juga sih. Boleh tahu nama mas?"

"Aku Faiz. Kamu?"

"Aku Hani. Aku juga temennya mbak Iskha. Sering jalan bareng juga. Kami juga kadang curhat-curhatan gitu."

"Oh ya? Curhat apa saja?"

"Ada deh, itu rahasia cewek. Hehehe."

"Yaaah...oke deh."

"Aku tinggal ya mas," kataku sambil beranjak dan kembali ke tempatku. 

"Oke, silakan. Makasih ya," katanya. Sopan banget.

"Iya, sama-sama," jawabku. 

Malam itu pun berlalu dengan cepat. Bahkan tak terasa sudah selesai pertunjukannya mbak Iskha dan kawan-kawan. Mbak Iskha beres-beres alat musiknya, sama teman-temannya. 

"Ok girls, sampai besok yah?" katanya ke teman-temannya. 

"Ok, sampai besok," kata yang lain. 

Aku juga sebenarnya udah mau pulang. 

"Mau pulang juga Han?" tanyanya.

"Iya nih mbak, mau pulang juga?" tanyaku.

"Iya. Hmm...mau bareng ama aku?" 

"Lho, mbak kan bawa sepeda. Aku naik angkot saja, seperti biasa," kataku.

"Nggak ah, bahaya juga lho angkot malem-malem. Sama mas Faiz aja. Dia bawa mobil koq. Aku tadi bareng sama dia koq. Nggak keberatanlah kalau nambah satu penumpang," katanya. 

"Oke deh," kataku.

Akhirnya singkat cerita malam itu aku diantar oleh Iskha dan cowoknya. Aku duduk di belakang ditemani gitarnya. Iskha duduk di depan dong mendampingi kekasih tercinta. Selama di mobil ini entah kenapa aku nyaman ya? Apa pengaruh dari cowoknya mbak Iskha. Ah nggak mungkin. Masa' pesonanya sampai kaya' gitu. Tapi jujur aku akui cowoknya itu pesonanya luar biasa. Kalau dia punya mobil seperti ini pasti orang kaya. 

Tak berapa lama kemudian aku sudah sampai di depan kosku. Aku keluar dari mobil. 

"Hati-hati ya mbak!?" kata Iskha. 

"OK, makasih banyak," kataku. 

Setelah itu aku hanya melihatnya meninggalkan aku seorang diri di depan rumah kos. Capek rasanya. Aku masuk ke kamarku. Melepas sepatuku. Kukunci pintu kamar dan langsung merebahkan diri. Karena terlalu capek, aku pun terlelap. Tahu-tahu sudah pagi. 

***

Hari itu aku libur, karena shift kerjaku. Ada sesuatu yang nggak biasa. Aku punya tamu. Wah, itu mas Faiz, cowoknya mbak Iskha, ada apa ya?

"Eh, Mas Faiz. Ada apa ya?" tanyaku. 

"Aku mau minta bantuan nih. Bisa?" tanyanya.

"Bantuan apa ya mas?"

"Begini, sebentar lagi kan Iskha ulang tahun sweet seventeen. Aku ingin memberikan kejutan buat dia. Kira-kira tahu nggak hal yang paling disuka olehnya yang mungkin aku tidak diketahui. Atau mungkin sesuatu yang ia inginkan sejak lama tapi nggak pernah kesampaian?" tanyanya. 

"Oh...koq mas tanyanya ke aku?"

"Dia cerita kalau dekat dengan kamu, yah....siapa tahu kamu tahu gitu."

Aku pun merenung. "Kalau soal apa yang paling diinginkannya dia punya beberapa sih. Diantaranya kepengen ciuman di atas Menara Eifel."

"Kejauhan woi, yang deket-deket aja," kata Mas Faiz.

"Hihihihi....hmmm iya. Dia ingin punya piano. Sangat ingin punya piano," kataku. 

"Yang bener? Bukan yang lain? Sepeda motor atau apa gitu? Cincin mungkin? Kalung?"

Aku menggeleng. "Nggak mas. Dia ingin piano. Beneran, suwer. Soalnya dia pernah berkunjung ke mall. Kemudian ada piano di sana yang boleh dimainkan. Ia langsung maen piano di sana. Tentu saja semua orang kagum dong ama permainannya. Dan ia pun bilang kepadaku, kalau saja ia punya uang yang cukup, ia ingin sekali beli piano seperti itu."

Mas Faiz mengangguk-angguk. "Begitu yah. Oke deh. Besok ulang tahunnya. Aku ingin kalian yang ada di kafe ini kerja sama yah."

"Dua puluh september ya? Hmm....oke deh," kataku.

Setelah itu Faiz pergi. Lucu juga ya memberikan kejutan ultah kepada mbak Iskha. Aku pun jadi salah satu pemrakarsa jadinya. 

NARASI DONI 

Agak lucu ketika hari ini aku diberitahu oleh Faiz dia ingin memperkenalkanku dengan pacarnya. Tujuannya cuma satu yaitu ingin aku menyetujui dan merestui hubungan mereka. Aku berkali-kali sudah bilang, apapun pilihanmu aku ikut. Tapi ternyata Faiz ingin aku melihatnya secara langsung cewek yang menjadi pilihannya itu. Acaranya nanti malam di Kafe Brontoseno. 

Aku kenal pemilik Kafe itu, namanya Pak Liem. Salah seorang wirausaha yang terkenal dengan bisnis waralaba Kafenya. Aku memberitahunya kalau aku nanti akan datang ke kafenya untuk ikut-ikut acara sureprise anakku. Pak Liem malah ketawa. 

"Pak Doni, sepertinya itu anakmu jatuh cinta banget sama pacarnya sampai kepengen dikenalkan segala," kata Pak Liem. "Aku tadi juga ditelpon ama anakmu mau ngasih pesta kejutan katanya. Aku sih Ok, Ok saja, apalagi sudah kenal dekat dengan Pak Doni. Bukan begitu?"

"Iya sih Pak Liem. Yah, namanya juga anak-anak. Kita juga pernah muda," kataku. "Makasih kalau begitu, saya nanti akan mampir ke sana."

"Iya pak, silakan! Saya sudah menghubungi manajernya," kata Pak Liem. Pembicaraan kita pun berakhir. 

Aku masih ada di kantor sampai malam. Aku pun segera cabut untuk ke tempat kafe itu sesuai janjiku kepada Faiz. Faiz pun menelponku.

"Ayah, sudah berangkat?" tanyanya. 

"Iya, ini juga dalam perjalanan," jawabku.

"Makasih ya yah," katanya.

"Iya," kataku.

Setelah dari tempat parkir aku pun segera melajukan mobilku hingga aspal menimbulkan bunyi berdecit. Perjalanan ke kafenya cukup lama karena aku harus berjibaku dengan kemacetan yang luar biasa. Ada telepon masuk lagi. Dari istriku Laura. 

"Halo Ma? Ada apa?" tanyaku.

"Papa lembur nggak?" tanyanya. 

"Nggak, hanya saja ini si Faiz ingin aku ke pesta kejutan ceweknya. Ada apa ya?" 

"Oh, nggak apa-apa. Kalau papa nggak bisa menjemput Juni yang saat ini sedang ada di tempat latihan nggak apa, aku akan telepon dia nanti," kata Laura. 

"Oh, nggak apa-apa. Aku bisa koq. Dia ada di Dojo bukan?"

"Iya."

"Kebetulan Dojonya deket koq sama kafenya."

"Oh, syukurlah. Ya udah, hati-hati ya pa."

"Oke mah."

Aku pun mampir ke sebuah Dojo sebelum ke kafe itu. Ngajak Juni? Nggak apa-apalah. Dia juga jarang banget aku ajak keluar. Dia berlatih di Dojo beladiri Kendo. Sudah lama menggeluti olahraga ini, semenjak dia masih SMP tepatnya. Mobil aku parkir di luar Dojo. Ia ternyata belum keluar. Segera aku keluar dari mobil dan masuk ke Dojo. Eh, ternyata Juni sudah selesai. Ia berlari-lari kecil menuju ke arahku sambil membawa pedang bambunya. 

Ia langsung mencium tanganku. 

"Hai pa," sapanya.

"Hai, gimana latihannya?" tanyaku. 

"Yah, seperti biasa," jawabnya. 

Aku dan dia berjalan beriringan. 

"Bulan depan mau ada kejuaraan, aku ikut," katanya. 

"Oh ya? Wah, keren dong. Latihan yang keras kalau begitu," kataku. 

"Papa bisa datang?" tanyanya. 

Nah, ini. Susah juga jawabnya. 

"Papa usahakan yah, kalau papa nggak terlalu sibuk pasti datang," kataku. 

"Nggak bisa gitu dong pa. Sudah berkali-kali kejuaraan papa nggak dateng. Siapa yang bisa menyemangati aku? Sedangkan teman-temanku orang tuanya pasti datang," Juni ngambek.

"Kan ada kak Faiz kalau papa nggak bisa datang," kataku.

"Kak Faiz lagi, udahlah pa. Kalau emang papa nggak bisa ya bilang aja nggak bisa," ia menggerutu lalu masuk ke dalam mobil. Dilemparkan pedang bambunya ke kursi belakang. Aku menghela nafas.

"Baik deh, papa akan datang. Janji. Apapun urusan papa, papa pasti akan datang, tapi dengan satu syarat," kataku.

Tampak wajah Juni sumrigah. Ia senang sekali, "Apa pa?"

"Syaratnya kamu harus menang," kataku. 

"Pasti dong pa, aku pasti akan menang. Makasih ya pa," katanya. Ia memelukku. 

"Kamu laper kan? Aku ajak kamu ke kafe ya. Sudah lama aku nggak ngajak kamu makan malam. Kakakmu sedang ngasih kejutan buat pacarnya yang sedang ulang tahun," kataku. 

"Oh ya? Ayo pa, ayo! Kita kesana!" katanya bersemangat.

"Iya, iya. Sabar ini juga mobil belum nyala," kataku. 

Kami pun segera ke kafe yang dimaksud. Aku bisa melihat mobil milik Faiz, Honda City Type z yang ia modif terparkir di luar kafe. Aku pun memarkir mobilku di sebelahnya. 

"Ah, mobilnya kak Faiz! Aku duluan pa!" Juni segera melompat keluar dari mobil. Ia masih pakai seragam kendonya. Langsung masuk ke dalam kafe. Dasar. Aku pun keluar dari mobil dan masuk ke kafe itu. 

Di dalam kafe Faiz langsung menyambutku. Beberapa orang langsung matanya tertuju ke arahku. 

"Makasih yah, sudah datang," kata Faiz. 

NARASI HANI

Malam ini spesial tentunya. Faiz akan memberikan sureprise kepada Iskha. Mbak Iskha masih sibuk menghibur para pengunjung kafe yang cukup banyak karena kebanyakan memang undangan dari Faiz. Dia pun menyambut seseorang lelaki paruh baya. Sebelumnya ada seorang yang kira-kira masih remaja langsung masuk dan memeluk Faiz dari belakang. Ia terkejut dan langsung mencium pipi anak itu. Lalu memeluk orang tua tersebut.

"Alamaaak, mimpi apa aku semalam," kata Tanti rekan kerjaku. Dia salah satu pelayan dan baru saja mengantarkan pesanan seorang pelangan. 

"Ada apa Tan?" tanyaku.

"Itu...dia konglomerat, Pak Hendrajaya!" bisik Tanti.

"Hah? Yang bener?" aku terkejut. "Doni Hendrajaya?"

"Iya, masa' kamu nggak tahu sih?" kata Tanti heran.

Apa-apaan ini? Tak mungkin. Itu Doni Hendrajaya? Ayah biologisku????

"Lho, jadi cowoknya mbak Iskha itu...???" aku bergumam.

"Iya, cowoknya itu putranya. Masa' kamu nggak tahu sih? Kan barusan muncul di koran-koran," kata Tanti lagi.

"Yee...jarang juga aku baca koran," kataku.

Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku bisa berhadapan dengan orang yang katanya ibuku adalah ayah biologisku. Pak Hendrajaya. Tapi...apa dia akan bisa menerimaku? Nggak mungkin. Dia begitu parlente. Aku tak mungkin langsung mengaku kalau aku sebenarnya adalah anaknya. Pantas saja kemarin aku merasa nyaman di mobilnya Mas Faiz. Karena dia adalah kakakku. Terang saja. Sekarang jelas sudah semuanya. 

Lalu apa yang harus aku lakukan?? 

(bersambung....)

Bersambung ke
More aboutAnak Badung Season 2 Bagian.08 [Mencari Ayah yang Hilang]

Anak Badung Season 2 Bagian.05 [Do you Need Love?]

Posted by Unknown

Narasi Faiz
Hari ini aku bersama ayahku berada di kantornya. Ia mengajariku tentang masalah logistik. Sebab dalam perusahaan ayah juga yang terpenting adalah logistik. Itulah kenapa ia bisa mensupplay banyak produk ke seluruh toko-toko waralabanya. Bahkan untuk mensuplaynya beliau mendirikan gudang-gudang di tiap-tiap kota. Sepertinya ayah benar-benar serius untuk menjadikanku sebagai putra mahkotanya. Aku pun diperkenalkan ke para direksi. Setidaknya setelah nanti lulus sekolah, aku tak bingung untuk cari pekerjaan.

Setelah seharian di kantor ayah, aku pun pulang. Capek juga yah belajar bisnis seperti ini. Dan ketika aku sampai di rumah aku disambut oleh saudaraku yang lain, Zahir dan Risma. Mereka adalah anak dari Bunda Vidia. Istri pertama ayahku. Aku juga melihat Bunda Vidia di ruang keluarga sedang ngobrol dengan bundaku.

"Eh, ini dia Faiz datang," kata bunda.

"Faiz, apa kabar?" sapa Bunda Vidia. Bunda Vidia ini cukup cantik. Wajahnya masih mulus dan kencang walaupun anaknya sudah sebaya denganku. Jilbabnya panjang. Walaupun sudah berumur dia masih kelihatan seksi.

"Halo sayangku, Dinda!?" ayah langsung mendatangi dan menyapa Bunda Vidia. Dia mencium kening istrinya itu. Sang istri lalu mencium tangan ayahku, begitu juga bunda. Zahir dan Risma mencium tangan ayah.

Aku langsung berjalan menuju kamarku. Aku tak melihat Pandu.

"Faiz? Lho, koq langsung ke kamar?" tanya bundaku.

"Mungkin capek dia mah, soalnya cukup melalahkan tadi dia belajarnya. Moga aja otaknya nggak meledak," canda ayahku.

Aku segera berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar. Eh, di luar kamar aku bertemu dengan Pandu. Ia sepertinya mau keluar. Pakaiannya adalah kaos, jaket kulit dan jeans. Mau kemana si Pandu?

"Mau kemana, Pan?" tanyaku.

"Kencan dong, ini malem minggu!" jawabnya.

"Oh iya, ya sudah deh," kataku.

"Cabut dulu!" katanya.

Aku mengangguk. Sambil melihatnya pergi keluar dari rumah aku duduk di ruang keluarga di sebelah Zahir yang sibuk mainin game di ponsel smartphonenya.

"Ada acara apa nih?" tanyaku.

"Mau ada acara kondangan, kebetulan aja tempatnya dekat ama sini, jadi sekalian mampir," jawab Zahir.

"Eh, kak Faiz! Nggak malem mingguan?" tanya Risma.

"Ini ngeledek apa ngeledek?" tanyaku.

"Ya ngeledek, emangnya muji? hahaha," Risma ketawa.

"Dia barusan patah hati, jangan diejek. Ntar bisa gantung diri!" tiba-tiba Kak Putri datang langsung duduk bersandar ke diriku.

"Nah, kan. Ini penghinaan namanya. Perlu lapor KOMNAS HAM aku dibully ama semua saudara-saudaraku," gerutuku.

"Beneran? Kasihan dong," ujar Risma.

"Udah ah, ngeledek melulu," kataku.

Aku melirik ke arah Bunda VIdia yang masih ngobrol ama bunda. Mereka tampak santai ngobrolnya, entah apa yang mereka omongkan, seputar arisan atau baju. Kadang juga ngobrolin soal sekolah anak-anak.

Zahir menggerutu, "Ahh...susah banget ini."

Aku melirik ke ponselnya. Ia sedang main game Anggry Birds dan kalah. Ia pun menutup aplikasi game itu.

"Kamu rencana kuliah di mana?" tanyaku ke Zahir.

"Nggak tahu, biar saja nanti waktu yang memutuskan," kata Zahir.

"Ah, Kak Zahir mah, emang malas. Seharian maen game melulu di rumah," kata Risma.

"Biarin," kata Zahir.

"Nggak boleh gitu dong, maen game juga ada waktunya," kataku.

"Cieeh...sok bijak lu!" kak Putri memukulku pakai bantal.

Aku lalu beranjak.

"Eh, marah ya?" tanya Kak Putri.

"Nggak. Main tenis meja yuk?!" ajakku.

Kak Putri menyenggol Zahir. "Diajak tuh!"

"Aku kan mau pergi kondangan, nggak lucu kalau keringetan!" kata Zahir. "Mbak aja sanah!"

"Dasar, ya udah deh!" kak Putri pun menyusulku ke samping rumah. Di sana ada meja tenis yang biasanya kami gunakan untuk main tenis meja.

"Baiklah, berangkat sekarang?" tanya ayah.

"Ya sudah, aku pergi dulu ya dik," kata Bunda Vidia. Ia cipika-cipiki dengan ibuku. Mereka sekeluarga kemudian pamit.

Mumpung sore belum mandi juga, nggak ada salahnya kalau keringetan dikit. Aku dan Kak Putri pun main tenis meja. Seru juga mainnya. Kami sampai ribut sendiri di tempat itu. Icha dan Rendi pun ikut nonton pertandingan ini. Bahkan mereka pun akhirnya menggantikan kami ketika skor sudah game over.

"Sinih gantian, Icha kepengen maen ama Rendi," kata Icha.

Dan akhirnya aku menghabiskan sore itu bersama saudara-saudaraku main tenis meja sampai kami berkeringat semuanya. Cukup menyenangkan. Hingga bunda menyuruh kami untuk mandi semuanya. Icha dan Rendi tentu saja langsung berhamburan ke kamar mandi. Aku dan Kak Putri masih duduk-duduk di bangku yang ada di halaman samping rumah.

"Gimana? Sudah move on?" tanya Kak Putri.

"Entahlah kak, aku masih belum bisa melupakan Vira," kataku.

"Uuhh..kamu itu dasar," kak Putri tampaknya tak suka dengan kata-kataku. Ia segera beranjak pergi meninggalkanku dengan penuh emosi. Aku lal menyusulnya.

"Kak, Kak Putri?!" panggilku. "Koq kakak marah sih?"

Ia berbalik, "Iya jelas marah, kamu itu sudah kubilang suruh move on, kakakmu ini sangat sayang ama kamu, peduli ama kamu. Bahkan..." kak Putri mendekat ke arah telingaku dan berbisik. "....aku rela menyerahkan tubuhku untuk kamu!"

Kak Putri berbalik dan langsung menuju ke kamarnya. Aku menyusulnya. Begitu aku mau masuk kamarnya pintu langsung ditutup dan dikunci.

"Kak? Kak Putri??" panggilku. "Maafkan aku kak."

"Pergi sana!" katanya.

"Kaak? udah dong. Ntar bunda bingung lho," kataku.

"Peduli amat!"

"Oke kak, aku sorry. Tapi aku juga tak bisa mengendalikan ini. Aku sangat mencintai Vira. Ia cinta pertamaku. Kakak juga ngerti dong. Aku masih bau kencur soal cinta, nggak seperti kakak. Untuk move on itu susah!" kataku.

Pintu tiba-tiba terbuka dan aku ditarik masuk ke kamarnya. Kak Putri lalu menutup pintu kamarnya lagi. Aku pun didorong hingga bersandar di pintu.

"Faiz,...!" kata Kak Putri. Matanya berkaca-kaca, sekelebat kemudian ia memelukku.

"Kak, maafkan aku. Aku janji nggak bakal buat kakak menangis lagi. Aku janji. Sudah dong!" kataku.

"Lo mau kan jadi pacar kakak? Pliiss, kakak sudah nggak percaya lagi sama laki-laki. Kalau kamu mau jadi pacar kakak, kakak akan maafin kamu."

Aku terdiam sejenak. Kupeluk dia. Entahlah, kenapa aku punya masalah sister complex seperti ini. Kemudian wajahnya berhadap-hadapan denganku. Aku saat itu masih bersandar di pintu, jadi dia menahanku agar tidak bisa beranjak. Bibirnya pun kembali memanggutku. Kami berciuman lagi. Satu hal yang baru kusadari, ternyata Kak Putri tak memakai bra. Putingnya mengeras menempel di dadaku.

Aku menurunkan tanganku ke pinggangnya, kudorong hingga kedua kemaluan kami bergesekan di balik baju. Tangan Kak Putri mengusap dadaku. Ia menciumi dadaku. Padahal aku sedang berkeringat sekarang ini. Dia juga sih. Tapi aku suka bau keringat kakakku ini.

"Kakak sudah kepengen?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Berjanjilah, kamu harus move on! Kakak di sini siap untuk menjadi kekasihmu."

"Kenapa kakak mencintaiku?" tanyaku.

"Bukan kenapa, tapi bagaimana," jawabnya.

"Bagaimana?"

"Karena aku sudah mencintaimu sejak dulu Iz, sejak kecil kamu selalu melindungiku. Kamu selalu peduli kepadaku. Kita selalu bermain bersama. Aku sudah katakan kepadamu, aku ingin menghilangkan perasaan ini bahkan pacaran dengan lelaki lain, tapi mereka semua brengsek. Aku dikhianati berkali-kali, aku tak percaya lagi kepada lelaki lain. Aku cuma percaya kepadamu Iz."

"Kenapa percaya kepadaku?"

"Sama satu cewek saja kamu seperti ini setianya, bagaimana kalau kamu jadi pacarku pasti kamu akan setia selamanya."

Naif sekali pemikiran kakakku ini. Sebenarnya mungkin ia ingin kenyamanan. Ia ingin diperhatikan. Aku bisa merasakan itu. Ayah jarang menemuinya, iya. Bisa jadi. Banyak masalah yang menimpa kakakku ini sejak dari kecil. Ia ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Ia anak tiri dari ayahku, bunda sebelumnya menikah dengan orang lain lalu ditinggal pergi begitu saja, hingga bertemu dengan ayah. Dia kesepian. Bodohnya aku. Aku seharusnya memperhatikan ini. Ayah memang lebih sayang aku dan Pandu, dan ia lupa kalau Kak Putri juga butuh perhatian.

Dia jujur bahwa telah dikhianati oleh sang pacar. Ia jujur telah melepaskan keperawanannya setahun yang lalu. Dan memang sakit rasanya dikhianati. Kak Putri kemudian menarikku, ia ambruk di ranjang dan aku menindihnya. Kami berciuman lagi dan kali ini lebih panas dari sebelumnya.

Aku mengangkat kaosnya. Payudaranya yang tak berbalut bra itu terpampang. Aku segera mengisap putingnya. Kak Putri melenguh keras. Ia mencopot kaosnya sekarang hingga bagian atas tubuhnya telanjang. Ia menarik kaosku juga. Bagian tubuh atas kami pun bersatu sekarang. Aku mencupangi kedua payudaranya, sebab aku sangat gemas sekali dengan dadanya yang sekal itu.

"Faiz, masukin langsung Faiz. Aku inginkan dirimu," katanya.

Aku lalu melepaskan celanaku dan ia sudah melepaskan hotpantsnya. Aku segera menggesek-gesekkan ujung kontiku di lubang memeknya. Perlahan-lahan kemudian aku dorong hingga masuk penuh. Kak Putri emang sudah horni. Keringat kami pun bercampur baur jadi satu. Bau memeknya yang semerbak pun menambah nafsu gairah.

Aku lalu menggoyangnya maju mundur perlahan. Kak Putri mengunci pinggangku dengan kedua kakinya. Ia menarik-nariknya seolah-olah ingin memasukkan penisku lebih dalam lagi. Aku tarik maju mundur, hingga kemudian makin lama makin cepat. Aku peluk tubuh Kak Putri.

"Faiizzz...oohhhh...entotin kakak ya," katanya.

"Iya kak, ini juga udah entotin kakak koq," katakku.

"Yang keras Faiz, yang keras! Jebolin memek kakak kalau perlu!" katanya.

Kak Putri makin binal. Lagi-lagi ia memutar-mutar pinggulnya dan aku makin cepat menggerakkan pantatku. Rasanya penisku sudah ingin keluar lagi kali ini. Ngilu sekali rasanya. Rasa gatal yang tak tertahankan itu pun mengumpul di ujung penisku.

"Kaaak..aku keluaarr...!!" kataku.

"Ohhh...kakak juga Izzzzz.....aaaaakhhhhhh!!" kak Putri mendekapku. Kami berpelukan erat ketika kemaluan kami sama-sama menyemprotkan cairan ejakulasi. Nikmat sekali,....nikmaaaattt.....Aku tak bisa melukiskan dengan kata-kata. Orgasme itu rasanya sangat lama.

Nafas kami terengah-engah dan Kak Putri lemas. Kakinya diturunkan dan aku pun mencabut penisku. Memek Kak Putri melelehkan air mani yang tadi aku keluarkan.

"Kak, kakak kosong nggak nih? Bisa berabe kalau nanti aku hamili," kataku.

"Oh iya, kakak nggak kosong. Masa subur!" Kak putri menepok jidatnya.

"Waduh, gimana dong?" tanyaku.

Kami berdua panik. Kak Putri langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan miss v-nya. Aku panik sekali. Aku lalu menyusul ke kamar mandinya dan melihat ia kemudian kencing di closet. Ia memejamkan mata dan meringis.

"Kenapa kak?" tanyaku.

"Rasanya geli waktu kencing, tuh spermamu banyak banget nyemprotnya," katanya sambil memperlihatkan air kencingnya yang bercampur dengan lendir berwarna putih milikku.

Ia kemudian membersihkan kemaluannya. Aku pun berdoa, moga-moga nggak hamil, moga-moga nggak hamil.

"Udah, kamu nggak usah khawatir gitu dong," katanya.

"Ya jelas khawatirlah, apa kata bunda nanti? Apa kata ayah nanti?" tanyaku.

Kak Putri tersenyum, "Ya ngomong yang sesungguhnya dong."

Aku agak terkejut dengan perkataannya. Apa Kak Putri tak merasa khawatir?

"Kak, apa beneran kakak mencintaiku?" tanyaku.

"Iya, kenapa?" tanyanya.

"Kalau kakak mencintaiku apakah kakak membutuhkan cintaku?"

Kak Putri diam. Ia tahu itu pertanyaan yang sangat berat. Ia memang mencintaiku, tapi apakah ia butuh cintaku. Diamnya kak Putri itu membuatku sadar, cinta kami bertepuk sebelah tangan. Cinta kami hanya satu arah.

"Aku mencintai kakak sebagai saudaraku dan akan seperti itu selamanya," kataku.

Kak Putri lalu berdiri. Ia memelukku. "Maafkan aku ya Faiz,...maafkan aku."

"Aku sudah bilang, kalau kakak butuh apapun, minta apapun aku aka berikan. Karena aku sayang ama kakak," kataku.

Aku lalu melepaskan pelukannya, memakai pakaianku lagi dan keluar dari kamarnya. Kak Putri sedang dalam depresi kukira akibat dikhianati pacarnya. Ia hanya inginkan pelampiasan. Itulah yang aku simpulkan sekarang.
yang mw join Grup fB silahkan ke link >> https://www.facebook.com/groups/zendiri/?ref=bookmarks

Bersambung ke
More aboutAnak Badung Season 2 Bagian.05 [Do you Need Love?]

Anak Badung Season 2 Bagian.03 [Curhat ke Kakak]

Posted by Unknown


NARASI FAIZ
Aku dan Vira masuk ke ruang UKS. Pandu masih belum sadar. Ada seorang dokter di dalam ruang UKS ini. Sekolah ini memang mempunyai dokter cewek yang bertugas kalau-kalau ada siswanya yang sakit. Namanya Dr. Dhana. Dia masih muda, berusia 27 tahun. Karena ini sekolahan elit jangan pernah tanya berapa honor sang dokter cantik ini. Pastinya tidak sedikit. Dan pasiennya jangan pernah tanya, pasti berebut. Dr. Dhana ini masih muda. Dan ia juga kadang sering menggoda anak-anak cowok di sekolahan ini.

Begitu aku masuk Dr. Dhana segera tahu. 

"Selamat pagi pangeran mahkota, saudaramu sudah siuman," kata Dr. Dhana. 

"Oh ya?" aku pun gembira. 

Vira mengikutiku dari belakang. Kami kemudian sampai di ruang perawatan. Di sana tampak Pandu sedang main game di ponselnya. 

"Hei kunyu! Udah sadar nggak kembali ke kelas malah main game," kataku.

"Rese' ah, suka-suka gua dong," katanya.

"Ayah tadi ke sini," kataku.

"Hah? Masa', trus dia kemana?"

"Udah pergi lagi."

Pandu melihat Vira. Ia buru-buru meletakkan ponselnya.

"Pandu, kau tak apa-apa?" tanyanya.

"Hai, Vir. Eh, maaf. Kusangka Si Jabrik ini sendirian," kata Pandu.

"Pan!" aku berkata sambil mengangkat tangan kananku untuk tos. Pandu pun membalasnya. Tapi aku tangkap tangannya. "Lu menang! Jaga dia baik-baik. Awas kalau lu sampai nyakitin dia!"

Aku meninju bahunya. Pandu nyengir. Ia tak mengerti maksudku. "Apaan sih?"

"Aku tinggal dulu," kataku.

"Woi, mau kemana?" tanya Pandu.

"Aku lagi sakit hati, jangan tanya kemana. Ya balik ke kelas-lah!" kataku.

Vira kemudian maju ke arah Pandu. 

"Vira, kamu...?" kata Pandu.

"Iya, aku sudah bilang ke Faiz. Aku menerimamu, Aku mencintaimu Pandu," kata Vira. 

Fuck....sakit hatiku mendengar itu. Dadaku bergemuruh. 

"Faiz,...jadi...itu...," Pandu mulai mengerti.

Suasana ruang perawatan itu hening. Aku pun bergegas pergi meninggalkan ruang UKS. Tampak Dr. Dhana sedang membersihkan kukunya.

"Dasar, anak muda. Nggak di mana aja, kalau sedang ada masalah cinta hadeeeh," katanya.

"Faiz, makasih," kata Pandu. 

Aku melambaikan tanganku. 

"Faiz tak apa-apa?" tanya Vira. Dia tahu perasaanku sekarang sedang hancur. 

"Ah, nggak apa-apa. Kami sudah berjanji koq. Siapapun yang dipilih olehmu, kami akan menerimanya walaupun sakit," kata Pandu.

Masalahnya, akulah yang memberikan Vira kepadamu Pandu. Karena aku terlalu sayang kepadamu.

***

Seminggu setelah kejadian itu, aku jadi jutek di rumah. Makan ndak nafsu, mau ngapa-ngapain bete. Tiap hari melihat Vira dan Pandu bersama, apalagi sambil gandengan tangan. Bikin aku ilfil. Tapi aku mencoba untuk senyum. Mungkin hanya Vira yang tahu arti dari senyumanku. Ia tahu aku sangat sakit. Tapi aku tak bisa berbuat banyak dengan ini semua. Kegembiraan di wajah Pandu pun membuatku makin bisa menerima nasib. 

Ternyata kegundahanku selama ini diketahui oleh Kak Putri. Aku duduk di ruang keluarga nonton tv sendiri sampai larut. Nonton Masih Dunia Lain. Ngelihat orang-orang kesurupan. Heehh....nggak ada kerjaan emang. Saat itu rupanya Kak Putri terbangun dari tidurnya dan langsung duduk di sebelahku.

"Ngapain?" tanyanya. "Lagi galau ya?"

"Sok tahu," kataku.

"Udah deh, aku tahu kalau kamu lagi galau. Gebetan direbut orang? Kalah dari Pandu?" gila, langsung tepat dia.

Aku terdiam.

"Hahahaha, ternyata bener. Ceweknya yang mana sih? Kasih tahu dong!" pintanya.

Aku mengambil ponselku dan membuka gallery. Di sana ada foto Vira. Aku kasih ke Kak Putri.

"Cakep banget. Sialan kalian ini seleranya tinggi-tinggi ya?" puji Kak Putri. 

"Iyalah," kataku.

"Udah deh. Jangan sedih gitu," katanya.

"Gimana lagi ya kak, dia cinta pertamaku. Aku sebenarnya nggak rela sih. Tapi, ketika ayah bilang Pandu kena penyakit itu, rasanya aku tak tega. Aku mengalah dari dia," kataku.

"Kamu sih bego!" kak Putri menoyor kepalaku.

"Lho?"

"Dalam kehidupan ini kau boleh mengalah kecuali tiga hal, pertama kamu nggak boleh mengalah dalam soal makanan, kalau kamu nggak makan bisa mati soalnya, kedua kamu nggak boleh mengalah dalam soal nyawa. Soalnya nyawamu cuma satu, dan yang terakhir, kamu nggak boleh mengalah dalam hal cinta. Sebab kalau kamu ngalah maka hati kamu yang mati!" 

Aku menunduk.

"Ah, sialan. Pake pasang muka nggak berarti gitu. Udah dong ah. Udah terlanjur mau gimana lagi? Move on aja!"

"Enak kakak bilang move on, gampang banget. Sakitnya tuh di sini!" kataku sambil menunjuk ke dada.

Kak Putri tersenyum. Dia merebut remote tv dan mematikan tv. Tanganku lalu ditarik olehnya.

"Sini, ikut kakak!" katanya.

"Apaan sih?"

"Udah ikut aja!" katanya.

Aku digiring ke kamarnya. Setelah aku masuk, eh dianya langsung mengunci pintu, aku lalu didorong dan dipeluknya. Aku ambruk di atas ranjang dan bibirku pun dilumat olehnya. Kenapa kak Putri ini? Aku mendorongnya.

"Apaan sih kak?"

"Denger ya, aku ngelakuin ini biar kamu nggak sedih. Aku nggak pengen adikku ini sedih terus soal cewek. Biar aku menghiburmu," katanya. 

"Maksudnya? Ini kakak mau ML ama aku?"

"Ah, cerewet, udah tahu nanya."

"Tapi, kita kan saudara!?"

"Persetan Iz, aku udah horni dari tadi."

Dan setelah itu....eng-ing-eng, terjadilah. Aku awalnya agak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kak Putri, tak tahu kalau dia seagresif itu melumat bibirku. Dalam sekejap pakaianku sudah dilucutinya. Hingga aku cuma tinggal pakai celana dalam saja. Kak Putri pun melepas T-Shirtnya. Kini dia cuma memakai bra dan CD.

Dengan lembut kak Putri mencium pipiku, bibirku, lalu ke leherku dadaku, dan dia menjilati putingku. Perutku diciuminya sampai ke celana dalamku. Ia usap-usap pusakaku itu. 

"Gila Iz, punya lu. Gede amat ya?" katanya. 

"Jangan ngaco ah, itu ukuran orang Indonesia. Standar!" kataku.

"Nggak, beneran. Apa pacarku yang impoten ya?" katanya.

"Kak Putri ngelakuin ini ama pacar? berarti udah nggak perawan dong?"

"Iya, kurang lebih setahun lalu," katanya enteng. "Aku buka ya?"

Tanpa mendapat persetujuanku ia sudah melepaskan celana dalamku. 

"Anjir ini sih ukuran nggak normal Iz! Ukuran cowokku aja cuma sejari telunjuk. Ini lebih! Panjang banget! Gede lagi. Ini belum on beneran kan?" tanyanya.

"Belum," jawabku enteng.

Tiba-tiba ia menciumi dan menjilati ujung penisku. OWwwuhh....aku baru kali ini digituin perempuan. Biasanya cuma coli doang. Hap...kepala pusakaku sudah dikulum oleh Kak Putri. Kak Putri ini cukup seksi, kulitnya putih dan aku bisa tebak ukuran branya 34B. Ketika mengulum dan membiusku dengan oral sexnya ia membuka sendiri kaitan branya. Menggantunglah dua buah bongkahan susu bergizi itu. Ia meremas-remas telurku sekarang, membuatku makin keenakan. Sekarang punyaku benar-benar tegang. 

"Duh, gemes aku ama kontolmu," katanya. Dia bisa juga bicara penis pake kata kontol. 

Dia mengocok-kocok punyaku sambil sesekali menghisapnya. Aku hanya bisa melihat dia memperlakukan penisku seperti mainan. Kadang dia jilat, kadang ia ciumi dengan hidungnya. Ia kemudian berbaring di sampingku sambil melepaskan celana dalamnya. 

"Gantian dong Iz!" kata kak Putri.

Aku kemudian mencium bibirnya lagi. Aku sebenarnya tak pernah membayangkan bisa ikut horni juga dengan kakak sendiri. Ciumannya juga cukup maut. Berkali-kali kami french kiss. Aku kemudian mencium lehernya. Apa yang aku lihat di film bokep aku praktekkin semuanya. Aku kemudian menyusu ke dia. 

"Lu yakin nggak pernah ML?" tanyanya.

"Nggak lah, lihat bokep sih berkali-kali," kataku.

"Ohh...Izz...enak banget. Empengin aku...iya...gitu...ohhh....putingku gatel banget," katanya.

Aku menjilati dan mengenyotnya. Ia gelagapan sekarang. Ia ingin lagi dan lagi. Aku remas dadanya itu, entah apa yang ia rasakan. Tapi yang pasti dia keenakan. Aku kemudian menciumi perutnya, pusarnya, lalu ke selakangannya. 

"Iiiizzz....ohhh...!!" ngeluhnya.

"Kakak nggak apa-apa?" tanyaku.

"nggak apa-apa, terusin! Terusin!" katanya. 

Aku melihat bagian privasinya sekarang. Rambutnya sedikit, tapi memeknya sungguh sangat indah. Bibirnya berwarna pink, tak ada cacat. Aku mencium bau aneh. Sedikit amis. Dan di situ lendirnya banyak. Aku penasarn dengan rasanya. Aku pun menjilati bibir memeknya. Tiba-tiba pantat kakakku gemetar.

"Izz...kamu apain itu koq enak banget?" tanyanya. 

"Aku cuma giniin koq kak," aku ulangi perbuatanku.

"OHHHH.....iizzz, aku keluaarrrr.....!!!" katanya.

Pahanya menekan kepalaku dan pantatnya terangkat ke atas. Bergetar tubuh Kak Putri untuk beberapa saat. Setelah itu aku duduk di sampingnya. 

"Lakuin sekarang Iz!" pintanya. 

"Kakak yakin?"

Kak Putri menatapku sayu dengan tampang memohon. Ia lalu mengangguk. Aku kemudian menekuk kakinya, aku berlutut, memposisikan senjataku tepat di lubang kemaluannya. Baru ujungnya yang bertemu Kak Putri sudah menjerit.

"Aaahhh....Izz...nikmat banget. Kontolmu itu diapain sih?? enak banget," katanya.

"Cuma disunat doang kak, nggak ada apa-apa," kataku.

Kedua kakinya kini berada di pinggangku. Aku kemudian mendorongnya perlahan-lahan. Aoouuuhhh..mulai masuk, memeknya udah becek. Gila baru setengahnya aja rapet banget. Kak Putri melengkungkan badannya. Aku kemudian menarik kemaluanku, kemudian kudorong lagi, tarik dorong, tariikk dorooong.....akhirnya semuanya masuk. Batang kemaluanku benar-benar seperti diremas-remas. Entah sengaja atau tidak kak Putri menggeliatkan badannya kiri atau kanan. Aku kemudian ambruk ke atas tubuh Kak Putri. Aku bertumpu dengan kedua tanganku sambil memeluknya. Tanganku kini ada di punggungnya.

"Iz...penis lo, uuhhh..penuh banget. Sampai nyentuh rahimku...ouuuhh!" katanya. 

"Enak banget kak, seperti diremas-remas," kataku.

"He-eh, goyang dong. Yang lembut ya, aku ingin merasakan semuanya," katanya.

Entah kegilaan apa ini, yang jelas kami berdua bercinta dan benar-benar ingin merasakan kenikmatan bersama. Pantatku bergoyang naik turun. Dan pinggul Kak Putri berputar-putar seperti mengobok-obok penisku. Dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sangat gatal di ujung penisku. Sesuatu yang ingin sekali menyeruak keluar. 

"Kak, kayaknya aku mau sampe," kataku.

Tiba-tiba pinggangku dicubit dengan sangat keras. 

"Aaaaahhh!" jeritku.

"Ntar dulu!" katanya. "Sedikit lagi"

Entah kenapa tiba-tiba pejuhku nggak jadi keluar. Kak Putri kembali memutar-mutar pinggulnya. Aku keenakan lagi. Segera aku goyang lagi. Makin cepat dan makin cepat.

"Iz, keluarin di dalem nggak apa-apa, aku kosong hari ini," katanya. "Sekarang kita keluar bareng yuk, aku mau nyampe nih."

"Kak....ohhh...,"

"Izz...Faizz....enaaaakk....terusss.....ssshhh "

"Ahhh...akhhh....aaaaakhhhh!!!"

"Faiiizzz...oooohhh,...adikku ngentotin mbaknya sendiri....oohhhh...keluar...pejumu....uuuhhhh...a nget Iizzz!!" rancau kakakku.

Spermaku menyembur di rahimnya. Entah berapa kali tembakan yang jelas aku benamkan sedalam-dalamnya penisku di kemaluannya. Tak kucabut hingga spermaku habis ditelan oleh kemaluan kakakku. Nafasku terengah-engah. Aku cium kakakku berkali-kali. Wajahnya terlihat puas. Perlahan-lahan aku mencabut penisku...PLOP, sebuah bunyi lucu terdengar ketika seluruh batangku keluar dari sarangnya. Spermaku meleleh dari lubang memek kakakku itu.

Dia meringkuk, menikmati sisa-sisa orgasme yang menyerangnya tadi. Aku berbaring di sampingnya. Kak Putri memejamkan matanya. Aku mendekat di samping tubuhnya dan memeluknya. 

"Kak?!" panggilku.

"Ya, ada apa?" tanyanya lemas.

"Jangan kita ulangi lagi ya," kataku.

"Kenapa?"

"Aku takut kak, ini nggak bener, masa' kakak sendiri aku gituin? Ntar klo hamil gimana? berabe kan?"

"Biarin ajah, nggak usah dipikirkan!"

Kak Putri lalu memelukku, Kini kami berguling dan dia ada di atas tubuhku. Menyandarkan kepalanya di atas dadaku. Ia membelai dadaku. Setelah itu suasana hening sejenak. Aku hanya menatap langit-langit kamar. Sambil sesekali mencium kepala kakakku. Entah kenapa aku hari itu ada perasaan khusus kepadanya, seperti takut kehilangan dirinya. Sesuatu perasaan yang aneh. Kak Putri lalu beringsut ke atas, hingga kini kepalanya sejajar dengan kepalaku.

"Kamu marah ya?" tanyanya.

"Nggak, kenapa?"

"Habis, kamu diem. Nggak usah khawatir. Aku rela koq kalau kamu yang melakukannya. Aku sudah sejak dulu suka ama kamu Faiz. Aku mungkin juga cinta ama kamu. Memang ini kaya'nya aneh, kakak cinta ama adiknya sendiri tapi aku tak bisa menyembunyikannya. Awalnya aku menampik semua perasaanku. Aku pun punya pacar, tapi akhirnya ketika kemarin aku tahu dia selingkuh hilang sudah kepercayaanku ama cowok."

"Kemarin waktu aku anter ke tempat kost cowok itu?"

"Iya, waktu aku ke sana aku mergokin mereka berdua sedang empot-empotan di atas ranjang, bete' merasa dikhianati."

"Tapi, kak. Aku tak bisa mencintai kakak. Aku tetap menganggap kakak sebagai kakakku, sebagai saudara."

"Nggak apa-apa. Aku tak mengharapkan balasan dari cintamu Faiz. Aku sepertinya punya kelainan. Suka ama saudara sendiri. Terutama kamu."

Kak Putri mencium bibirku lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Bingung. Senang sih punya kekasih seperti Kak Putri, tapi dia saudaraku sendiri. Apalagi apa yang kami lakukan ini tabu di masyarakat.

"Faiz, janji kepadaku!" katanya.

"Janji apa?" tanyaku.

"Kau jangan ceritakan ini kepada siapapun!" katanya.

"Iyalah, masa' aku ceritain? Gila apa?" kataku.

"Makasih, sama satu lagi!" katanya.

"Apa?"

"Kalau kamu kepengen, silakan aja bilang ke aku. Aku hari ini menganggapmu sebagai pacarku. Kan kamu baru patah hati, jadi nggak apa-apa kan? Anggap aja aku sebagai pacar."

"Nggak ah, kamu tetep kakakku!" kataku bersikeras.

"Udahlah pliiiss...kamu tak tahu rasanya dikhianati sih!" Kak Putri tiba-tiba menangis. "Sakit tahu. Plis ya, aku tak mau seperti ini terus. Kamu yang bisa bikin aku kuat Iz."

Aku tahu ini salah, tapi...kakakku butuh bantuan aku sekarang dan hanya aku yang bisa menenangkan dia. Jadi pacarnya? Rasanya sedikit absurd, tapi aku pun berkata, "Ya sudah, aku bersedia."

"Terima kasih adikku!" kak Putri menciumku lagi. 

Aku menghela nafas. Kami tetap berpelukan. Malam kian dingin dan larut. Tak ada lagi suara di kamar Kak Putri. DIa pun mematikan lampunya, kami sekarang dalam kegelapan. Selimut tebal telah menutupi tubuh kami. Malam ini aku tidur di kamar Kak Putri. Kamarnya rapi, ada beberapa poster Hello Kity di dindingnya bisa kulihat poster itu menyala dalam gelap. Aneh anak ini. Aku tak bisa tidur. Dalam benakku selalu terbayang Vira. Kalau Vira tahu apa yang aku lakukan dengan Kak Putri hari ini ia pasti bakal marah. 

Aku melihat ke arah Kak Putri, matanya masih terbuka. Ia juga tak bisa tidur rupanya. 

"Kau tak bisa tidur?" tanyaku.

"Iya," katanya.

Aku entah kenapa iseng aja, memencet-mencet putingnya. Payudaranya yang montok itu aku remas-remas dengan lembut. Ternyata remponanku itu bereaksi. Suara keluhan mulai terdengar lagi.

"Faiz, kalau kau gituin enak banget, uuuhhhh....ssshhh," katanya. 

Aku kemudian menyusu ke susunya lagi. Ronde dua pun dimulai. Lagian baru saja perjakaku hilang ama kakakku sendiri. Aku kemudian beranjak ke atas dan aku lumat bibirnya yang seksi itu. Lehernya yang jenjang pun aku hisap. 

"Faiz, Jangan keras-keras. Aku tak mau kelihatan cupang besok pagi," katanya. Aku pun menurut. Kuhisap lembut lehernya. Kak Putri melenguh lagi. Ia meremas rambut kepalaku.

Tiba-tiba kak Putri langsung berguling di atas tubuhku. 

"Ganti posisi yah," katanya.

Aku menurut saja. Dia lalu berjongkok di atas selakanganku. Penisku dikocok lembut, karena sudah tegang lagi dan keras. Ia pun menduduki penisku dan benda panjang besar itu meluncur masuk ke memeknya yang masih seret rupanya. 

"OOhh...Faiz, enak banget!" katanya. 

Kak Putri kemudian bergerak naik turun. Dia bertumpu kepada perutku dan sesekali mengusap dadaku. Tanganku bergerak ke atas, ke dadanya dan kuremas-remas dua bongkah payudara putih yang menggiurkan itu. Kak Putri goyangannya sangat pro, sesekali ia berputar-putar, mengakibatkan penisku seperti dikocok dan diobok-obok. Cukup lama Kak Putri ada di tas dengan posisi seperti itu. Hingga kemudian ia sedikit mengubah posisi. 

Tanpa mencabut penisku, kak Putri memutar badannya sehingga membelakangiku. Penisku serasa dipelintir, tapi nikmat. Dan aku kini hanya melihat tubuh bagian belakangnya dari pantatnya hingga punggungnya. Rambutnya yang panjang tergerai. Dan Kak Putri pun bergoyang. Aku seperti menyetubuhinya dengan gaya doggy style. Aku pegang pantatnya dan sesekali memukulnya. Kak Putri menjerit.

"Nakal kamu Iz!"katanya.

"Kak, enak banget!" kataku.

"Kakak mau nyampe lagi," katanya.

Kak Putri menghentikan aktivitasnya dan beristirahat. Ia lalu mencabut penisku. Perlahan-lahan dengan merangkak ia berbaring di sebelahku. Aku kemudian bangkit. Aku menindihnya dari atas sedangkan dia tengkurap. Kuposisikan penisku ke memeknya dari belakang. SLEB!

"Aww...Faiz,....entotin kakak yah?" katanya.

"Iya kak, Faiz ngentot kakak sekarang," kataku.

Kugoyang pantat kakakku ini. Ohh...nikmat sekali. Aku naik turun memacu penisku dengan kecepatan tinggi. Penisku sudah ingin segera meledak keluar. Kak Putri sepertinya juga merasakannya. 

"Terus Izzz.....keluarin! ayoo...aaaahhh!!!" katanya. 

Dan spermaku pun keluar di memeknya. Kuhujamkan sedalam-dalamnya. Akhirnya aku pun lelah, ambruk di sebelahnya. Nafasku terengah-engah lagi. Kami lalu tidur sambil berpelukan setelah menghabiskan dua ronde dengan penuh kenikmatan.

***

"Putri??!!" panggil bunda. 

Aku terbangun, kaget karena aku tak melihat kamarku. Aku baru tersadar kalau aku ada di kamar Kak Putri ketika aku melihat ia sedang tidur dan menggeliat di atas dadaku. Ia pun bangun. Matanya melihatku, lalu dengan ekspresi terkejut dia menutupkan telunjuk ke bibirnya.

"Putri!!? Ini sudah jam sembilan lho. Nggak pergi kuliah?" 

"Iya bunda, aku kaya'nya di rumah aja deh. Lagi males pergi ke kampus," jawabnya.

"Lhoo, koq gitu. Kuliah itu bayarnya mahal nak. Nggak boleh seperti itu. Nanti kamu dimarahi ayah lho," kata bunda. 

"Iya iya," kata Putri.

"Sarapannya ada di meja makan. Sebelum makan mandi dulu!" kata bunda. 

"Iya bunda, iyaaa!" kata Putri.

Lalu terdengar suara langkah beliau meninggalkan pintu kamar.

"Gila, hampir copot jantungku!" kataku.

Kak Putri malah ketawa cekikikan. Ia kemudian bangun dan menuju ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar tidurnya. Aku bergegas menyusulnya. Entah mungkin karena melihat kesemokan pantatnya sehingga aku horni. Aku segera sergap kak Putri di kamar mandi. Ia pun mengerti maksudku.

"Ih, bangun tidur langsung nyosor," katanya.

"Biarin, mumpung gratis!" kataku.

Kepalaku digetok pake gayung. 

"Biarpun gratis aku bukan cewek gampangan lho!" katanya. 

Aku langsung menciumnya. Ternyata kak Putri itu lemah dengan ciuman. Ketika aku lumat bibirnya sudah lemas. Seolah-olah memasrahkan dirinya untukku. Aku kemudian memepet dirinya, kudorong tubuhnya hingga menempel ke tembok. Tangannya memeluk leherku. Kuangkat kaki kirinya dan aku memasukkan penisku yang sudah On. BLESS...nggak susah. Apa mungkin karena Kak PUtri juga horni? Segera aku genjot dia. Kami berpelukan erat. 

"Ohh..Faiz...hmmhh...."

"Kaakk...ohhh...!"

Di kamar mandi itu pun aku akhirnya bercinta lagi dengan kakakku. Dengan posisi seperti itu saja aku sudah benar-benar bisa ejakulasi di dalam memeknya. Kami akhiri pagi itu dengan mandi bersama. Otomatis acara mandi kami penuh nafsu. Berisi belaian, ciuman, rabaan, setelah itu kami berpakaian. Aku pun kembali ke kamarku. Hari ini bolos sekolah ah. 


(bersambung......)

Do'ain saya sehat selalu ya, ini ngetik juga sambil gemeter. Tangannya masih ngilu buat ngetik.

NB :
berhubung grup fb kemmarin telah dihapus maka kami migrasi ke grup baru
yang mw join silahkan ke link >> https://www.facebook.com/groups/zendiri/?ref=bookmarks

Bersambung ke
Episode 04 [Move on]
More aboutAnak Badung Season 2 Bagian.03 [Curhat ke Kakak]

Anak Badung Season 2 Bagian.02 [Aku mencintai kalian]

Posted by Unknown


Hari esoknya aku merencanakan bakal nembak Vira duluan. Aku pun mempersiapkan semuanya hari itu. Mulai dari hadiah, bunga dan lain-lain. Pandu sama sekali tak tahu rencanaku. Sengaja hari itu aku bertingkah seperti biasa. Tapi ketika aku bertemu dengan Vira, pandangan mata kami mengisyaratkan sesuatu. Aku pun berdebar-debar hari itu. 

Bagai seorang petinju. Aku sedang galau. Galau misalnya nanti Vira nolak aku. Tapi aku tetap yakin aku pasti bisa dapatin Si Vira ini. Aku meng-SMS Vira ke nomor ponselnya. 

"Jangan lupa nanti aku jemput ya?"

Dia pun membalas

"Iya, jemput jam enam?"

"Oke."

Pandu sore itu tak pergi ke mana-mana, mobilnya bisa aku pakai malam itu. Karena jam sudah menunjukkan pukul lima aku pun berangkat. Dengan pakaian necis, parfum yang sangat wangi, khas parfum pria, setangkai mawar merah dan sebuah kotak perhiasan yang berisi kalung aku bawa. Melihat aku berdandan seperti itu Kak Putri keheranan.

"Mau kemana lu?" tanyanya.

"Mau kencan dong," jawabku. "Udah ya!"

"Eh..eit..tunggu! Kakak ikut!" katanya.

"Hah? Ikut? Ikut kencan? Ogah ah. Bisa rusak suasananya nanti!"

"Siapa mau ikut kencan? Dasar dodol!" Kak Putri menonyor kepalaku. 

"Aduh!"

"Anterin kakak ke rumah temen!"

"Temen apa temen hayoo?"

"Rese', udah ah. Bentar tunggu kakak dulu!"

"Aku tinggal!"

"Kalau lu berangkat tanpa aku, awas aku laporin ama ayah kalau kamu gunain mobil buat kencan ama cewek!"

"Waduh, koq tega sih?"

"Makanya tunggu!"

"Ya sudah deh."

Aku pun menunggu Kak Putri berdandan. Kurang lebih sepuluh menit kemudian dia sudah memakai jilbab, celana casual, kemeja dan jaket jins. Aku garuk-garuk kepala. Pake Jilbab tapi seksi amat? 

"Ayo berangkat!" 

Aku pun berangkat bersama kakakku. Dalam hati aku pun menggerutu, kenapa nggak naik taksi aja sih? Rumah teman Kak Putri cukup jauh, sehingga aku menghabiskan waktu setengah jam sendiri sebelum sampai ke rumah Vira. Tapi aku agak aneh melihat bangunan rumah kost teman Kak Putri ini. Bukannya itu tempat kos cowok? Ah, whatever. Aku pun segera pergi ke rumah Vira setelah itu.

Tepat pukul enam petang aku tiba. Aku lalu turun dari mobil. Vira langsung muncul dari dalam rumah. Alamaaak...ini manusia apa bidadari sih? Cakep banget. Dia memakai gaun berwarna biru. Sepatu hak tinggi, dan rambutya dibiarkan tergerai. Sebuah tas kecil tampak ia bawa dengan tangan kanannya.

"Hai," sapaku.

"Hai. Lumayan, tepat waktu," katanya.

"Iya dong," kataku.

"Berangkat?" tanyanya.

"Oh, sebelumnya. Aku ingin ngasih sesuatu ama kamu," jawabku.

"Apa itu?" Vira tersenyum kepadaku.

Aku mengeluarkan setangkai bunga mawar berwarna merah. Vira tertawa geli. 

"Apaan sih?"

"Ini aku nembak kamu, masa' kamu nggak sensitif sih?"

Dia menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Aduuhh... Faiz, Faiz."

"Vir, aku suka ama kamu, sejak pertama kali ketemu di Orientasi sekolah itu, aku sudah suka ama kamu. Tahu nggak sih selama setahun lebih aku suka ama kamu?" 

Vira terdiam. Ia mulai melihat kesungguhan dari sorot mataku.

"Sebentar, aku kira kita mau jalan. Koq malah jadi ajang penembakan gini sih?" kata Vira. Damn, cakep banget dia malam ini. Kamu kalah Pandu, kamu kalah. Aku yang menang! 

"Terima aja deh bunganya. Udah aku siapin lho, sampe toko bunganya aku beli juga," gombalku.

"Gombal, tapi terima kasih bunganya!" Vira menerima bungaku. "Nggak beracun kan kalau aku hirup?"

"Beracun, ntar kamu bisa mati," kataku.

Vira tertawa manis. Alamak, kalau dia terus-terusan ketawa macem gini, aku bisa pingsan di tempat deh melihat wajahnya yang cute itu. Dia menghirup bunganya. Wangilah. Dia melirik ke arahku.

"Tapi aku belum bisa jawab sekarang, nggak apa-apa kan?"

Hah? Waduh....kenapa?

"Kenapa?" tanyaku.

"Ya, nggak apa-apa. Gimana bisa jawab. Ada dua orang tampan, kaya, yang sama-sama jatuh cinta ama aku. Dan sama-sama nembak aku," kata Vira.

Ebuset. Siapa?

"Siapa?"

"Pandu ama kamu, tapi aku tahu koq kalau kalian sudah ngejar aku dari dulu. Aku tetap menganggap kalian sahabatku. Kalian adalah teman-temanku. Pandu hari ini nembak aku di sekolah. Aku belum bisa jawab. Eh, malemnya kamu juga nembak aku. Kalian ini dua saudara yang kompak ternyata," kata Vira.

Sialan. Si Pandu udah nembak duluan ternyata. Kalah lagi. Aku pun menampakkan muka kecut.

"Jadi kita jalan?" tanya Vira.

"Ya jadi dong, kalau kamu tak keberatan," jawabku.

"Kalau keberatan aku biasanya naruh barangnya," celetuk VIra.

"Kalau kamu berat, sini aku angkat," balasku.

Kami pun tertawa lepas. 

Selama kencan itu, tanganku tak terpisahkan dari tangan Vira. Aku begitu erat menggenggam tangannya. Pdahal dia belum ngasih jawaban mau nerima aku apa nggak. Kami nonton bioskop kemudian disusul makan malam. Kemudian saat jalan-jalan seseorang menelponku. Dari Danny.

Danny ini anak orang kaya juga, sering nantang aku balapan liar. Katanya dia barusan punya mobil baru, Lotus Elise Exige Roadster 2013.

"Hai Dan? Ada apa?" tanyaku.

"Kamu ada di luar kan? Aku telpon saudaramu katanya kamu sedang di luar," kata Danny.

"Iya, kenapa?" tanyaku.

"Aku tantangin balapan nih. Satu lap aja. Sekalian mau ngetes mobil baru. hehehehe."

"Mobil Lotus milikmu?" 

"Iya dong. Gimana?"

"Taruhannya apa?" tanyaku.

"Sepuluh juta? Kecil kan?"

"Siapa takut, sekarang?"

"Iya dong. Aku tunggu di jalan tol."

Danny kemudian menutup telponnya.

"Vir, ikut dulu sebentar yuk. Kita mau balapan," kataku.

"Hah? Faiz, nggak bahaya tuh?"

"Udah tenang aja. Aku pasti menang koq," kataku.

Aku pun melajukan mobilku memecah udara malam. Tak lama sih, hingga akhirnya aku sampai di dekat jalan tol. Tempat di mana aku bertemu dengan Danny. Kami pun sampai. Di sana ternyata sudah menunggu banyak orang. 

"Woii...datang juga," kata Danny.

"Hai, apa kabar?" aku melakukan tos dengan Danny. 

"Wah, bawa gebetan lu?" tanya Henri. Dia ini bandar balapan liar. 

"Sshh...Hari ini mau aku tembak," kataku.

"Ohh..belum resmi, I see," kata Henri.

"Gimana? siap?" tanya Danny.

"Siap, sudah full tank. Satu lap kan? Yakin bisa ngalahin aku satu lap?" tanyaku.

"Ayo buktikan saja!" kata Danny.

Aku segera masuk ke mobil. Danny pun juga masuk ke mobilnya. Mobil Lotus-nya cukup keren. Entah dia beli dengan harga berapa. Yang jelas pasti hampir nyentuh 1 M atau lebih mungkin. Kemudian kedua mobil bersiap untuk masuk ke jalan tol. Yang menjadi pemberi aba-aba adalah Si Henri. 

"Oke, siapa yang sampai duluan di kilometer lima, maka dia yang menang. Kita sekarang ada di kilomoter dua puluh. Mengerti ya? Ayo!" kata Henri.

Dia mengangkat sapu tangannya. Aku sudah bersiap. 

"Kamu yakin Iz?" tanya Vira.

"Udah nggak apa-apa, pasang sabuk pengaman! Kalau kamu takut, tutup mata aja. Aku akan melindungimu sampai garis finish," kataku.

Vira pun memasang sabuk pengaman. Aku kemudian memasukkan gigi satu. Bendera diturunkan oleh Henri, aku segera menancapkan gas sedalam-dalamnya. Mobil Danny dan aku pun sama-sama seperti melompat. Yup, kami sudah berpacu dalam kecepatan tinggi. Vira sepertinya agak ketakutan melihat betapa cepatnya mobil ini melaju. Kecepatannya sudah lebih dari 100km dan terus naik. Dia mencengkram lenganku. 

"Izz...Faizzz!!!!" jeritnya. Aku melewati sebuah truk gandengan, kemudian langsung melesat ke belakang bis, lalu mengambil arah kiri, kanan lalu melesat mendekati mobil LOtus yang sudah ada di depanku. Paling tidak sekarang si Danny kebingungan karena aku dan mobilnya bisa seimbang. 

Mobil ini sudah aku modif bersama Pandu. Kuberi mesin turbo. Dan tentu saja satu lagi aku memasang NOS. Aku membuka sebuah kotak yang ada di dekat kemudi dan aku tekan tombol itu. Seketika itu mobil langsung melaju lebih cepat. Aku melihat Vira memejamkan mata. Jantung kami berpacu lebih cepat. Sedangkan mobil Lotus sudah jauh di belakang. Singkatnya malam itu aku menang balapan. Kami berkumpul lagi di tempat semula. Danny berkacak pinggang sambil menggeleng-geleng.

"Kalau aku tahu kamu pake NOS nggak bakal aku tantang kamu pake ini, dasar," kata Danny.

"Oke, silakan transfer ke rekening biasa. Kau sudah tahu kan?" tanyaku.

"Iya, iya, lain kali aku akan balas," kata Danny.

"Silakan saja, anytime bro!" kataku. 

Vira yang masih shock menyandarkan tubuhnya di mobil sambil minum air mineral botol. Aku menghampirinya. 

"Malam yang hebat kan?" tanyaku.

"Gila, kalau tahu aku tadi bisa melacu 200km/jam, nggak bakal deh aku jalan ama kamu," kata Vira.

"Sorry, kalau aku membuatmu shock," kataku.

"Jangan ulangi lagi," katanya.

"Oke, aku janji," kataku.

"Tapi, itu tadi pengalaman yang paling mendebarkan dalam hidupku. Kapan-kapan kau boleh koq paksa aku lagi," Vira mengedipkan mata.

Aku tertawa geli. Menurutku itu adalah wajahnya yang paling kyut yang pernah aku lihat.

Pukul setengah sebelas aku nganter dia pulang. Acara malam itu kami habiskan dengan banyak bercerita dan bercanda. Dan tibalah kami akan berpisah.

"Vira, sebentar!" kataku. 

Vira yang hendak masuk ke rumahnya itu berhenti dan berbalik. Aku mengeluarkan sbuah kotak yang aku hadiahkan untuk Vira. Kotak perhiasan berisi kalung. 

"Apaan sih?" tanyanya.

"Ini buat kamu, buka aja!" kataku.

Ia menerima kotak itu. Dan ia sangat takjub. Tentu saja. Itu kalung perhiasan yang aku beli dari uang sakuku sendiri. 

"Oh tidak, Faiz. Ini terlalu berharga. Aku tak bisa menerimanya, pasti mahal," katanya.

"Nggak apa-apa, terima aja!" kataku.

"Tapi...." jari telunjukku menyentuh bibirnya. 

Sekelebat kemudian bibirku sudah menempel di bibirnya. Kedua pasang mata kami terpejam. Terus terang itu reflek. Entah kenapa aku bisa menciumnya malam itu. Dadaku berdebar-debar. Tentu saja. Saat bibir kami berpisah dengan perlahan-lahan, mata kami kembali terbuka. Aku kemudian membuka kotak perhiasan itu dan memakaikan kalung tersebut ke leher Vira. Setelah first Kiss kita itu, Vira tak berkata apapun. 

"Sorry, kalau aku tak menciummu sekarang, aku tak tahu kapan lagi akan menciummu. Seandainya kau lebih memilih Pandu, aku rela koq. Memang kita selalu bersaing. Tapi, aku tetap berharap kau bisa menerimaku dan memilihku," kataku. 

Vira mengusap pipiku. 

"Makasih ya malam ini, sebenarnya aku mencintai kalian berdua. Dan sekarang kalian memberikan aku pilihan yang tersulit dalam hidupku. Tapi, kau bertindak lebih dulu menciumku. Ini first kiss kita, aku tak akan pernah melupakannya seumur hidupku. Aku sekarang bingung memilih siapa, Kalian jahat!" kata Vira. 

Aku tersenyum hingga gigiku kelihatan. 

"Sampai besok?" tanyaku.

"Mungkin malam ini aku mati saja deh," kata Vira.

"Lho, koq?"

"Ciuman tadi hampir bikin jantungku copot tahu?!"

"Mau lagi?"

"Ih, maunya. Kamu lakuin lagi aku tabok...!"

Aku dengan gerak cepat menciumnya lagi. Tentu saja Vira gelagapan. Tapi ia pun akhirnya menyerah. Kami akhirnya berciuman sambil berpelukan. Dan kali ini lidah kami yang bicara. Dari ciuman biasa hingga kemudian french kiss. Aku lalu melepaskannya. 

"Udah, dibilang kalau kamu lakuin lagi bakal aku tabok. Nih!" Vira pun menamparku.

"Aww...!" sakit, panas terasa di pipi.

"Lain kali jangan lakuin lagi. Kalau mau nyium ngomong dong!" kata Vira.

"Boleh nyium lagi?" tanyaku.

"Ngga...hhhmmmhh..." belum sempat ia berkata, aku sudah menciumnya lagi. Tapi tak selama sebelumnya.

Wajah Vira memerah. "Ishh..udah ah, kalau tetep di sini ntar bibirku dibawa pergi ama kamu. Udah sana pergi, ntar ketahuan bokapku tau rasa kamu."

"Hihihihi, sekalian saja deh sini aku lamar kamu," kataku.

"Ogah....dibilang tunggu jawabannya koq udah nyosor duluan," kata Vira.

"Oh, jadi masih belum ada jawaban toh? kukira sudah. Koq tadi nggak menolak aku cium?"

"Soalnya, ciumanmu maut!" goda Vira.

Ia segera bergegas masuk ke rumah dengan wajah memerah. 

Aku segera melompat-lompat, senang sekali hari itu. Berkali-kali aku berpose Yes, Yes Yes! Segera aku pulang. 

Hari sudah larut ketika aku sampai di rumah. Dengan bersiul-siul aku masuk ke dalam rumah. Dengan wajah kemenangan aku pun segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri. Dan tentu saja. Wajah Vira yang baru saja kucium selalu terbayang hingga terbawa mimpi.

NARASI VIRA

Aduh......gimana ini...aku barusan dicium ama Faiz. Dia keren sih, ganteng, cakep, tajir, tapi saudaranya juga naksir aku. Sama-sama ganteng, cakep, tajir pula. Gimana dong? Moga aja tadi ciumannya nggak dilihat ama orang rumah, bisa berabe ntar.

"Siapa itu?" tanya ayah. Dia ternyata berdiri di jendela. Alamaaak, jadi ayah tahu semua. Mateng aku.

"T..temen koq yah," jawabku.

"Temen koq sampe pake ciuman segala?" tanyanya. 

"Tadi nggak sengaja, itu kecelakaan," kataku.

"Kecelakaan? Koq sampe tiga kali?" 

"Hush,...udah yah, kaya' nggak pernah muda saja. Beruntung toh, si Vira dapat cowok anaknya konglomerat," ternyata ibu juga ada di sebelah ayah. Jadi selama ini tadi mereka melihat.

"Tapi ya nggak bisa gitu dong bu, masa' ciuman di luar?" tanya ayah.

"Apa bapak mau lihat mereka berdua ciuman di rumah ini?" tanya ibu.

Ayah tampak menampakkan wajah nggak suka.

"Ayah, ibu, udah. Vira mau tidur dulu. Emang dikira apaan?" dengan wajah malu aku pun segera pergi ke kamar.

Aku lalu mencopot gaun yang kupilih malam ini. Sesekali aku melihat kalung pemberian Faiz. Agaknya aku lebih memilih Faiz daripada Pandu. Faiz romantis, tapi Pandu tidak begitu. Pandu bicara apa adanya, tapi Faiz lebih lembut. Tapi, aku dari dulu naksir ama Pandu, bukan ama Faiz. Namun apa yang dilakukan Faiz hari ini, membuatku menilai Faiz lebih baik daripada Pandu. Keduanya bukan orang yang playboy sih, walaupun banyak cewek yang naksir. Bibirku....masih serasa bagaimana lidah dia membasahi bibirku. Ohh...tuhan....kenapa aku jadi memikirkan Faiz???

Faiz....kamu mimpiin aku nggak? Maaf Pandu, sepertinya aku harus memilih Faiz. 

Hari Sabtu. Rencananya malam ini aku akan diajak keluar oleh Pandu. Aku hari ini berencana untuk memberikan jawaban kepada Pandu yang kemarin sudah menembakku. Kemarin ketika pulang sekolah aku bertemu dengan dia. Cara nembaknya beda dikit ama Faiz. Dia sama memberikan bunga kepadaku dan dia memberikanku hadiah coklat. Tapi aku tak suka coklat. Aku menerima saja hadiah itu tapi setelah itu aku berikan kepada teman-temanku. Aku bilang jawabannya nunggu besok. 

Memang aku banyak yang dekati. Nggak cuma Pandu sama Faiz saja. Anak-anak cowok seangkatanku juga banyak yang dekati, tapi aku jual mahal dan cuek. Mereka cuma mendekati aku tapi tak pernah nembak aku. Beda dengan Pandu ama Faiz. Mereka entah darimana berani nembak senior mereka sendiri. 

Namun entah kenapa hari ini aku dikejutkan dengan kabar dari Pandu. Dia pingsan saat jam pelajaran sedang berlangsung. Kenapa? Sebagai orang yang juga mencintainya, aku pun segera bergegas ke ruang UKS ketika jam istirahat datang. Saat itulah aku melihat seseorang yang tak aku kenal. Rambutnya berwarna putih keabu-abuan, namun tercukur rapi. Badannya tegap dan dia sedang berbicara dengan Faiz. Dari baju kemejanya yang necis dan sepatu hitamnya yang mengkilat, aku yakin dia pasti ayahnya Faiz. Seorang konglomerat yang menjadi dua puluh besar konglomerat di negeri ini. Doni Hendrajaya. Tapi kenapa sampai datang ke sekolah? 

Aku pun menguping pembicaraan mereka.

"Faiz, sepertinya ayah ingin mengubah keputusan ayah," kata ayahnya Faiz. 

"Keputusan apa?" tanya Faiz.

"Ayah sebenarnya memang berpesan kepada pihak sekolah kalau-kalau Pandu pingsan secara tiba-tiba seperti ini. Sejak kecil Pandu menderita kelainan pada otaknya. Karena kelainan itulah dia selalu sakit-sakitan. Hilang keseimbangan dan seterusnya. Sebenrnya kita sudah menggunakan hampir semua cara untuk menyembuhkannya. Dokter dulu hanya mengatakan bahwa dia akan sehat-sehat saja sampai usia dua puluhan. Kalau misalnya kurang dari itu maka dia tak akan bisa ditolong lagi. Pandu sekarang ini sedang sekarat dan aku tak bisa menyerahkan perusahaan ini kepada dia. Aku ingin engkaulah yang memegangnya," kata ayahnya Faiz.

"Hah? Ayah, ini nggak salah? Aku? Kenapa harus aku? Pandu yang lebih berhak! Dia...dia...."

"Aku tahu, Pandu yang seharusnya memiliki semuanya, tapi aku tak mungkin menyerahkan semua ini kepada orang yang sakit, ketahuilah itu. Aku tak tahu berapa lama lagi Pandu akan bertahan dengan keadaannya ini. Aku sangat bersedih, Faiz."

Melihat ayahnya berkaca-kaca Faiz lalu memeluknya. Aku tak menyangka kalau Pandu sakit dan sedang sekarat. 

"Tapi ini terlalu mendadak ayah, aku masih berharap setelah aku lulus aku bisa memikirkan hal ini, tapi..."

"Aku tahu, ini berat. Selesaikan saja sekolahmu, setelah itu kamu akan aku ajari untuk mengatur semuanya. Paling tidak, berikanlah kehidupan yang baik di saat-saat terakhirnya. Jangan tampakkan wajah sedih. Semuanya sudah aku beritahu tentang Pandu. Aku sebenarnya menyimpan hal ini sudah sangat lama. Hingga sekarang aku bisa mengatakannya. Ingat, berikanlah kebahagiaan kepada Pandu. Kau menyayangi saudaramu bukan?"

"Iya, tentu saja. Aku sangat menyayanginya."

"Ya sudah ayah tinggal dulu. Ingat, jangan pernah kau tampakkan kesedihan. Buatlah hari-hari Pandu penuh dengan kebahagiaan."

Setelah itu Pak Hendrajaya pergi dengan wajah murung. Aku hanya melihat Faiz sendirian berdiri merenung. Dan ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku terkejut. Melihatku berdiri di sini ia segera menghampiriku.

"Kau dengar semuanya?" tanya Faiz.

Aku mengangguk. 

"Aku tak menyangka Pandu seperti itu keadaannya," kataku.

"Aku juga tak menyangka," kata Faiz.

"Aku sudah putuskan Faiz. Hari ini aku akan memberikan jawaban," kataku. 

"Jawaban?"

"Iya, aku hari ini akan memberikan jawaban kepada Pandu kalau aku lebih memilihmu."

Tiba-tiba Faiz mencengkram pundakk hingga aku hampir saja terhuyung. "Vira, kamu tak tahu keadaan Pandu?"

"Iya, aku mengerti."

"Kalau kau mengerti, seharusnya kamu tahu kalau kau mengatakan itu kepada dia akan lebih membuatnya shock. Tahukah kamu ia sangat mencintaimu. Sama seperti aku. Aku takut kalau kau menolak cintanya ia akan tambah parah sakitnya."

"Tapi Faiz, aku mencintaimu. Aku sadar sekarang engkaulah cintaku. Dan aku sangat mencintaimu. Engkaulah yang aku pilih. Apa kamu ingin memaksaku mencintai Pandu sedangkan aku tak mencintainya?"

"Vira, aku juga mencintaimu sangat mencintaimu. Tapi aku tak tega melihat kondisi Pandu seperti ini. Kami bermain bersama, kami tumbuh bersama, kami melakukan kenakalan bersama. Aku tak tega kalau hatinya sampai rapuh karena dirimu."

"Tapi, engkau bilang kalian bersaing secara sehat? Kalau kamu menyerahkan kemenanganmu kepada dia, maka sia-sia saja perjuanganmu selama ini."

"Ini semua demi Pandu. Ia saudaraku. Apa yang harus aku lakukan kepada dia? Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan dia, Vira."

Aku langsung memeluk Faiz. Aku mendekap dia sangat erat. Faiz pun kemudian membalas pelukanku. Diusapnya rambutku dengan lembut. 

"Maafkan aku Vira, maafkan aku. Tapi aku mohon, biarkan Pandu menang. Biarkan dia bisa merasakan kebahagiaan dengan cintamu," kata Faiz.

"Tapi, apa kamu tak memikirkan aku? Bagaimana aku bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai?" aku pun menangis. Faiz memegang wajahku. Kami bertatapan. Dan dia menciumku lagi. Ciuman bibirnya yang sangat lembut, ciuman yang penuh cinta yang berbeda dari tadi malam. Ciumannya kali ini seperti ciuman perpisahan. Lama dan aku tak ingin melepaskan bibirnya itu. Tapi....dia pun menyudahi ciumannya. 

"Maafkan aku Vira. Sungguh aku sangat mencintaimu, tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang?" kata Faiz. 

Aku memegang wajah Faiz, mengusap pipinya dengan lembut. Dia pun mencium tanganku. Menghirup parfum yang ada di tanganku. Oh...aku sangat mencintainya. Kenapa ini semua bisa terjadi? Apakah memang aku dan Faiz tak ditakdirkan untuk bersama? Tapi...kalau memang Faiz yang aku cintai menginginkan ini, aku akan melakukannya. 

"Kalau memang engkau menginginkan ini, maka aku akan melakukannya Faiz. Hanya saja, aku melakukan ini karena semata-mata aku mencintaimu. Maka setiap kali ketika aku mengatakan mencintai Pandu nantinya, sesungguhnya aku mengatakan itu untukmu. Setiap kali nanti dia menciumku aku akan menganggap engkaulah yang menciumku. Setiap pelukan dia nanti, aku akan menganggap engkaulah yang memelukku. Engkaulah hidupku Faiz. Engkau, bukan dia."

"Oh...Vira, maafkan aku!" kata Faiz. 

Kami pun berpelukan. Sedih rasanya. Tapi inilah keputusanku.
NB :
berhubung grup fb kemmarin telah dihapus maka kami migrasi ke grup baru
yang mw join silahkan ke link >> https://www.facebook.com/groups/zendiri/?ref=bookmarks

Bersambung ke
Episode 03 [Curhat Ke Kakak]

More aboutAnak Badung Season 2 Bagian.02 [Aku mencintai kalian]