Tampilkan postingan dengan label Daun Muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daun Muda. Tampilkan semua postingan

Dosa Yang Nikmat Bag.10

Posted by Unknown

Lanjutan Dari
Deg...
Plaak... plaak... plaak...
Tangan kanannya tidak perna berhenti mengocok penisnya, bergerak dengan teratur turun naik tanpa jedah sedetikpun sambil menonton video lesby yang ada di hpnya, apa lagi artis yang ada di dalam video itu adalah orang yang ia kenal.

Ashifa, sahabat pacarnya Lathifa dan lawan mainnya adalah seorang guru yang selama ini ia pikir adalah wanita alim, dan baik.

Pagi tadi tanpa di sengaja, ketika ia hendak ingin mengendap-endap ke asrama putri agar bisa bertemu dengan pacarnya, ia tidak sengaja mendengar suara yang aneh, karena penasaran ia memanjat tembok dan mengintip kearah sumber suara yang ia dengar.

Dan siapa yang menyangkah, ia melihat seorang Ustadza sedang bersetubuh dengan muridnya.

"Aku keluaaaaar Umii... " Pekiknya tertahan.

------------

Lama aku berdiri mematung didepan pintu kamar mandi, melihat, memandangi seorang wanita lengkap dengan kerudung segi empat berwarna hijau dan kemeja hijau, sedang duduk di atas closet tanpa mengenakan rok panjang yang biasa ia kenakan, dan celana dalam yang menyangkut diantara kedua betisnya.

Entah ini mimpi buruk, atau hari keberuntunganku karena akhir-akhir ini aku sering di suguhi pemandangan erotis dari Kakak Iparku.

Seeeerrrr.... Ssseeerr.... Seeeeerr....
Sambil memalingkan wajahnya dari tatapanku, ia menumpahkan semua yang ada di dalam kantung kemihnya kedalam kloset tanpa ia bisa tahan lagi di depan mataku.

Aku tidak boleh di sini dan melihatnya, tapi tubuhku telah mengkhinatiku, sekeras apapun hatiku menolak, tubuhku tetap berdiri mematung, mataku tetap terbuka lebar memandangi tubuh mulus Kak Nadia.

Selesai buang air kecil, ia buru-buru berdiri mengenakan celana dalamnya kembali, saat dia menarik celana dalamnya keatas, aku dapat melihat jelas belahan vagina Kak Nadia yang mulus tanpa ada rambut hitam yang menutupinya.

Kak Nadia segera mengenakan kembali rok panjangnya, dan bergegas melewatiku tanpa sepata kata apapun.

Siaaal...! Kak Nadia kali ini ia pasti sangat marah kepadaku, karena kecerobohanku, lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin, bedanya kalau kemarin aku melihat ia sedang mandi dan memergokinya sedang bermasturbasi, dan pagi ini aku melihat ia sedang buang air kecil.

Aku bergegas menyusulnya kekamar, aku harus minta maaf sekarang, kalau tidak ingin hubunganku dengan Kak Nadia semakin buruk.

Tok... tok... tok...
Aku mengetuk pintu kamarnya dengan perasaan tidak menentu, ada rasa cemas kalau nanti ia akan membentak dan memarahiku.

"Eeh... kamu belom mandi." Kepalanya keluar dari balik daun pintu kamarnya.

"Hehehe... belom Kak." Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

"Kenapa?" Dia meringis menatapku dalam.

"Aku mau minta maaf Kak." Kataku memberanikan diri mengakui kesalahanku beberapa hari ini, ketika saudaraku sedang tidak ada di rumah.

"Ya udah masuk aja dulu."

Dia membuka lebar kamarnya, aku segera masuk kedalam kamarnya, lalu duduk di kursi kerja tempat biasa saudara kandungku duduk. Sementara Kak Nadia duduk si tepian tempat tidurnya.

"Mau ngomong apa tadi?" Tanyanya.

Aku menarik nafas dalam, menghilangkan rasa gugup yang aku rasakan saat ini.

"Soal barusan, aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar kepada Kakak. Tadi itu benar-benar tidak sengaja. Tapi aku janji Kak, kejadian hari ini tidak akan terulang lagi."

"Kalau masalah itu gak perlu di bahas ya Dek, jujur Kakak malu kalau ngebahas masalah itu." Ujarnya sembari menunduk.

Aku tau perasaan Kak Nadia, sebagai seorang wanita dan Istri yang baik, tentu saja suatu musibah yang besar bagi dirinya di lihat oleh orang lain yang bukan muhrimnya dalam keadaan telanjang. Apa lagi tadi dia dalam kondisi yang sangat memalukan.

Sebenarnya aku ragu melakukan ini, tapi aku coba untuk memberanikan diri.

Aku beranjak dari kursiku, lalu duduk di sampingnya. Dengan perlahan aku meraih tangannya, menggenggamnya dengan perlahan, awalnya ia tampak kaget, tapi setelah mata kami berdua beradu ia mengurungkan niatnya melepas genggamanku.

"Soal tadi, ataupun kemarin aku benar-benar minta maaf." Kataku sambil meletakan tangannya diatas pahaku. "Aku mengerti perasaan Kakak, tapi jujur Kak, Kakak memang wanita yang sempurna, aku tau kalau ini salah, tapi aku menyukaimu Kak." Deg... aku tidak menyangkah kalau aku akan mengatakan kalimat ini kepadanya.

Wajahnya memerah, lalu ia hendak menarik tangannya tapi aku menahannya agar tidak terlepas.

"Jangan sembarangan bicara Dit."

"Aku tau Kak, memang ini sudah gila, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, setiap kali di dekat Kakak aku merasa sangat nyaman, dan waktu aku melihat Kakak menangis, dadaku terasa sesak." Jelasku, aku semakin mendekatkan diriku.

Ia menatap mataku, kulihat butiran air matanya mengalir dari kelopak matanya yang indah. Segera dengan jemari kiriku, aku menghapus air matanya, aku tidak ingin melihat ia menangis seperti kemarin karena aku menyukainya, walaupun aku sendiri tidak tau apakah rasa suka ini hanya sebatas mengagumi, atau karena aku memang mencintai Kakak iparku.

Perlahan tanpa di komando, wajah kami semakin dekat, hanya tinggal satu centi lagi bibir kami bertemu.

Kerangkul lehernya, denga sedikit memiringkan kepalaku aku mengecup.lembut bibirnya. Hanya sebuah kecupan lembut, dan perlahan berganti dengan lumatan.

Tubuh kami semakin merapat, dan perlahan tanpa sadar kami berpelukan, aku dapat merasakan dadanya yang menempel di dadaku, terasa empuk dan nyaman, membuatku semakin erat memelukku.

"Eehnmpp... "

Aku menjulurkan lidahku kedalam mulutnya, lalu ia membalasnya dengan membelit lidahku, sehingga beberapa kali aku menelan air liurnya, sementara tangan kiriku turun membelai punggungnya, dan tangan kananku bergerak menuju kedepan dadanya, meremasnya pelan penuh perasaan.

Kak Nadia mendorongku, sehingga aku tiduran sementara ia menindiku, sambil berciuman kami berpelukan saling merabah satu sama lain.

"Astagaaa...!" Aku terkejut ketika ia melepas pagutannya. "A... apa yang kita lakukan, kita tidak boleh melakukannya Radit, ingat ini dosa besar." Dia buru-buru hendak pergi meninggalkanku.

"Kak... " Aku menarik tangannya. "Maaf Kak!" Dia tidak mengubris panggilanku, dengan sedikit hentakan dia melepas tanganku dan pergi meninggalkanku.

[i]Siaaal... sial... sial...[/] Apa yang terjadi denganku, kenapa aku bisa berbuat sebodoh ini, seharusnya aku memperbaiki hubungan kami, bukan malah semakin memperburuk keadaan.

Sekarang apa yang kulakukan? Mungkin kali ini dia akan mengadukan perbuatanku kepada Mas Jaka.

-------------

Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangis, mengutuk dirinya sendiri yang semakin lama semakin tidak bisa mengontrol dirinya, yang semakin terbuai oleh nafsunya sendiri.

Bayangan adik iparnya seakan tak perna mau pergi, bahkan beberapa saat sebelumnya, ia masi sempat bermasturbasi, mengingat dan membayangkan kelajutan yang ia lakukan tadi pagi bersama Adik iparmya, sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Perlahan tangan kanannya kembali turun membelai bibir vaginanya, bayangan Raditya kembali menghantuinya, membuat dirinya tidak tenang.

"Eeehnggk... Radit, Aaahkk...!" Ia merintih perlahan.

Ia membayangkan saat ini Adik iparnya sedang menindih dirinya, menusukan terpedonya kedalam vaginanya, keluar masuk seiring dengan jarinya yang bergerak cepat keluar masuk mengikuti khayalannya.

Dia mendesah semakin keras, walaupun ia sudah berusaha setenga mati untuk melupakan bayangan Adik iparnya dan menggantikannya dengan Suaminya, tapi tetap saja ia tidak mampu, bayangan Adik iparnya terlalu dominan akhir-akhirnya.

Tubuh Nadia menggeliat, ia sudah tidak tahan lagi, menumpahkan perasaannya.

"Radiiiiittt... " Ia memekik seiring cairan cintanya yang keluar cukup banyak. Perlahan ia memejamkan matanya, kembali mengingat dosa yang ia lakukan hari ini.

-------------

Waktu jam pulang sudah lama berlalu, tapi aku memutuskan untuk tidak segera pulang, aku takut kalau nanti bertemu dengan Kakak Iparku, apa yang harus kukatakan nanti, bisa jadi kalau ia melihatku, ia akan mengusirku, dan hubunganku dengannya akan semakin memburuk lagi.

Kuputuskan untuk main ke villa belakang, yang terletak di pinggiran sungai.

Aku duduk santai sambil menikmati angin yang menerpa wajahku, udara di sini memang sangat segar di bandingkan di kota tempat asalku, udaranya sudah tercemar oleh polusi.

"Radit."

Aku menoleh kebelakang. "Loh... kok ada di sini Ra?" Tanyaku bingung, karena tiba-tiba saja ia sudah ada di belakangku.

"Lagi bosen di asrama, jadinya keliling aja."

"Eehmm... tapi inikan wilayah cowok, nanti kalau ketahuan di sini, kamu bisa di hukum loh." Jelasku, mengingatkan ia tentang peraturan dan batas-batasan wilayah sekolahku.

"Hahaha... itukan kalau ketahuan." Ledeknya... "Emang kamu mau ngaduin aku ke bagian keamanan?" Katanya, sembari tersenyum.

Aku menggelengkan kepalaku, lalu kembali membuang wajahku kearah danau, menatap indahnya danau seindah wajahnya Clara, wanita pertama yang ku sukai saat pertama kali menginjakan kakiku di sini. Seseorang yang selalu membuatku tidak bisa memejamkan mataku.

Dia berdiri di sampingku, kulihat dia juga tampak menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan kami saat ini.

"Bagus ya." Gumamku pelan.

"Eheem... Aku sering main kesini kalau lagi merasa jenuh, soalnya aku suka pemandangannya." 

"Yup, aku juga menyukainya."

Lalu kami saling melempar senyum, dan lagi-lagi aku terpesona dengan kecantikannya yang mendekati sempurna, bibir tipisnya tampak bergumam tapi aku tak dapat mendengarnya dengan cukup jelas, hingga akhirnya kami mendengar suara orang yang memanggil kami berdua.

Semakin lama suara itu terasa semakin dekat, dan saat kami memalingkan wajah, aku melihat Pak Rojak, satpam sekolahku sedang berjalan kearah kami.

"Gawat... ayo kabur." Pekiknya, lalu ia menarik tanganku untuk segera menjauh.

"Eeh... "

Aku hanya mengikuti setiap langkahnya untuk segera menjauh dari villa tempat kami bersantai, sementara Pak Rojak yang melihat berlarian, mencoba mengejar dan berteriak memanggil kami, meminta kami untuk segera berhenti berlari.

Karena jarak antara kami dan Pak Rojak yang terlalu jauh, membuat Pak Rojak dengan mudanya kehilangan jejak kami berdua.

Aku tidak dapat membayangkan kalau seandainya saja Pak Rajak berhasil menangkap kami berdua, bisa-bisa kami akan dikenakan pelanggaran berat, karena berdua-duaan di tempat.sepi.

Hosss... hoss... hoss... Ternyata larinya Clara cukup cepat, sehingga aku nyaris tak bisa mengejarnya. Kami kembali berpandangan, dan kemudian tawa kami berduapun meledak.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.11
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.10

Dosa Yang Nikmat Bag.06

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

Sore harinya para siswa berkumpul untuk melakukan olah raga pagi, yang putra berkumpul di depan kantor Aliya, sementara yang putri berkumpul di lapangan, di depan asrama khadija.

Setelah di beri arahan sebentar, dan sedikit pemanasan, mereka memulainya dengan lari pagi mengelilingi sekolah.

"Shifa mana ?" Tanya Popi, menanyakan Shifa kepada Latifha.

"Gak tau gue, katanya tadi dia di panggil sama Umi Andini kekamarnya." Jawab Latifha sambil berlari-lari kecil mengikuti rombongan santri lainnya.

"Perasaan, dia sering banget akhir-akhir ini di panggil sama Umi Andini, ada apa ya ?" Tanya Ria.

"Waduh, gak tau juga Ya, tapi iya juga si, semalem dia juga menginap di kamarnya Umi Andini, pulangnya pas habis subuh, terus tadi ke kamarnya Umi lagi." Jelas Lathifa, walaupun penasaran, dia tak menaruh curiga sedikitpun terhadap sahabatmya.

"Apa dia di hukum ya ?"

"Eehmm... bisa jadi tu." Jawab Popi.

"Nanti kita tanyain aja de sama orangnya langsung." Timpal Ria, sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.

Tak terasa saat ini mereka memasuki kawasan Santri, mereka melihat para siswa laki-laki yang masih berkumpul di lapangan, otomatis mereka yang jarang melihat lawan jenis mulai saling menggoda, seperti bersiul atau bersorak, tapi ada juga yang tersenyum malu-malu sambil berbisik.

Para siswa laki-laki yang tadinya sedang serius memperhatikan arahan Gurunya, kini malah memalingkan wajah kearah siswa perempuan yang sedang berlari kecil melewati mereka.

"Lihat tu ada cowok keren, gila ganteng banget ya !" Pekik Popi sambil melambaikan tangan kearah Cakra, pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.

"Apaan si, itu cowok gue... " Omel Latifha kesal.

"Hihihi... ya deh sayang, gitu aja ngambek !" Jawab Popi, memang paling suka menggoda Sahabatnya.

"Ciee... ada yang cemburu niye... " Timpal Ria.

"Apaan si, kalian nyebelin banget si, awas ya kalian nanti." Ancam Lathifa, tapi malah membuat kedua sahabatnya semakin tertawa terpingkal-pingkal.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau Lathifa menjalin hubungan special secara diam-diam dengan Cakra, bahkan beberapa malam yang lalu, mereka berdua sempat janjian bertemu di belakang danau yang ada di lingkungan sekolah.

Mengingat kejadian malam itu, pipi Lathifa merona merah, karena untuk pertama kalinya, dia mencium bibir seorang pria.

----------

Sementara itu di tempat lain, sepasang wanita yang berbeda usia sedang memadu kasih di dalam kamar berukuran 3X4. Mereka berpelukan, sambil berciuman.

Wanita yang usianya lebi tua beberapa tahun, membuka pakaian pasangannya, yang usianya jauh lebi muda, hingga telanjang bulat. Kemudian ia menuntun pasangan mudanya, naik keatas tempat tidurnya.

"Umi... Aaah... " Ashifa merintih tertahan.

"Kamu cantik sekali, Umi gak perna bosan melihat kamu telanjang seperti ini sayang." Puji Andini, sembari tersenyum manis, membuatnya terlihat makin cantik.

Andini kembali melumat bibir muridnya, sementara tangannya meremas-remas payudara muridnya, membuat gadis kecil itu merintih keenakan, sambil membalas lumatan mesrah gurunya yang sekarang menjadi kekasihnya.

Aneh memang, seorang guru yang seharusnya mendidik muridnya, malah melakukan perbuatan yang tak terpuji bersama muridnya, yang seharusnya ia didik menjadi anak yang baik.

"Umi gak adil ni." Rengek Asyifa.

"Loh, gak adilnya di mana sayang ?" Tanya Andini, sambil memebelai wajah cantik muridnya.

"Umi masi pake pakaian lengkap, sementara Shifa uda telanjang kayak gini." Gadis muda itu cemberut, membuat Andini semakin gemas dan menciumi sekujur wajahnya.

Lalu dia mulai melepas gamisnya dan juga branya, hingga payudaranya melompat keluar, kemudian ia menurunkan celana dalamnya, dan saat itulah terlihat benda besar berbentuk penis yang terhubung dengan ikat pinggang yang melilit di selangkangannya.

Sambil tersenyum, Andini memainkan mainannya di depan muridnya. Ashifa seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia langsung merangkak, medekati dildo tersebut dengan wajah girang, lalu tangannya yang halus menggenggam dildo tersebut sambil mengocok dan menjilatinya, seperti menjilati es cream kesukaannya itu.

Sementara Andini membelai rambut Ashifa yang terurai indah, sepanjang punggungnya.

"Kamu sukakan sayang ?"

"Iya Mi, Ashifa suka kontol Umi, rasanya geli-geli di mulut." Jawab Ashifa di sela-sela mengulum mainan Umi.

"Kalau suka, masukin sekarang dong, Umi gak tahan ni."

"Sebentar lagi dong Umi, akukan masi seru mainin kontolnya Umi." Pinta Asyifa seperti anak kecil, yang tak ingin di jauhkan dari mainan barunya, membuat Andini semakin gemas.

Tanpa berkata lagi dia menarik penis mainannya, kemudian dia mendorong tubuh mungil Asyifa, dia mengangkangkan kedua kaki Ashifa, hingga vagina mungilnya terkuak. Andini sudah tidak sabar lagi menikmati madu manis vagina Ashifa, murid kesayangannya, sekaligus kekasihnya.

Lidanya terjulur menyapu bibir vagina Ashifa, rasanya asin tapi menyenangkan, membuat Andini tidak perna bosan menjilati vagina Muridnya.

Tak butuh waktu lama, tubuh gadis muda itu mengejang hebat, kepalanya mengada keatas, ketika orgasmenya tiba, membuatnya berteriak cukup nyaring, tapi untunglah, suasana sore itu tampak sepi sehingga suaranya tidak terdengar oleh siapapun.

"Umi jahaaat !"

"Tapi kamu sukakan sayang." Goda Andini sambil membelai rambut Ashifa.

Perlahan Andini mengangkat kaki kanan Ashifa keatas pundaknya, sementara kaki kiri Ashifa di rentangkan kearah berlawanan sehingga vaginanya terkuak.

Dia memegang batang dildonya, mengarahkan kearah bibir vagina Ashifa, membelanya dengan cara perlahan, ia dorong inci demi inci memasuki lembah nikmat milik muridnya. Raut wajah itu, ya... Andini sangat suka setiap kali melihat wajah imut Ashifa meringis.menahan rasa sakit bercampur nikmat setiap kali dia mebyetubuhinya, dia semakin puas tatkala Ashifa mulai merintih.

Dengan tempo perlahan, Andini menggoyang pinggulnya maju mundur, sambil meremas kedua payudara Ashifa.

Dua bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Andini merenggut keperawanan muridnya, dengan dildo yang ia gunakan saat ini sebagai saksinya. Semenjak saat itu, Ashifa menjadi budak nafsunya hingga saat ini.

"Aaahkk... aaaaa.... aaa... "

"Kamu cantik sekali sayang, tubuh kamu bagus, Umi tidak bisa berhenti memikirkan kamu !" Ujar Andini, sambil menatap dalam mata muridnya.

"U... Umiii.... Aaaah.... Puaskaaan Ashifaaa... sodok teruuss Umi, Ashifaaa milik Umi... !" Erang Ashifa lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Andini.

Andini menyambutnya, dengan melumat mesrah bibir muridnya, hingga akhirnya Ashifa kembali di terjang badai orgasme yang dahsyat, tubuhnya seperti terkena tegangan tinggi, bergetar hebat, dan terhempas.

Walaupun Andini tidak sampai mengalami orgasme, tapi Ibu Guru itu merasa sangat puas, setiap kali melihat muridnya menggelepar, meringis, merintih dan menggeliat di dalam kekuasaannya, dia puas bisa menaklukan gadis muda nan cantik dan baik seperti Ashifa.

-----------------

Dddrrrttt..... Ddrrtt... Drrrrttt....

Suara rington hp cukup nyaring, membuat sang pemilik tergesa-gesa kembali kekamarnya, lalu dengan cepat ia mengangkat telponnya.

"Assalamualaikum!"

"Waalaikum salam, gimana kabar kamu nak ?"

"Baik Ma, kabarnya Mama sama Papa gimana ?" Jawab Nadia, sambil menanyakan balik kabar mertuanya.

"Alhamdulillah baik, kalian kapan pulang? Sudah hampir setengah tahun loh kalian gak pulang."

"Iya Ma, maaf belum sempat pulang."

"Ya udah gak apa-apa, tapi nanti kalau kalian ada waktu jangan lupa untuk pulang." Ujar Farah mertuanya Nadia. "Oh iya ngomong-ngomong sudah ada kabar gembira belom ?" Lanjutnya dengan suara yang terdengar penuh harap.

Deg... perasaan Nadia berubah menjadi tidak tenang. "Maksud Mama kabar apa ?" Tanya Nadia ragu-ragu.

"Gini loh, maksud Mama kapan kamu mau kasih Mama cucu, Mama sudah kepingin menimang cucu." Pertanyaan yang di takutin Nadia akhirnya keluar juga.

Nadia tak langsung menjawab permintaan Mamanya, karena ia sendiri juga tidak tau, apakah ia bisa memberi cucu untuk mertuanya atau tidak, karena kesempatan dirinya untuk bisa hamil sangat tipis.

Bukan karena Nadia seorang wanita mandul, melainkan karena Suaminya yang mandul, selain itu Suaminya juga mengalami ejakulasi dini. Satu bulan yang lalu, Nadia dan Suaminya mendatangi dokter spesialis kandungan untuk mengecek kesuburannya, dan mencari tau penyebab kenapa ia tidak bisa hamil, padahal ia sudah lama menikah.

Dan ternyata, dari penjelasan dokter, Suaminyalah yang mandul, dan mengalami ejakulasi ringan, sehingga sangat sulit baginya saat ini untuk bisa hamil.

"Nadia... " Panggil dari sebrang telpon.

"Eh iya Ma!" Jawab Nadia tergagap dari lamunannya.

"Jadi gimana, kapan Mama bisa menimang cucu." Ujar Farah antusias, membuat Nadia semakin merasa bersalah, walaupun kesalahan terletak pada Suaminya.

"Secepatnya Ma, mohon doanya saja."

"Kamu itu dari dulu jawabannya gitu-gitu terus, Mama butuh kepastian Nad." Paksa Ferah seperti biasanya, padahal yang salah sebenarnya adalah putranya sendiri.

Beruntung Jaka memiliki seorang Istri yang setia dan baik seperti Nadia yang selalu menyembunyikan kekurangan Suaminya, dan membiarkan dirinya yang tersiksa demi kebahagian dan harga diri Suaminya.

"Maaf Ma, ini kami lagi usaha." Jawab Nadia.

"Pokoknya Mama tidak mau tau, tahun ini kamu harus hamil bagaimanapun caranya. Teett.... teeett... " Tiba-tiba saja lawan bicara Nadia mematikan teleponya.

Dan seperti biasanya, dia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu ia menyembunyikan wajahnya di dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya. Sebagai seorang wanita tentu saja ia sangat sedih, apa lagi ia selalu di salahkan tanpa ada yang mau mengerti penderitaannya.

-------------------

Sore hari menjelang malam, ketika para siswa perempuan berkumpul di kamar mandi umum sebelum melaksanakan ibadah magrib. Diantara kumpulan tersebut terdapat sekelompok anak yang tampak asyik bermain air, saling menyiram dan tertawa cekikikan, terkadang mereka saling kejar.

Ria berlarian masuk kedalam kamar ganti, lalu dia menutup pintunya, sialnya kamar ganti yang di masuki Ria tidak memiliki kunci, karena telah rusak, sehingga ia harus menahan pintu tersebut dengan tubuhnya.

"Bukaaa... Ria !" Pekik Ashifa dari luar.

"Gak mauuu... Hahaha... "

"Dobrak aja pintunya !" Dukung Lathifa.

"Kalau lo gak mau keluar, gue dobrak pintunya." Ancam Ashifa sambil menendang-nendang pintunya.

"Dobrak aja kalau lo bisa !" Tantang Ria, sambil cekikikan mentertawakan sahabatnya.

Braaak... braaak... braakk...
Beberapa kali Ashifa mendobrak pintunya, tapi Ria menahannya cukup kuat, melihat Ashifa yang kesulitan, Lathifa ikut membantu mendorong pintu, hingga akhirnya Ria kalah kuat, sehingga dikit demi sedikit pintunya terdorong.

Ashifa dengan cepat mengambil kesempatan, dia menahan pintu tersebut, dan meminta Lathifa untuk segera masuk dari cela pintu yang sedikit terbuka.

"Dapaat... " Teriak Lathifa girang, ketika berhasil masuk dan memeluk erat tubuh Ria.

Ashifa segera menyusul masuk kedalam, dan kemudian menutup pintunya. Ashifa tersenyum licik kearah Ria, membuat gadis itu panik, berusaha melepaskan diri, tapi dekapan Lathifa terlalu kuat, sehingga gadis itu hanya bisa meronta-ronta kecil.

"Saatnya kita telanjangi." Ujat Ashifa.

Lalu dia bersama Lathifa berusaha menarik kain basah yang dikenakan Ria, wanita berusia 16 tahun itu berusaha memberontak, tapi kedua sahabatnya lebi kuat darinya sehingga perlawanannya tak begitu berarti untuk bisa menyelamatkan dirinya dari kedua sahabatnya.

Dengan begitu mudanya, mereka melepas kain yang menutupi tubuh Ria hingga telanjang bulat.

Ashifa yang memang memiliki kelainan seksual semenjak mengenal Andini, langsung tergoda untuk menggoda tubuh molek sahabatnya Ria, sekuat tenaga ia membuka kedua kaki Ria, sementara sahabatnya Lathifa tidak kalah gilanya, dia meremas-remas kasar payudarah sahabatnya yang terasa kenyal, sementara puttingnya dia pelintir pelan.

Perlahan tapi pasti, rontahan Ria melemah, dan setuasi itu di manfaatkan Ashifa untuk memebenamkan wajahnya, dan menjilati vagina sahabatnya.

"Ooohh tidaaak... Aaaa... Aaa... " Erang Ria frustasi.

"Gimana Ria sayang, enak gak memeknya di jilatin sama Shifa, pasti rasanya enakan ? Apa lagi kalau puttingnya sambil di pelintir kayak gini." Kata Lathifa menggoda sahabatnya, sambil memberi rasangan di kedua payudara Ria.

Sluuupp... Slupp... Sluupps...
"Eehmn... memeknya enak banget, rasanya kayak semanis madu, elo harus mencobanya Latifha. Hihihi... !" Komentar Ashifa di sela-sela memanjakan vagina sahabatnya.

"Ogaah gue, lu aja sendiri !" 

"Yakiiiin, ya udah kalau lu gak mau." Jawab Ashifa, lalu dia kembali menjilati vagina Ria.

Sementara gadis yang bernama Ria, tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha melawan gairahnya yang perlahan mulai terbakar oleh sentuhan kedua sahabatnya. Perlahan Ria memejamkan matanya, dia sudah meyerah dan membiarkan kedua sahabatnya mengerjain habis-habisan tubuhnya.

Jari jempol Ashifa menggelitik clitoris Ria, sementara lidanya menusuk-menusuk lobang vagina sahabatnya yang masih perawan, belum sekalipun di sentuh oleh seorang pria manapun.

Ria membelai rambut sahabatnya, membiarkan sensasi apapun mengusik dirinya, menikmati setiap jilatan dan sentuhan lembut di vaginanya, sementara kedua payudaranya menjadi mainan sahabatnya Latifha.

Aaaahhkk... rasanya nikmat sekali ! Gumam Ria, sambil membayangkan Radityalah yang melakukannya.

"Eehmm... rasanya enak banget ya ?" Tanya Lathifa penasaran melihat sahabatnya yang menggeliat keenakan.

"Aaaah... iya ituku di hisap Fa." Erang Ria, dia sangat menikmati ketika klitorisnya di isap kuat-kuat oleh sahabatnya Ashifa, yang sedang menghisap clitorisnga.

"Lu nyebelin banget si... " Kesal Lathifa karena pertanyaannya tidak di jawab, dan sebagai balasannya Lathifa meremas kencang payudarah sahabatnya, hingga Ria histeris karena kesakitan akibat remasan Lathifa di dadanya.

"Aaauuww... gila lu ya sakit tau !" Protes Ria.

"Makanya kalau orang nanya di jawab !"

"Kalau pengen tau coba aja sendiri." Sindir Ria, lalu dia bangkit melepaskan diri dari mereka, membuat Ashifa tampak kecewa, padahal dia sedang menikmati vagina sahabatnya.

Ria mengambil kainnya kembali, lalu mengikatnya seperti semula. Sebenarnya, Ria tadi sangat menikmati ketika vaginanya di jilat Ashifa, tapi gara-gara remasan kasar dari Lathifa, modnya mendadak hilang. Entah ia harus berterimakasih atau kecewa atas perlakuan sahabatnya, yang pasti sekarang dia merasa lega karena bisa terbebas dari Ashifa.

Ashifa memandang Lathifa dengan sebal, padahal dia sudah lama ingin sekali menikmati vagina Ria, tapi gara-gara Lathifa dia terpaksa menundanya kembali.

"Eee... setan, siapa di sana ?" Pekik Lathifa, sontak kedua sahabatnya melihat keatas, kearah telunjuk Lathifa yang mengarah keatas.

Terlihat tiga kepala orang dewasa muncul dari balik tembok kamar mandi mereka, padahal kamar mandi umum ini memiliki tembol yang cukup tinggi, walaupun di bagian atasnya tidak.tertutup apapun, sehingga sangat memudakan bagi yang mau mengintip setelah mereka berhasil memanjat tembok.

Berselang beberapa detik, sebelum mereka mengenali ketiga pria itu, mereka bertiga telah menghilang di balik tembok.

"Gimana ni ?" Tanya Ria panik, dia yakin sekali, kalau mereka bertiga tadi sempat melihat di telanjangi oleh kedua sahabatnya, setelah di kerjai oleh kedua sahabatnya.

"Tadi siapa ya ? kok berani banget masuk kewilayah santriwati." Timpal Lathifa tak kalah paniknya.

"Uda tenang dulu." Lerai Ashifa.

"Mau tenang gimana, tadi dia melihat apa yang kita lakukan barusan bagaimana kalau nanti dia cerita dengan Umi, bisa-bisa kita di keluarkan dari sini." Timpal Ria panik, bagaimanapun juga, tadi dia yang telanjang, selain malu dia juga takut, kalau nanti apa yang mereka lakukan barusan tersebar.

"Ya uda yuk, nanti kita pikirkan lagi." Ajak Lathifa.

"Maafin gue ya Ria ?" Lirih Ashifa.

"Udalah, nasi uda jadi bubur." Jawab Ria tak bersemangat, lalu mereka keluar dari ruang ganti dan kemudian melanjutkan mandi mereka yang sempat tertunda.

--------------------

"Nyaris aja !" Ujar seorang pria sambil mengelus dadanya.

"Kira-kira mereka tau gak ya, kalau kita yang mengintip mereka barusan ?" Timpal Budi, satu-satunya diantara mereka yang memiliki tubuh paling besar, sehingga wajar saja kalau dia merasa khawatir, takut ketahuan oleh para santriwati barusan.

"Udah, gak perlu khawatir, walaupun mereka tau juga gak akan berani bilang, kaliankan tau sendiri tadi mereka habis ngapain ? Mereka pasti takutlah buat ngadu." Jawab Rozak, menenangkan kedua rekannya Dewa dan Budi.

"Tapi makasi banyak Zak, uda ngajakin kita ngeliat yang bening-bening, hahaha.... !" Ujar Dewa seraya tersenyum mesum.

"Gak sia-sia ternyata kemarin sempat memergoki santri ngintip di sini, hahaha... " Jawab Rozak sambil tertawa girang. Ya semenjak saat itu, ketika ia mengejar dua orang santri yang sedang mengintip, Razak jadi tau kalau tempat ini sangat tersembunyi buat mengintip.

"Eehmm... ngintipin apa ni ?" Tiba-tiba dari belakang seseorang menegur mereka.

Sontak mereka bertiga kaget, ketika nenyadari yang datang seorang Ustad baru di madrasyah, sahabat baik dari Ustad Iwan yang di kenal tegas dan di siplin.

"Ya Pak, kita ketahuan." Desah Budi pasrah.

"Ma... maaf Tad." Ujar Rozak tak berani memandang Reza yang sedang berdiri di depan mereka, seperti seorang hakim yang sedang mengadili tersangkah.

"Ampun Ustad, jangan aduhin kami Ustad." Kata Budi ketakutan.

"Maafin kami Ustad." Timpal Dewa.

Kemudian dari sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, senyuman yang memiliki sejuta arti, penuh makna dan rencana-rencana licik.

Reza menepuk pelan pundak Rozak, satpam Madrsya tempat ia mengajar, sebagai ucapan terimakasi.

"Jangan takut, kalau saya jadi kalian berdua, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, seperti yang kalian lakukan sekarang, tapi bedanya, kalau saya tidak akan puas kalau hanya sekedar mengintip mereka." Ujar Reza sambil memperlihatkan tanduk iblisnya di depan mereka bertiga.

"Maksud Ustad ?" Tanya Dewa.

"Hahaha... kalau kalian mau, saya bisa berbagi dengan kalian, tapi dengan syarat." Jawab Reza.

"Maaf banget ni Ustad ya, kita-kita beneran gak ngerti ni."

"Saya yakin kalian pasti mau nidurin para santri di sinikan ?" Tanya Reza sambil tersenyum.

"Maksud ustad ngentot ?" Tanya Budi.

"Waaa... kalau di suruh ngentot pasti maulah Ustad, tapi Santri mana yang mau kita cicipin." Timpal Dewa, yang kini lebi tenang dari sebelumnya.

"Itu tugas kalian yang nyari nantinya, tapi kalau kalian mau bekerja sama, saya punya satu Ustadza yang bisa kalian cicipi bersama, bagaimana ?" Tawar Reza.

"I... ini serius Ustad ?" Tanya Rozak masi merasa tidak percaya mendengar ajakan Reza, dia takut ini hanya sekedar jebakan buat mereka bertiga.

"Emang Ustadzanya siapa Ustad ?" Timpal Budi.

"Pokoknya kalian gak akan menyesal... "

"Tapi kapan Ustad ?" Tanya Rozak.

"Sini biar saya bisikan... "

Mereka bertiga segera mendekat, mendengarkan sebuah rencana yang membuat mereka tampak bahagia, tapi akan menjadi bencana bagi para Santri dan Ustadza yang akan mereka jadikan korban untuk memenuhi nafsu birahi mereka.

Sesuai yang di janjikan, mereka sudah tidak sabar menunggu beberapa hari lagi, karena hari itu akan menjadi hari yang paling bersejarah di dalam hidup mereka.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.07
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.06

Dosa Yang Nikmat Bag.02

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

Aku segera melompat dari atas tempat tidurku, ketika melihat jam di dinding kamarku sudah menunjukan pukul enam lewat empat puluh tujuh menit, itu artinya, waktuku kurang lima belas menit lagi, kalau aku tidak ingin terlambat kesekolah, dan menerima hukuman dari guruku, apa lagi di jam pertama adalah wali kelasku Bu Irma.

Karena sedikit buru-buru, aku nyaris saja terpeleset tapi untunglah tanganku dengan sigap berpegangan dengan lemari, menahan tubuhku, agar tidak sampai terjatuh.

Aku menarik nafas lega, lalu kembali melangkah menuju kamar mandi. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku langsung mendorong pintu kamar mandi, dan tanpa kuduga di dalam kamar mandi Kak Nadia dalam keadaan telanjang bulat sedang berdiri di bawa air shower sambil menyabuni tubuhnya.

"Adeeeek... " Teriaknya dengan suara melengking.

Aku tidak segera buru-buru keluar kamar mandi, sejenak aku sempat melihat tubuh telanjangnya yang sempurna, payudarahnya yang besar menggantung indah, dan di bagian bawah perutnya tampak begitu licin sehingga aku dapat melihat jelas belahan vaginanya.

"Ma... maaf Kak !" Kataku, lalu segera kututup kembali pintu kamar mandinya.

Aku masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan nafas memburu, bayangan tubuh Kakak iparku membuat tubuhku menggigil, ada perasaan senang, tegang dan takut, semua bercampur aduk menjadi satu.

Aku takut kalau Nanti Kakak iparku mengadukan perbuatanku barusan, tapi kalau di pikir-pikir ini bukanlah kesalahanku sepenuhnya, seharusnya dia mengunci pintu kamar mandi terlebi dahulu, sehingga kejadian barusan tidak perlu terjadi.

"Adek, lain kali kalau mau masuk kekamar mandi di ketuk dulu pintunya." Kulihat dia berdiri di sampingku dengan mengenakan kain panjang yang lilitkan di tubuhnya, dan kerudung yang ia kenakan dengan cara asal-asalan.

"I... iya Maaf Kak, lain kali kamar mandinya di kunci dong, biar kejadian tadi gak terulang." Belaku sambil menggaruk-garuk kepalaku.

"Eehmm... jadi nyalahin Kakak ni." Dia melipat kedua tangannya di dadanya, "mau Kakak aduhin sama Abang kamu ?" Ancamnya.

"Ya jangan dong Kak !" Aku memelas.

"Hihihi... makanya jangan macem-macem sama Kakak ya, ayo sekarang minta Maaf !" Suruhnya, sambil merenyitkan dahinya.

Aku mendengus kesal. "Iya aku minta maaf Kak." Ujarku males-malesan.

"Na gitu dong, jadi anak yang baik." Katanya sambil mengucek-ucek rambutku. "Ya udah sekarang kamu mandi, nanti telat kesekolahnya." Sambungnya, lalu ia berlalu menuju kamarnya.

----------

Gara-gara Kak Nadia, aku jadi telat kesekolah, dan terpaksa aku harus menerima hukuman, kembali aku mencabuti rumput liar yang tumbuh di halaman depan kelasku, sementara mataku tak lepas memandangi Clara Shinta yang sedang berada di dalam kantor, karena kebetulan kantor sekolahku berada di seberang ruang kelasku.

"Gimana Radit, masi mau datang terlambat ?" Tegur seseorang wanita yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depanku sambil tersenyum dan menatapku dengan tatapan yang menusuk.

"Janji Umi, tidak akan telat lagi."

"Janji itu harus di tepati Radit, ini sudah yang kedua kalinya kamu terlambat."

"Maaf Umi." Jawabku lirih.

"Kali ini masi Umi kasi kesempatan, tapi lain kali kalau kamu tetap terlambat, Umi akan aduhin kamu dengan Umi Nadia, biar kamu di tegur." Ancamnya, aku menunduk tak berani menatap matanya.

"Ya sudah, sekarang kamu masuk."

Aku segera menghentikan kegiatanku mencabut rumput dan berjalan perlahan, masi dengan menunduk melewati Umi Irma dan segera masuk kedalam kelasku.

Sekilas aku kembali memandangi punggung Umi Irma ketika memasuki kantor.

Plaak... tepukan di pundakku.
"Berani banget lu telat Bro !"

"Kopet !" Umpatku kesal terhadap teman sebangkuku Arman. "Ni rasanya tangan gue mau keram, mana rumputnya panjang-panjang lagi." Omelku kesal, tapi di sisi lain aku juga merasa senang, karena hukuman dari Umi Irma, aku bisa melihat Ria yang tadi sempat berada di kantor.

"Lo-nya sendiri cari masalah, udah tau si galak yang mengajar di jam pertama, na lo-nya malah nyari penyakit, datang terlambat."

"Gue tadi kesiangan, belum lagi tadi Kakak ipar gue lama banget di kamar mandinya, gak tau de ngapain aja dia di kamar mandi." Ujarku kesal, sekaligus berdebar-debar mengingat kejadian tadi pagi.

"Oh ya... terus tadi lo intipin gak ?" Kejar Arman antusias.

"Intipin kepala lo peang, dia Kakak gue bego !" Bletaak... Aku menjitak kepalanya.

"Sakit nyet... " Katanya sambil memegangi kepalanya.

"Siapa suruh tadi lu ngomong sembarangan."

"Sembarangan gimana ? Umi Nadia itu bukan Kakak kandung lu, dia cuman Kakak ipar, gak ada salahnya kalau elu sedikit intipin doi, mumpung ada kesempatan emas tinggal bareng wanita secantik Umi Nadia." Jelasnya panjang lebar, aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

Harus kuakui, sahabatku satu ini memang raja mengintip, sedikit saja ada kesempatan, pasti dia mengintip, bahkan dia perna mengajakku mengendap-endap keasrama putri, lalu mengitip mereka yang sedang mandi di kamar mandi umum yang berada di belakang asrama.

Seru si, deg-degkan juga waktu melihat mereka mandi, walaupun tidak sampai telanjang bulat, karena mereka mengenakan kain.

Tapi gara-gara mengintip mereka mandi, kami nyaris saja di gebuk masa, karena aksi kami ketahuan, tapi untunglah, satpam di sekolahku tidak sampai berhasil menangkap kami, kalau sampai tertangkap, mungkin kami sudah di keluarkan dari sekolahan ini.

"Ssstt... diam, Ustad Wendi udah datang tu." Bisikku, mengingatkan sahabatku.

Sontak dia langsung diam, sambil memperhatikan Ustad Wendi yang baru saja duduk di singgasananya sambil memperhatikan kami satu persatu.

"Assalamualaikum !"

"Waalaikumsalam Ustad."

"Sebelum memulai pelajaran saya hari ini, mari kita berdoa sejenak, berdoa di mulai." Suasana kembali hening selama kurang lebi satu menit. "Berdoa selesai... " Lanjut Ustad Wendi.

"Eehmm... sekarang kumpulkan tugas kalian yang kemarin, letakan di atas meja saya." Katanya datar.

Aku segera membuka kembali tasku, dan mengambil buku tulisku, sementara sahabatku Arman memandangku dengan tatapan memelas. Aku melihatnya sejenak, lalu dengan cepat tanganku menutup mulutku agar tawaku tidak sampai meledak.

Mampus !Sekarang giliran dia yang bakalan di hukum, karena dari tatapannya aku tau kalau dia tidak mengerjakan tugas yang di berikan Ustad Wendi beberapa hari yang lalu.

Arman berdiri, lalu dia berjalan gontai menuju kedepan kelas dengan raut wajah yang di tekuk.

Ia berdiri di depan kelas bersama dua orang lainnya, sementara Ustad Wendi tidak menghiraukan mereka, dia memilih untuk melanjutkan mengajar kami.

-----------------------------

Di kantin sekolah, seorang wanita cantik sedang duduk di salah satu bangku kantin, sedari tadi dia hanya memainkan sedotan, tanpa meminum jus pesanannya. Matanya memandang lurus kedepan, tapi pikirannya bercabang-cabang.

Kejadian tadi pagi membuatnya galau, gara-gara lupa mengunci pintu kamar mandi, dia tidak sengaja membiarkan adik iparrnya, melihat dirinya dalam keadaan yang sangat memalukan, dan parahnya lagi dia tidak langsung mencoba menutup selangkangannya, malah bengong memperhatikan selangkangan adik iparnya yang sempat membesar.

"Aaarrr... " Teriaknya pelan sambil memegangi kepalanya.

"Kamu kenapa Nad ? kayaknya ada beban yang berat banget, coba cerita ?" Tanya Irma yang baru saja kembali dari membeli minuman dan duduk di samping Nadia.

"Aku gak rau harus memulai ceritanya dari mana."

"Ceritanya pelan-pelan saja, siapa tau Mbak bisa bantu kasi solusi untuk kamu." Jelas Irma, sambil menepuk pundak juniornya.

"Ini sangat memalukan."

"Oh ya, apa itu ? Soal Radit lagi ?" Pancing Irma, Nadia mengangguk lemah, membenarkan tebakan seniornya. "Mbak jadi ingin mendengarnya." Lanjutnya, sembari tersenyum manis.

"Tapi Mbak janji tidak akan tertawa." Ujar Nadia, Irma mengangguk setuju.

Nadia menghela nafas panjang, sebenarnya ia malu kalau harus menceritakan kejadian tadi pagi dengan adik iparnya, tapi dia juga tidak bisa memendam perasaannya sendiri tanpa membaginya dengan orang lain.

"Radit, tadi pagi dia melihat anuku Mbak ?" Kata Nadia pelan nyaris tak terdengar.

"Maksud kamu ? vagina kamu ?" Tanya Irma kaget, Nadia mengangguk lemah. "Wa... ini gak bisa di benarkan Nid, kamu harus bilang kesuamimu masalah ini, Radit sudah sangat keterlaluan." Jawab Rima sangat emosi, dia tau kalau Radit anak yang nakal, tapi dia tidak menyangka kalau Radit berani melecehkan Kakak iparnya sendiri.

"Ta... tapi, dia tidak sepenuhnya salah."

"Gak salah gimana Nid, sudah jelas dia berbuat kurang ajar sama kamu, seharusnya kamu jangan lembek kayak gini, kalau tidak nanti dia jadi semakin melunjak."

"Dengarkan dulu Mbak, tadi pagi aku bangun kesiangan, jadi aku buru-buru mandi dan aku jadi lupa mengunci pintu kamar mandi kami, dan saat itu aku tidak tau kalau Radit belum berangkat kesekolah, jadi saat dia ingin mandi, dia tidak tau kalau aku ada di dalam, dan dia langsung buka pintu kamar mandi."

"Terus, setelah itu kamu langsung mengusirnyakan."

"Iya, tapi... " Nadia menggantung kalimatnya, dia benar-benar merasa malu kalau harus kembali mengingat kejadian tadi pagi. "Aku saat itu kaget Mbak, jadi... aku cuman bilang 'adek' terus diam... " Nadia menundukan wajahnya, dia benar-benar merasa sangat malu.

"Hanya itu ? Kamu tidak teriak memintanya keluar ?" Tanya Irma, Nadia menggeleng. "Tapi kamu sempat menutup itunya kamukan ?" Lagi Nadia menggeleng, Irma.terlihat mendesah pelan.

"Sumpah Mbak, aku benar-benar kaget."

"Berapa lama dia melihat anumu Nad ?"

"Mungkin satu menit atau dua menitan." Jawab Nadia, dia tidak berani memandang langsung kearah Irma.

"Cukup lama bagi dia untuk mengetahui setiap detail kemaluan kamu Nad." Jawab Irma pelan.

"Maafkan aku Mbak, sekarang aku tidak tau harus bagaimana lagi." Tutur Nadia, karena dia sendiri benar-benar kebingungan, dia tidak menyalakan Raditya, karena adik iparnya memang tidak salah.

"Lupakan saja Nad, ini musibah... ini kecelakaan yang tidak kamu inginkan."

"Apakah aku berdosa ? apa aku telah menghianati Suamiku ?" Tanya Nadia pelan.

"Mbak tidak tau, karna yang tau soal dosa hanya tuhan Nadia, dia yang berhak menentukan kamu berdosa atau tidak, tapi yang pasti kamu tidak mengkhianati Suamimu, karena ini murni kecelakaan Nadia, kamu sendiri pasti juga tidak menginginkannya." Jelas Irma, sambil membelai pundak sahabatnya, untuk sedikit mengurangi beban sahabatnya.

"Terimakasi ya Mbak."

"Sama-sama Nad, kalau kamu ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita dengan Mbak."

"Iya Mbak, itu pasti." Jawab Nadia yang kini bisa sedikit tersenyum.

"Udah yuk, kita kekantor sekarang, sebentar lagi bel masuk." Ajak Irma, Nadia dengan senang hati menyambut uluran tangan Irma.

Mereka berjalan beriringan menuju kantor, sambil bercerita tentang Raditya, tapi kali ini bukan tentang kejadian kamar mandi, tapi melainkan tentang keterlambatan Raditya tadi pagi kesekolah.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.03

Bergabung Di Grup Resmi Kami
https://www.facebook.com/groups/554011654759648/?fref=nf
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.02

Cewek Berjilbab Bag.11 [Sempurna]

Posted by Unknown

Lanjutan Dari
Cewek Berjilbab Bag.10 Lanjutan  [Perasaan Yang Kuat]
Haduuh kapaaan ini hujan bakal selesai yah.. atau mungkin si nita tidur yah didalem? kok tumben sih pintu depannya dikunci.. hahh.. bunda lagi gaada , terpaksa kan aku harus nunggu si nita bangun.. duh basah buanget.. bisa flu nih kalo terus terusan gini.
Aku mencoba menoleh kebelakang , sepertinya ada suara bel becak , ah iya becak itu berhenti , ada cewe turun dari becak tersebut..

Derry : ah , nita ? ..
Nita tiba tiba berlari sambil membawa sebuah kotak dan langsung memelukku.. Dia kelihatannya menangis. Tapi dari tangisannya kok seperti bukan dalam kondisi marah ke aku. Aku pun mencoba bertanya ke nita
Derry : nit , nitaa.. kamu kenapa nangis.. 
Nita : aku.. akuu.. huaa... 

Nita menangis makin menjadi.. terus terang , aku paling gatega lihat cewe nangis.. rasanya air mataku ini ingin menetes juga , meski aku gatau dia menangisi apa.
Derry : nit , udaah , jangan nangis.. masuk dulu yuk , cerita didalem ajaa.. yuk..
Nita : enggak , aku mau disini , sama kamu.. hiks.. hiks..
Derry : udaah jangan nangis dong nit , kenapa sih ada apaa? maafin aku yaa tentang yang aku bicarain sama hana tadi..
Nita : huaaaaaaaaa

(nita pun menangis makin menjadi.. aduh aku salah nih minta maaf sekarang)

Tukang Becak : neng , neeng..
Derry : aduh pak , bentar dong dia lagi nangis gini. . ada apa? ada yang ketinggalan?
Tukang Becak : anu kang , dia belum bayar 
Derry : aduh ini pak.. maaf yaa..
Nita : huhuhu.. maaf ya pak , terimakasih juga pak..
Tukang Becak : iya neng sama sama.. mari kang.. langgeng ya buat kalian
Derry : makasih pak 

Tukang becak pun pergi.. ah langgeng apaan? kita kan ga pacaran 
Nita dengan sedikit sesenggukan karena habis menangis , membuka pintu rumah.. aku pun membawa kotak yang dibawa nita sebelumnya
Derry : ini isinya apaan nit?
Nita : udah , sini.. rahasia..

Kami pun masuk rumah , dan sepertinya memang gaada orang dirumah nita
Derry : lho bunda mana nit?
Nita : udah berangkat pas aku mau liburan kemaren.. kenapa?
Derry : gapapa makanya kok sepi
Nita : lhoh bajuku kok basah? aaah bajumu basah banget ya deer.. aduh kamu abis mandi dimana?
Derry : hadeh nit aku nunggu kamu didepan rumah , aku kira kamu tidur didalem.. ya aku tungguin
Nita : kamu nunggu aku? kehujanan?
Derry : enggak nit , ga kehujanan kok 
Nita : 
Derry : kenapa kamu mesam mesem gitu?
Nita : ah eh , enggak kok , sini sini lepas semua bajumu.. aku ambilin dulu ada ga ya baju yang cocok buat kamu.. sementara pake ini dulu deh
Derry : ah gila lu nit , handuk pinky motif bunga gini? bagusan dikit keeek
Nita : duh cerewet deeh.. iya aku cariin sarung dulu..

Aku pun melepaskan baju dan celana ku di dekat pintu depan.. yah telanjang deh , konti ku cuman ditutupin sama handuk doang.. duuh dingin..
nita pun membuatkan minuman hangat buatku.. dia membuatkan teh..

Nita : nih der , minum dulu..
Derry : aah makasih nit.. 
Nita : kamu beneran nunggu daritadi didepan rumah? kenapa ga neduh dulu sih?
Derry : aku pikir kamu marah sama aku sambil ga bukain pintu aku nit , makanya aku nunggu sampe kamu bukain pintu
Nita : emang aku marah kok sama kamu ! 

nita dengan memasang wajah cemberut-imut nya , yang bikin aku tersenyum melihat tingkahnya
Derry : aah maaf dong nit , oiya kamu kenapa nangis tadi..
Nita : (terdiam sambil memandang teh yang dibawanya)
Derry : kenapa nit? tumben kamu kok diem gini gamau cerita
Nita : itu... enggak deh , aku gamau cerita
Derry : hmm kamu bener bener marah yaa sama aku?
Nita : bukan kamu der, aku tadi... ke kosan andi
Derry : andi? iya terus kenapa..
Nita : udah ah.. aku gamau cerita

setelah sekiranya 10 menit aku membujuk nita , akhirnya nita pun menceritakan tentang apa yang terjadi di kos andi. Aku pun mendengar cerita nita, merasa tidak terima, dan ingin mengklarifikasi dengan andi sekarang juga..
Derry : kurang ajar bener itu Andi.. aku ga terima kamu digituin.. aku mau tonjok dia sampe mampus !
Nita : lho ... kenapa kamu marah?
Derry : jelas dong nit , kamu digituin aku jelas ga terima laah 
Nita : kenapa ga terima? kan dia masih cium sama grepe aku dikit doang ?
Derry : tetep aja nit , aku bener bener ga terima sikap andi kaya gitu !
Nita : kalau misal aku suka digituin gimana?
Derry : .......... jadi? kamu suka gituan sama andi??
Nita : loh kok nadamu jadi kasar gini der? kan aku cuma tanyaa
Derry : ya.. gimana ya.. aku marah lah nit , kamu dicium cowo lain , disentuh cowo lain 
Nita : berarti saat aku lihat kamu sama hana ml, aku harus marah ya ke hana?
Derry : eh .... itu...
Nita : saat aku tau kamu habis ml sama hani, aku pun harus ya jotos si hani sampe mampus?
Derry : emm,, e .. enggak sih..
Nita : terus kenapa kamu marah kalo andi gitu ke aku?
Derry : dia.. dia memperlakukan kamu dengan kasar nit , itu yang bikin aku marah. dia bener bener ga menghormatin kamu dengan cara seperti itu
Nita : (nita tersenyum dambil memandangku)
Derry : (ah senyuman ini, lama aku ga ngeliat.. manis banget si nita..) kenapa senyum gitu nit..
Nita : bener bener deh ya.. aku kenapa gabisa marah ya ke kamu 
Derry : tentang itu, aku sama hani , aku minta maaf niit bener bener minta maaaaf
Nita : kenapa kamu minta maaf ke aku? emang aku siapamu?
Derry : ini bukan masalah kamu siapaku.. ini masalah perasaan kan nit, aku minta maaf karena aku tau kamu tersakiti karena sikapku
Nita : ahaha , kamu diajari sapa jadi pinter gini? hana?
Derry : enggak nit , iya sih emang hana sedikit ceramah ke aku.. tapi aku dapet point nya.. kesalahan di aku sendiri..
Nita : hihi , kamu lucu juga kalau bahas masalah gini..
Derry : sebenernya aku juga mau jujur..
Nita : iyaa jujur aja , emang apaa?
Derry : akuu.. lagi deket sama adek kelas .. kelas 1
Nita : terus kenapa? 
Derry : emm jangan marah ya.. aku sampe chat sex sama dia , kita saling kirim foto nude gitu..
PLAKKK ! nita pun menamparku dengan keras

Derry : aduuuh , sakit nit , maaaf aku bilang kan jangan maraah 
Nita : hmm , itu buat kamu karena deket sama si kelas 1 itu.. sapa namanya?
Derry : Zia panggilannya.. Nur Azizah siapa gitu namanya
PLAKKK ! nita menampar aku lagi

Derry : aduuuh , sakit niiitt... kan aku jujuur..
Nita : itu karena zia adek organisasi ku, dia aku jadiin wakil .. dan kamu deket sampe kirim foto foto gituan sama dia
Derry : maaf dong nit, kan aku.. (PLAKKKK)
sekarang gantian pipi kanan ku yang terkena tamparan nita..

Nita : itu buat kamu ml sama hani .. dan ini (PLAKKKK!)
tamparan keempat kalinya menjurus pipi kanan

Derry : aaah stooop stoop, iya iya aku tau.. ini buat ml sama hana kan? iya kan?
PLAKKK ! tamparan ke lima.. ah nita dapet piring cantik nih kalo nampar aku lagi

Derry : aaaaah apalagi ini , kenapa nampar teruuss.. yang kelima ini buat apa cobaa
Nita : karena aku gabisa marah ke kamu .. hihi.. 

Kami pun berpelukan.. Nita kembali memunculkan senyum indahnya itu. Membuat hatiku tenang. Aku pun mencoba kecup jilbabnya bagian kepala . Rasanya langka banget yah punya cewe yang perhatian ke aku gini , sampai aku nyakitin dia pun , dia tetep maafin aku.. 

Nita : derrryyyy....
Derry : iya nit , apa?
Nita : heei , punya mu tegang tah , kok sampe kerasa gini , kan kita cuma pelukaan
Derry : aaah , ehehe maaf niit , mungkin karena kedinginaan..
Nita : ooh , karena dingin apa hangaat?
Derry : ah udah deeh , jangan nggoda gitu niit.. 
Nita : duduk gih..

Nita pun melepas handuk yang menutupi konti ku itu. Secara langsung konti ku terlihat dan nita sudah melihat aku tanpa busana sehelai pun. Dia memulai dengan memegang konti ku perlahan.. sembari senyum dan memandangku , nita bertanya..
Nita : boleh aku muasin kamu der?
Derry : (aah senyuman ini.. bener bener senjata khas nita) iyaa nit , boleh banget..
Nita : mungkin kamu bisa ml sama hana , hani , atau mungkin si zia.. tapi maaf ya der , aku belum bisa kasih itu
Derry : aku nggak ngejar hubungan seperti itu nit sama kamu... aku ngerasa memang aku sayang sama kamu.. dari dalam hati..
Nita : (sambil mengocok kontiku) kamu tau bedanya andi sama kamu?
Derry : emm apaan nit?
Nita : kamu menciumku dengan penuh perasaan.. sedangkan andi sepenuhnya cuman nafsu doang..
Derry : ah masa.. mmmhhhh

sambil mengocok konti ku perlahan , nita menciumku dan meminta aku rebahan di kasurnya.. ahh aku udah telanjang bulat gini, nita masih berpakaian lengkap.. Aku merasa seperti diperkosa nih oleh nita..
Nita : mmh , mmmf , mmh derry , aku mau muasin kamu dengan caraku sendiri.. 
Derry : mmmmmmmmh ,mmmh , iya nit.. mmh aku percaya..
Aku pun tak berbuat banyak. Aku lebih menuruti kata nita tentang dia ingin muasin aku.. aku pun tidak mencoba untuk memegang atau membalas ciuman nita. Cukup pasrah dan lebih banyak diam..
Tiba tiba nita sambil menciumku, dia membuka satu persatu kancing bajunya.. aku pun sambil sedikit mengintip , membuat degup jantungku lebih kencang..
untuk pertama kalinya nita membuka jilbabnya.. ya.. dia membuka jilbabnya, dan aku bisa melihat rambutnya yang panjang kira kira setengah punggung itu.. baju nita pun dia lepas, sehingga dia dalam kondisi topless..

Derry : nitaaa, kamu buka jilbab mu? kamu ga malu sama aku?
Nita : (menggelengkan kepala) ini caraku muasin kamu 
Aku melihat nita pertama kali tanpa jilbab , uuuh maniiiis.. apalagi dia sambil sedikit meremas boobsnya sendiri , sampai aku tidak sadar aku mengocok konti ku sendiri
(foto ilustrasi nita ya biar makin ngaceng)

Derry : nita .. kamu.. cakep banget ..
Nita : (tersenyum) sini , aku kangen sama ciumanmu..
aku pun mulai salah tingkah campur super deg degan karena pertama kali aku melihat nita topless gini.. aku pun mencium perlahan dan memutar lidahku perlahan. Sepertinya nita suka dengan caraku menciumnya.. Nita mulai menyedot lidahku seperti biasa.. kali ini iramanya pelan dan lebih lembut. 
Aku pun mulai meremas boobsnya yang terbuka lebar itu.. 

Nita : mmf , aah der , geli.. 
Derry : hihi putingmu udah keras banget ini.. kamu mulai nafsu yaa..
Nita : (mengangguk) boleh aku ngemut punyamu?
Derry : iya nit , habisin kalau bisa..

Nita mulai jongkok dan mengulum konti ku perlahan.. aku yang sedang berdiri hanya bisa menyaksikan wajah cantik nita tanpa jilbab yang sedang mengulum , dan sesekali melirikku .. Aaah bikin aku makin horny aja nih , nita pinter banget..
Nita : aku pengen ngemut lebih daleem.. lebih cepeet.. boleh kan?
Derry : sesuka mu niit , gausah izin segala ke akuu
Nita : oke deeh

aah kuluman nita lebih dalam kali ini.. sesekali aku mendengar nita agak tersedak dengan konti ku itu.. aku kasihan juga kalau dia sampai hampir batuk gitu ngulum konti ku
Derry : nitaaa jangan dipaksaa , udah semampumu ajaa..
Nita : uhuk , uhuk.. enggak papa der , aku suka punya mu yang lagi gede gini.. ngangenin 
Derry : ah punyaku ga segede itu ah, normal kok ini niit..
Nita : normalnya dibuat ml sama temen ya?
Derry : aaah jangan gitu dooong

kuluman nita dipercepat.. aku pun dengan tak sengaja mendorong kepala nita agar kulumannya lebihdalam.. aaaaaah rasanya bikin aku berkicau tak terkontrol. semakin aku mendesah , nita makin mempercepat kulumannya.. duuuuh nita nggoda banget sih inii..

Derry : aah nitaa niit.. aku gamau keluar dulu.. aku juga mau ngemut punya mu nit..
Nita : hmm? iyaa aku berenti niih.. mau ngemut mana? atas? bawah?
Derry : eeeh? nit , kan .. kamu ngelarang aku buat pegang bawah..?
Nita : asal kamu janji gabakal ml sama aku , aku mau kok 
Derry : iya nit , aku janji,, kamu bisa pegang nit janjikuu... 
Nita : hihi iyaa boleh.. 

aku pun langsung tanpa basa basi , melepas celana nita dan melepas cd nya.. akhirnya aku melihat nita full nude.. ah , tiba tiba konti ku terasa tidak tahan , crot sedikit.. gila , body nita nude gini tanpa jilbab , bikin aku bener bener gakuat..

Derry : nit , rebahan gih , aku mau jilat memek mu..
Nita : jangan dimasukin jari ya der , jilat aja boleh
Derry : siap tuan !
Nita : aiiih derry.. aaahh. . gelii.. emmmh enaak

sambil aku jilat keseluruhan memeknya itu , terasa basah dan gurih.. kepalaku terasa didorong keras oleh nita.. nita dengan kakinya dilebarkan , tangan kanannya mendorong kepalaku dan tangan kirinya memegang boobsnya sendiri..
Nita : derry.. emmmh , terusin deer.. aaaiih enaaak teruuus.. mmmh.. sini tanganmu derr..

tanganku diarahkan nita untuk memegang boobsnya.. ah aku gabisa konsentrasi 2 hal gini.. aku gabisa jilat sambil meremas boobsnya.. dengan bantuan tangan nita , boobs nita pun aku remas perlahan.. nita mendesah lebih keras.. aku suruh nita lebih pelan , tapi dia tidak mendengarkan

Nita : derryyy.. enaak terussiiin.. aaaah. aku serasa mau piipiiisss aaaaah
Derry : mmmhh ,, mmmf , mmmffff aku cepetin nit , aku bikin kamu keluar juga nit.. mmmff mmff
Nita : remes boobs ku lebih kenceng deer.. aah rasanya mau keluaar .. teruus jilat teruuss aiiiihhh
Derry : mmf , anget banget memek mu nit , mmmfff mmmfff 
Nita : aaaah deeeerrr....

Syurr syuurrr... cairan putih bening pun muncrat ke wajah ku , dan masih terus keluar dari memek nita.. nita terlihat keenakan saat cairan itu keluar.. dia melepaskan semuanya.. ah dia squirt.. jadi ini toh squirt itu.. aku baru tau...
Tiba tiba nita yang awalnya lemas, langsung bangun dan langsung jongkok.. aku pun didorong nita untuk berdiri dan bersandar tembok.. nita langsung mengulum konti ku tanpa ampun.. sambil tangan kanan mengikuti irama kuluman , dia melirikku dengan tatapan penuh menggoda.. 

kira kira 3 menit saja , aku sudah tidak kuat dengan tingkah nita seperti ini.. lalu
Croott.. crottt aku pun keluar dengan cairan putih kental.. beberapa ada langsung di mulut nita , sisanya muncrat di boobs nita..
sambil membersihkan sperma yang tercecer kemana mana , nita pun tersenyum.. 

Nita : derry , manis lho sperma mu hari ini..
Derry : aah hihi kamu suka nit?
Nita : justru aku yang tanya der , kamu suka cara main gini?
Derry : ah banget nit , aku.. aah kamu cakep banget..

aku memeluk nita erat erat.. awalnya nita kaget.. setelah beberapa detik nita pun membalas pelukanku.. kami pun berciuman lagi dengan French Kiss.. aah aku rasa hal ini romantis sekali.. 
Nita : derry , kamu boleh kok ml sama sapa aja , asal kamu cerita yah ke aku.. 
Derry : looh nit , gak ah aku gamau bikin kamu sakit hati lagi..
Nita : ini memang salahku der , aku jatuh cinta ke sahabat sendiri,, jadi aku mulai enjoy dengan ini.. aku terima kok kalau kamu memang seperti ini juga
Derry : bener gapapa nit ? kalau gitu kan artinya aku ga setia sama kamu.. 
Nita : hei , tunjukin rasa setia mu dengan cara ini.. selama kamu jujur ke aku , berarti kamu setia kan?
Derry : aah tapi kan nit, ga gini caranya
Nita : der , ini karena aku gabisa ngasih kamu ml.. aku cuma bisa muasin pake caraku ini.. dan ga lebih deer..
Derry : makasih ya nit..

Kami pun kembali berpelukan.. aku cium kening nita.. dia terlihat tersenyum bahagia.. aaah senyum ini bikin aku senang menjulang langit.. sayangku ke nita bukan cuma sayang ke sahabat.. serasa lebih daripada pacar pula..

Nita : udah yuk , kita bersih bersih.. lantai jadi kotor juga gara gara cairan ku.. aku juga mau mandi nih
Derry : eeeh boleh aku mandi bareng sama kamu? 
Nita : jangan sayaang.. kapan kapan aja yah ,,
Derry : ah nit , boleh aku buka isi kotak ini?
Nita : sebelum buka , sana cari baju ku yang style nya agak cowo.. sama celana training.. jangan telanjang gitu..
Derry : iyaa.. 

Saat nita ke kamar mandi , aku membuka kotak itu.. apa ini ya kotak yang dibilang hana.. 
isi kotak itu :
Bunga 
Foto foto hana , nita , dan teman teman di RanuKumbolo
Secarik kertas

di dalam foto tersebut , aku lihat nita memegang kertas a3 , dengan tulisan "Me & Him Will Be Here , Soon" dengan senyum gembiranya..
lalu aku membaca isi kertas tersebut.

"Maybe im not Perfect for you"
"but im sure about 1 thing"
"you will make my life Perfect"
" D :* "

Aku tersenyum membaca isi kertas ini..
Nita , aku gabakal ngecewain kamu I Will Make Your Life Perfect , As you Wish For Me 
More aboutCewek Berjilbab Bag.11 [Sempurna]