Tampilkan postingan dengan label Paruh baya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paruh baya. Tampilkan semua postingan

Dosa Yang Nikmat Bag.11

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

"Mau kemana? cantik banget." Celetuk Ria.

"Ini malam minggu, ya mojoklah!" Jelas Lathifa girang, sambil mengoleskan bibirnya dengan lipstik bewarna merah muda, membuat bibirnya terlihat lebi segar.

"Gue gak di ajak ni?" Rengek Ria.

"Mau jadi racun nyamuk?" Dia menyimpan kembali lipstiknya kedalam lemari, kemudian ia menghampir sahabatnya yang sedang tiduran diatas tempat tidurnya. "Makanya cari pacar dong Cin, biar gak kesepian lagi." Sambung Lathifa.

"Gue lagi males pacaran."

"Ah lu gak asyik, eh ngomong-ngomong Ashifa kemana ya?" Tanya Lathifa.

"Gak tau juga, dari habis magrib dia udah ngilang." Jawab Ria.

"Eeehmm... akhir-akhir ini gue perhatiin Ashifa sering banget ngilang, atau jangan-jangan dia udah punya pacar?" Selidik Lathifa sambil menatap sahabatnya.

"Tapi kayaknya gak mungkin deh, kalau memang dia udah punya pacar, seharusnya dia pasti cerita sama kita, tapikan nyatanya dia gak perna cerita kalau lagi deket sama cowok."

"Bener juga sih kata lo, atau jangan-jangan dia kekamarnya Umi Andini? Biasanyakan dia kesana."

"Eh lu udah denger belom, isunya tentang Umi Andini?" Ujar Ria antusias.

"Isu apa?"

"Denger-denger katanya Umi Andini itu lesby loh." Kata Ria, dia mengubah posisi tidurnya. "Gue takut, kalau memang bener Umi Andini seorang lesbian, nanti Ashifa juga ngikut jadi suka sesama jenis kayak Umi Andini." Sebenarnya Ria sudah lama mencurigai sahabatnya yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Umi Andini, dia curiga kalau sahabatnya punya hubungan khusus dengan Umi Andini, mengingat keduanya akhir-akhir ini sering bersama-sama.

"Gue juga mikirnya gitu, tapi mau negur langsung ke Ashifa gue merasa gak enak." Jelas Lathifa.

"Ya udalah, toh kita gak punya buktikan."

"Nanti aja kita omongin lagi ya, gue udah telat ni." Ujar Lathifa sambil beranjak berdiri.

"Hati-hati ya Cin, jangan sampe di gerbek hihihi"

"Siap Bos, gue pergi dulu ya... Byee... "
Makan malam kali ini terasa hambar bagi Irma, walaupun saat ini Suaminya sedang menemani dirinya, tapi dia merasa seperti ada yang hilang di dalam dirinya.

Beberapa kali matanya memandang kursi kosong tepat di samping Suaminya, biasanya setiap malam kursi itu selalu di duduki oleh orang paling ia benci sekaligus paling ia rindukan. Pemilik kursi itu adalah Reza, seorang yang telah merubah hidupnya dari Istri yang baik, hingga menjadi seorang Istri yang binal, haus akan sex.

Dimana Reza sekarang? Ya... sesuai janji Iwan, Reza saat ini memiliki rumah sendiri walaupun rumahnya tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk di tinggali. Selain itu Reza juga di angkat menjadi ketua keamanan dan guru olah raga.

"Kamu kenapa sayang, dari tadi manyun terus." Tegur Iwan, yang dari tadi memperhatikan Istrinya.

"Gak apa-apa kok Mas."

"Gak apa-apa gimana, dari tadi makanannya tidak kamu sentuh sedikitpun, apa kamu lagi gak enak badan?" Tanya Iwan, ia merasa khawatir melihat perubahan Istrinya akhir-akhir ini yang kurang bersemangat 

Irma buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik aja kok Mas." Jawab Irma sembari tersenyum.

"Kamu lagi ada masalah?"

"Gak ada kok Mas, semuanya baik-baik aja."

"Kalau begitu habiskan makan malamnya sayang, soalnya Mas udah kangen." Ujar Iwan sembari memberi kode kepada Istrinya, Irma hanya tersenyum mendengar penuturan Suaminya.

"Udah gak sabar ya." Goda Irma.

"Hahaha... mana mungkin Mas bisa sabar kalau di hadapan wanita secantik kamu." Puji Iwan, sembari menatap wajah Istrinya yang bersemu merah.

Irma segera menghabiskan makan malamnya, dia tidak ingin membuat Suaminya menunggu lama, selesai makan ia membereskan sisa makan malam mereka, sementara Suaminya sudah lebi dulu masuk kedalam kamar.

Selesai membereskan sisa-sisa makan malam mereka, Irma menyusul kedalam kamar mereka.

Di dalam kamar Iwan langsung menyambut Istrinya, ia segera memeluk dan mencium bibir Istrinya, sementara Irma lebi memilih menerima perlakuan Suaminya, bahkan ia tidak bereaksi ketika Suaminya mulai menelanjanginya dan kemudian menbawanya naik keatas tempat tidur mereka.

"Malam ini kamu cantik banget sayang!" Bisik mesrah Iwan, berharap Istrinya semakin bersemangat melayaninya Malam ini.

"Gombaal!" Ujar Irma tak kalah mesrahnya.

Irma segera membuka kedua kakinya, dan mengarahkan penis Suaminya untuk segera menyetubuhinya. "Eeehkk...!" Irma mendesah pelan ketika penis Iwan memasuki dirinya.

Walaupun penis Iwan tak sebesar dan senikmat penis Reza, tapi Irma tetap berusaha menikmatinya, ia menggoyang pinggulnya menyambut setiap sodokan dari Suaminya, bahkan tidak sampai di situ saja, Irma mengaitkan kedua tangannya di leher Suaminya dan melumat bibir Suaminya dan berharap ia benar-benar bisa menikmatinya.

"Mas...! aku mencintaimu." Bisik Irma menyemangati Suaminya.

"Aku juga sayang, sangat mencintaimu !" Jawab Iwan yang kemudian semakin cepat menggerakan pinggulnya, hingga terdengar suara nyaring. "Aku mau keluar." Dengus nafsu Iwan yang sudah berada di ujung.

Irma tersenyum kecut, ternyata harapannya lagi-lagi tak bisa di penuhi oleh Suaminya.

Tapi demi menebus kesalahannya akhir-akhir ini, Irma lebi memilih berpura-pura menikmati persetubuhan mereka, ia mengerang dan tubuhnya menggeliat, seakan ia sangat menikmati persetubuhan mereka berdua.

"Aku keluaaaaar!" Pekik Irma bohong, tepat ketika ia merasa sperma Suaminya menembus rahimnya.
Ketika banyak remaja menghabiskan malam minggu mereka dengan pergi ketaman, atau nonton bioskop tapi tidak dengan kedua remaja tanggung ini. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan malam mereka berdua-duaan di pinggir danau jauh dari keramayan yang hanya di terangi rembulan malam ini.

Dengan erat Chakra menggenggam tangan pacarnya, saat ini dia tak sedetikpun ingin jauh dari pacarnya.

Begitupun yang di rasakan Lathifa, ia merasa amat bahagia malam ini, bisa menghabiskan malam berdua dengan seseorang yang sangat ia cintai, walaupun ada rasa takut, kalau nanti ada yang memergoki mereka berdua.

"Kamu yakin di sini aman?" Tanya Lathifa getir.

"Iya aku sangat yakin, kamu gak perlu khawatir di sini tempatnya cukup tersembunyi." Terang Chakra, menenangkan kekhawatiran kekasihnya.

"Iya aku percaya."

Chakra tersenyum, lalu ia mengecup kening kekasihnya, terus turun kematanya dan terakhir melumat bibir kekasihnya. Lathifa membalas pagutan pujaan hatinya, sambil memeluk erat tubuhnya, dan dengan perlahan merebahkan tubuhnya di atas tikar yang di siapkan oleh kekasihnya, membiarkan pemuda itu menindih tubuhnya.

Tangan kanan Chakra meraih payudarah Lathifa, ia meremasnya pelan, merasakan kelembutan bulatan payudarah pacarnya yang sedang dalam pertumbuhan.

"Eehhmmpp...!"

"Bajunya aku buka ya sayang?" Pinta Chakra, gadis itu hanya mengangguk dalam diam.

Perlahan ia menarik keatas kaos yang di kenakan Lathifa, berikut dengan cup branya, hingga di hadapannya saat ini terpampang pepaya muda yang sedang seger-segernya untuk ia nikmati, puttinya yang kemerah-merahan sungguh sangat menggoda nafsu birahinya, untuk segera mencicipinya.

Tanpa meminta izin lagi, Chakra segera melahap putting kekasihnya, menghisap dan mengulum puttingnya, membuat gadis itu merintih semakin keras, kedua kakinya bergerak liar menahan desakan nafsunya yang semakin bergolara.

"Uuuh... Chakra! Aaahkk... pelan-pelan geli." Rintih Lathifa sambil memegangi kepala Chakra yang sedang menyusu di atas payudarahnya.

Tangan kanan Chakra merayap melewati perut Lathifa, lalu jari jemarinya begitu lihai membuka resleting celana yang di kenakan Lathifa, gadis muda itu sedikit membantu dengan mengangkat sedikit pinggulnya, membiarkan Chakra menurunkan celananya hingga sebatas pahanya.

Jari tengah Chakra menggesek-gesek belahan vagina Lathifa yang sudah nampak basah, membuat Lathifa menggeliat semakin parah, mengerang hebat.

Walaupun ini adalah kali kedua Lathifa di cumbu oleh Chakra, tetap saja ada perasaan malu, dan gerogi setiap kali matanya melihat senyum mesum kekasihnya yang tampak begitu bahagia karena bisa menikmati keindahan tubuhnya.

"Aku bolehkan buka celana dalam kamu." Tanya Chakra.

"Jangan sayang, kamukan udah janji hanya sebatas ini saja." Ujar Lathifa mengingatkan janji yang sebelumnya perna di ucapkan oleh kekasihnya.

"Aku hanya ingin melihatnya." Bisiknya, sembari tangannya menyingkap pinggiran celana dalam Lathifa sehingga jarinya dapat menyentuh bibir vagina Lathifa.

Kepala Lathifa mengada keatas, dia tak bisa membohongi dirinya, kalau ia sangat menikmati ketika bibir vaginya di sentuh oleh jari nakal Chakra. Bahkan ia tak dapat berbuat banyak ketika Chakra menarik lepas celana dalamnya.

Lathifa memalingkan wajahnya, ia merasa amat malu dengan kondisinya saat ini.

Kerudung yang ia kenakan kini sudah tak berbentuk lagi, begitu juga dengan kaosnya yang sudah tersingkap keatas berikut dengan bra yang ia kenakan, dan nasib yang sama di alami oleh celananya yang suda di tarik turun hingga sebatas betisnya, menampakan sepasang paha mulusnya dan vaginanya yang di tumbuhi hutan rimbun di permukaan vaginanya.

"Jangan Chakra, kamu sudah janjikan?" Pinta Lathifa takut-takut saat melihat Chakra yang mulai membuka pakaiannya hingga telanjang bulat.

Walaupun ini untuk kedua kalinya bagi Lathifa melihat penis Chakra, tapi tetap saja ia merasa takut, dan tegang.

"Kamu sayang akukan?" Tanya Chakra.

"Iya, tapi jangan seperti ini, aku mohon!" Lathifa menggenggam erat tangan Chakra, tapi pemuda itu malah mengarahkan tangan Lathifa kearah penisnya. Tentu saja Lathifa kaget, tapi ia menuruti keinginan pacarnya untuk menggenggam penis tersebut.

Chakra kembali memanggut bibir Lathifa, dan meminta Lathifa untuk mengocok penisnya, dan gadis itu walaupun merasa enggan ia tetap mengikuti keinginan pacarnya, tangan mungilnya bergerak mengocok penis pacarnya, sembali membalas pagutan pacarnya, membelit dan menghisap lidah pacarnya.

Lidah Chakra turun menjilati dada Lathifa secara bergantian, memainkan dan menghisap puttingnya dengan rakus penuh nikmat, sementara tangannya kembali turun membelai bibir vagina Lathifa hingga gadis itu mengerang semakin dalam.

Ciumannya kembali turun keatas perut Lathifa, dia menari-nari diatas pusarnya, dan dengan perlahan dia membuka kaki kanan Lathifa sehingga bibr vaginanya terkuak, perlahan Chakra mulai menciumi bagian dalam pahanya, sementara tangannya menstimulasi payudara Lathifa.

"Udaaaaah... Aahkk... " Erang Lathifa memohon.

Tapi Chakra yang di kuasai iblis sama sekali tidak mengubris rintihan pacarnya, bahkan ia semakin bernafsu ingin menodai Lathifa seutuhnya.

Lida iblisnya kembali terjulur, menyapu belahan bibir vagina Lathifa, menghisap dan memainkan clotoris Lathifa, membuat gadis 16 tahun itu merintih nikmat penuh dosa. Ajaran-ajaran Agama ia dapatkan selama ini hilang sudah, di telan oleh nafsu birahi, dan inginannya untuk mencapai klimaks.

"Aaaaaaa.... " Ia mengerang hebat tatkalah badai orgasme datang menghempaskan dirinya.

Chakra tersenyum puas karena berhasil membuat wanitanya tidak berdaya, dia membelai pipi Lathifa sambil mengecup lembut bibir Lathifa, sementara tangannya kembali membuka kaki Lathifa sambil memposisikan tubuhnya di atas tubuh kekasihnya, dan mengarahkan penisnya tepat di belahan bibir vagina Lathifa.

Dengan perlahan ia menggesek-gesekan penisnya kearah bibir vagina Lathifa, sadar akan bahaya yang mengancamnya, Lathifa kembali memberontak.

Tapi Chakra bukanlah seorang pemuda biasa yang tampa pengalaman, sudah tak terhitung berapa banyak santriwati yang menjadi korbannya, dan saat ini ia berniat ingin merenggut kesucian Lathifa.

"Aku mencintaimu." Bisik Chakra merayu Lathifa, dia kembali meremas payudarah Lathifa. "Sayang, bolehkan kalau aku menyatuh dengamu, sebagai bentuk rasa cinta kita berdua." Dengan perlahan kepala penis Chakra mulai membela bibir vagina Lathifa yang masih perawan.

"Ta... tapi... Aaaahk... " Lathifa memekik perih.

"Aku akan melakukannya dengan pelan." Bisik Chakra, kini posisi Chakra sudah sangat sempurna, dengan satu dorongan, maka Chakra akan memperawani Lathifa.

"Janji jangan tinggalin aku."

"Iya... muahk... aku janji sayang." Lalu dengan perlahan penis itu semakin dalam menembus vagina Lathifa hingga menubruk sesuatu benda tipis.

Dengan senyuman menyeringai, Chakra menghentak pinggulnya, hingga merobek slaput perawan milik Lathifa, gadis itu langsung berteriak kesakitan. "Saakiiiiiiittt.... pelan-pelan." Erang Lathifa, tapi Chakra yang merasa puas karena berhasil memperawani pacarnya semakin cepat menggoyang pinggulnya maju mundur, mengehentak selangkangan Lathifa.

Isak tangis Lathifa pecah, selain karena rasa sakit yang ia rasakan, Lathifa juga merasa sangat bersalah karena telah membiarkan kesuciannya di renggut oleh orang lain.

Sementara yang dirasakan Chakra malah sebaliknya, ia merasa begitu hebat dan perkasa karena bisa merenggut kesucian wanita seperti Lathifa, seorang gadis alim yang lugu, yang begitu mudanya ia tipu dengan rayuan gombalnya.
Cukup lama dia memandangi wajah Suaminya yang sedang terlelap, ada perasaan bersalah yang amat besar di dalam dirinya, karena ketidak mampuannya untuk menjaga kesucian pernikahannya. Tak sadar, ia mulai meneteskan air matanya, isak tangisnya pecah tatkala mengingat bagaimana Reza berhasil memperdaya dirinya, menikmati tubuhnya dan membuat dirinya orgasme beberapa kali.

Dengan perlahan ia turun dari atas tempat tidurnya, rasa haus sedikit mengganggunya.

Saat berjalan menuju dapur rumahnya, bayangan pelecehan yang di lakukan Reza kepadanya kembali terngiang-ngiang di benaknya, bagaimana mungkin seseorang seperti dirinya dengan begitu mudahnya menyerahkan tubuhnya kepada pria berengsek seperti Reza, seorang pria yang tak tau diri.

Bibirnya bergetar, berusaha menikmati air dingin membasuh tenggorakannya yang terasa kering.

"Bajingaaan... " Sesal Irma, ia terduduk di kursi yang tak jauh dari kulkas tempat ia mengambil minumannya "Seharusnya ini tidak perlu terjadi, kalau seandai saja aku bisa menahan nafsu iblisku." Gumam Irma menyesali apa yang telah terjadi saat ini.

"Sayang...!" Dengan perlahan Irma mengangkat kepalanya saat mendengar suara panggilan dari.orang yang amat sangat ia kenal. Tak jauh dari dirinya saat ini, Iwan berdiri lalu berjalan menghampirinya.

Buru-buru Irma menghapus air matanya, ia tidak ingin Suaminya tau kalau saat ini dia sedang bersedih.

"Kamu kenapa sayang?" Tanya Iwan.

Irma menggeleng lemah, sambil tersenyum. "Gak apa-apa kok Mas, Ehmm... Mas.kok belom tidur?" Tanya Irma hendak mengalikan permbicaraan.

"Mas tadi kekamar mandi, terus liat kamu lagi duduk di sini."

"Mas mau minum?" Tawar Irma, Iwan mengangguk lalu ia mengecup kepala Istrinya.

Irma segera menuangkan air kedalam gelas dan menyerahkan gelas tersebut kepada Suaminya. "Terimakasi." Kata Iwan sembaril meminumnya.

"Kita kekamar lagi yuk Mas, aku udah ngantuk ni." Ajak Irma.

"Tapi beneran kamu gak apa-apa sayang, soalnya tadi kayaknya aku mendengar suara tangisan kamu." Tanya Iwan yang masi merasa khawatir terhadap Istrinya.

"Beneran Mas, aku gak apa-apa dan aku gak nangis kok Mas, mungkin tadi mas salah denger." Jawab Irma berbohong, dia merasa beruntung karena tadi tidak menghidupkan lampu dapurnya, kalau tidak Iwan bisa melihat sisa-sia air matanya.

"Ya udah kalau gitu, ayuk kita tidur lagi."

Iwan menggandeng mesrah tangan Istrinya menuju kamar mereka berdua.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.12
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.11

Dosa Yang Nikmat Bag.09

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

Irma duduk di tepian tempat tidurnya, ia menangis dalam diam di dalam pelukan seorang pria yang bukan muhrimnya, dia adalah Reza, seorang pria yang sudah merubah hidupnya yang dulu sebagai wanita baik-baik, kini menjadi wanita liar.

Dia mendekap, membelai pundak telanjang Irma dan sesekali ia juga menyeka air mata Irma.

"Kenapa Mas ?" Katanya lirih.

"Karena kamu wanita hebat, kamu bisa melayani 4 orang sekaligus, kamu sangat luar biasa, pelacur sekalipun tidak akan sanggup melayani 4 orang sekaligus, tapi kamu bisa melakukannya dengan baik." Jelas Reza dengan nada yang tampak begitu bangga.

"Ini semua gara-gara kamu." Umpat Irma, entah dia harus marah atau senang dengan perubahan yang terjadi kepada dirinya.

"Tapi kamu menyukainyakan ?" Goda Reza, tangan kirinya turun membelai paha mulus Irma, lalu menuju keselangkangan Irma. Ia membelai pelan bibir vagina Irma, membuat wanita baik-baik itu menggigit bibirnya menahan rasa geli yang amat sangat.

"Cukup Mas." Rintih Irma.

"Oke... oke... kamu pasti capek." Reza menghentikan aksinya, lalu ia berdiri dan mengenakan kembali pakaiannya. "Malam ini cukup sampai di sini, tapi lain kali, aku akan meminta lebih. Ingat jangan coba-coba lari, kecuali kamu mau video ini sampai ketangan Suami kamu." Sambung Reza sembari tersenyum licik.

"Bajingan kamu Mas." Umpat Irma.

Tapi Reza tidak memperdulikannya, setelah mengenakan pakaiannya, ia berjalan gontai meninggalkan Irma sendirian di dalam kamarnya sambil menangis.

-------------

Nadia sangat terkejut, ketika sadar seseorang pria ada di dekatnya, parahnya lagi ia tertidur di dalam pelukan pria tersebut. Dengan perlahan ia melepas pelukannya, tapi tak ada reaksi dari pemuda tersebut.

Ternyata Raditya juga tertidur sambil memeluknya raut wajahnya yang tampan mengisyaratkan kelelahan.

Dengan sangat hati-hati dia mengembalikan lengan Raditya dari pundaknya kesamping tubuh Raditya, tapi ternyata gerakan tersebut malah membuat Raditya terbangun dari tidurnya.

"Eh... maaf Kak." Ujar Raditya buru-buru menyingkir dari samping Kakak iparnya.

"Gak apa-apa kok Dit, seharusnya Kakak yang minta maaf karena tadi sempat memelukmu." Kata Nadia bersemu malu mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

"Eh... iya!" Jawab Raditya.

Lalu suasana mendadak hening, mereka hanya saling menatap malu, ada keinginan untuk saling menghangatkan, memeluk dan di peluk, tapi batasan-batasan yang mereka yakini membuat mereka bertahan di posisi mereka masing-masing.

Tiba-tiba saja tangannya Nadia di genggam Raditya, membuat Nadia menjadi salah tingkah.

"Kakak kenapa nangis?" Tanya Raditya.

"Eehmm... gak apa-apa kok Dit, Kakak cuman lagi ada sedikit masalah." Jawab Nadia, sambil hendak berusaha menarik tangannya, tapi Raditya malah mengenggamnya semakin erat.

"Masalah apa Kak? Siapa tau aku bisa bantu, setidaknya bisa meringankan beban Kakak." Ujar Raditnya, ia menggeser posisi duduknya sehingga tubuh mereka kembali berdekatan.

"Gak apa-apa kok Dek, beneran."

"Kak... "

"Ini masalah Masmu Dek." Jawab Nadia yang akhirnya menyerah.

"Kenapa dengan Mas Jaka Kak ?" Tanya Raditya semakin penasaran.

"Kamu taukan kalau sampai saat ini Kakak belum juga hamil, dan semua orang menyalahkan Kakak, termasuk Mama kamu. Tapi yang sebenarnya patut di salahkan adalah Masmu, karena dia tidak mampu menghamili Kakak, tapi kenapa Kakak yang harus menanggung semuanya." Jelas Nadia, dia kembali terisak membuat Raditya kasihan kepadanya.

Raditya tau betul apa yang di rasakan Kak Nadia, kebanyakan orang bertanya dan menyalahkan Kak Nadia karena belum memilik keturunan, termasuk dirinya yang mengira Kakak Iparnya mandul.

Raditya sedikit merasa bersalah karena dulu ia juga perna memojokkannya.

Tanpa sadar Raditya kembali memeluk Kakak iparnya sebagai bentuk perhatiannya terhadap masalah yang di alami Nadia, tapi Nadia salah mengartikan pelukan Raditya, ia merasa Raditya menyukainya, karena pelukan yang di lakukan Raditya terasa hangat dan nyaman, sangat berbeda ketika Suaminya yang memeluk dirinya.

Maafkan aku Mas, tapi saat ini aku sangat membutuhkan sandaran.

Nadia dengan sadar membalas memeluk pinggang Raditya, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Adik iparnya.

"Maaf ya Dek."

"Iya gak apa-apa kok Kak, Kakak yang sabar ya, kalau butuh sesuatu kasi tau aku, sebisa mungkin aku akan membantu Kakak." Ucap Raditya, dia memberanikan diri mengecup kening Kakak iparnya.

"Terimakasi Dek!"

-----------

 
Erlina

Keesokan harinya di tempat yang berbeda.

"Bangun sayang ini sudah jam berapa." Panggil seorang wanita yang baru saja masuk kedalam kamar anaknya, dia duduk di tepian tempat tidur anaknya, sambil membelai sayang kepala anaknya.

Sang anak yang bernama Aldi, tampak menggeliat pelan, ia membuka matanya perlahan, melihat memandang Ibunya yang sedang membangunkannya.

Aldi mengangkat kepalanya, lalu menaruhnya kembali di atas pangkuan Ibunya, sementara Erlina sendiri tanpak tidak keberatan dengan sikap manja anaknya, karena memang ia yang selalu memanjakan anaknya, menganggap putranya masi anak-anak walaupun saat ini Aldi sudah beranjak remaja.

Satu persatu Erlina membuka kancing piyama anaknya, hingga Aldi bertelanjang dada.

"Mandi yuk sayang, nanti kamu telat loh !" Bujuk Erlina.

"Iya Umi." Jawab Aldi, masi dalam keadaan mengantuk, Erlina mengajak putranya kekamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Erlina segera membuka pakaiannya, dari kerudung hingga gaun panjangnya, dan hanya menyisakan pakaian dalam yang berwarna serba ungu yang menutupi bagian intim tubuhnya.

Erlina memang sudah terbiasa telanjang di depan putranya, baginya bukan hal yang baru berada di satu ruangan dengan putranya dalam keadaan telanjang, walaupun akhir-akhir ini ia lebih sering mengenakan pakaian dalam ketika sedang memandikan putranya.

Berbeda dengan apa yang di rasakan Aldi, bagi anak remaja itu, melihat Ibu kandungnya telanjang, atau nyaris telanjang selalu memberikan sensasi yang berbeda, dia selalu terangsang setiap kali melihat kemolekan bentuk tubuh Ibu kandungnya. Apa lagi ketika berada di luar, Ibunya selalu menakan pakaian tertutup, dan itu membuat sensasi yang ia rasakan semakin bertambah.

Erlina menarik turun celana piyama putranya, hingga burung kecilnya yang sedang berdiri langsung mencuat keluar malu-malu.

Erlina mulai menyirami tubuh putranya, menggosok seluruh tubuh putranya dengan tangan telanjang, lalu usapan tangan Erlina turun menuju burung anaknya, menggosok pelan, membuat Aldi diam-diam mendesah nikmat, sambil memandangi belahan dada Ibunya yang bergoyang-goyang.

Setelah tubuhnya rata terkena air, Erlina mengambil sebotol sabun cair dan menumpahkan sabun cair ketangannya, dan mengusapkan busa sabun tersebut keseluruh tubuh anaknya.

Selama proses memandikan itu, mata Aldi tidak perna berhenti bergerak, menatap, menikmati belahan payudara Iburnya, dan selangkangannya. Celana segitiga itu samar-samar menampakan rambut kemaluannya yang hitam dan begitu lebat.

Selesai mandi, Erlina segera mengeringkan tubuh putranya dengan handuk.

"Umi aku ganti baju sendiri ya?" Pinta Aldi.

"Eehmm... kenapa?" Erlina merinyitkan dahinya, mendengar permintaan Putranya.

"Aldikan uda besar Umi, masak sudah SMP Aldi masi di mandiin, di gantiin baju, kan malu Umi... " Jelas Aldi, Erlina seperti tidak perduli.

Dia melepas handuk putranya, lalu mengambil seragam putranya di dalam lemari.

Sebenarnya Erlina mengerti saat ini Aldi bukan lagi anak-anak ia sudah tumbuh menjadi anak remaja, terbukti akhir-akhir ini setiap kali memandikan anaknya, burung kecil anaknya selalu berdiri, dan kedua bola mata anaknya selalu menatap dirinya dengan tatapan nanar, seolah ingin menerkam dirinya.

Tapi entah kenapa ia tidak ingin mengakui kalau anaknya suda remaja, baginya Aldi tetaplah Aldi yang dulu, dia masi anak-anak, sehingga ia tidak perlu membatasi diri ketika bersama putranya.

"Siapa bilang kamu sudah besar sayang?"

"Aldi sudan SMP Umi." Jawab Aldi yakin.

"Walaupun kamu sudah SMP, tapi kamu masih tetap anak-anak sayang, buktinya titit kamu ini, masih kecil sama seperti dulu, belum ada rambutnya juga seperti punya Umi atau punya Kakak kamu." Jelas Erlina sambil mengamati dan memegang burung putranya yang berukuran tak lebi dari ujung jari telunjuk.

"Tapi Umi... "

"Udah gak tapi-tapian, angkat kaki sayang." Aldi menurut, ia mengkat kakiknya ketika Ibunya ingin mengenakan celana dalamnya.

Selesai mengganti pakaian, Erlina mengambil handuk besar yang ia bawak tadi dan mengenakan handuknya, melilitkan ketubuhnya. Sementara Aldi hanya diam sambil memandangi Ibu kandungnya.

"Umi mandi dulu ya sayang, cup.. cup... cup..." Erlina mencium sekujur wajah putranya, lalu ia keluar dari kamar putranya.

---------------------

"Buruan Shifa, nanti kita telat lagi...!" Teriak Ria saat melihat sahabatnya yang masi sibuk mandi, dan belum ada tanda-tanda kalau ia akan segera selesai.

"Ayo dong Shifa, yang lain udah selesai semua." Timpal Lathifa yang juga merasa khawatir.

"Kalian duluan aja!"

"Lo mau di hukum lagj ?" Kesal Lathifa.

"Ya gaklah, kaliankan tau kalau gue sama Umi Andini itu deket, jadi kalian gak perlu khawatirin gue, udah sana kalian duluan aja." Terang Asyfa mengusir kedua sahabatnya.

"Udalah yuk, kita duluan." Ajak Ria sambil mengamit tangan sahabatnya Lathifa.

"Yuk... "

"Da... " Ashifa melambaikan tangannya, lalu kembali mengguyur tubuhnya dengan air.

Tak lama kemudian, ketika suasana benar-benar sepi, seorang wanita masuk kedalam pemandian umum, ia tersenyum melihat seorang gadis yang sedang berdiri sambil menyiram tubuhnya. Ia berjalan santai dengan kedua tangan ia lipat didadanya.

"Ck... ck... ck... lagi-lagi kamu." Tegur wanita tersebut.

"Eh... Umi, bentar lagi ya Umi." Pinta Ashifa cuek sambil tetap mengguyur tubuhnya dengan air.

"Udah mandinya, nanti kamu terlambat kesekolah loh, atau mau Umi hukum?" Katanya mengancam, tapi terdengar seperti bukan ancaman.

"Bentar lagi Umi."

"Eehmmm uda berani ngebantah ya sekarang." Ujar Andini sambil nendekari muridnya yang pura-pura cuek sambil menyiram tubuhnya dengan air.

Ashifa cemberut, tapi dia menurut ketika Andini menariknya dan membawanya keruang ganti.

Andini segera mengunci pintu kamar ganti, lalu ketika ia berbalik, Ashifa sudah berdiri telanjang bulat, menampakan payudarahnya yang ranum dan lipatan bibir vaginanya yang tampak begitu menggoda.

Tanpa banyak bicara, Andini langsung memeluk tubuh muridnya, ia memanggut bibir Ashifa, sementara kedua tangannya meremas gemas bongkahan pantat Ashifa.Sementara Ashifa sendiri juga tidak mau diam, dia membalas memanggut bibir gurunya, sambil mempreteli jubah gurunya dan menjatuhkannya kelantai.

Andini melepas pagutannya, sembari tersenyum ia menatap dalam-dalam mata muridnya. "Kamu nakal sekali sayang." Gumam Andini nyaris tidak terdengar.

Kemudian Andini melepas bra, hingga payudarahnya menggantung bebas, menyisakan celana dalamnya yang terikat oleh dildo besar di depan celana dalamnya, bersiap untuk menghukum muridnya.

"Kita tidak punya waktu banyak Umi."

"Iya sayang, Umi mengerti." Bisik Andini, lalu ia mengangkat satu kaki Ashifa, sementara tangan satunya mengarahkan dildo tersebut kecela-cela bibir vagina muridnya, lalu dengan perlahan dildo itu melesat masuk kedalam vagina Ashifa.

"Aaaahkk...!"

"Mengeranglah sayang, Umi senang melihat kamu menikmati setiap tusukan yang Umi berikan." Ujar Andini, kemudian ia mengulum payudarah Ashifa.

Ashifa melingkarkan kedua tangannya di leher Andini, sambil mengerang ia ikut menggoyangkan pinggulnya, menyambut dildo besar milik Andini yang sedang menghujami vaginanya.

Kemudian Andini meminta muridnya untuk membelakanginya, menghadap tembok, dan tanpa protes sedikitpun Ashifa mengikuti keinginan gurunya, dia sedikit menunggingkan pantatnya yang bulat, lalu dari belakang Andini kembali menghujani vagina muridnya dari belakang. Tanpa di sadari Andini, Ashifa mencapai klimaksnya untuk kedua kalinya.

"Aaahkk... Umi, Aaahkk... aahkk... !"

"Kamu sukakan sayang, memek kamu Umi sodok seperti ini, tetek kamu Umi peres-peres." Bisik Andini di telinga muridnya yang sedang mengerang nikmat.

"Eehmm... Ashifa mau di hukum setiap hari kalau kayak gini cara menghukumnya."

"Dasaar anak nakal." Ujar Andini.

Tak lama kemudian tubuh Ashifa kembali bergetar, kedua kaki Ashifa tak lagi bisa menopang tubuhnya, sehingga ketika orgasme itu datang, tubuh Ashifa melorot mau jatuh kelantai, tapi Andini dengan cepat menahan tubuh murid kesayangannya.

Plopp...
Dengan perlahan Andini mencabut penis mainannya dari dalam vagina Ashifa.

"Terimakasi ya sayang."

"Iya sama-sama Umi, cup... " Ashifa mengecup pipi Andini.

"Ya udah kamu keluar duluan ya, nanti Umi nyusul, kalau kita barengan nanti ada yg melihat." Jelas Andini sambil menyerahkan kain dan kerudung muridnya.

Ashifa segera melilitkan kainnya, lalu memasang kerudungnya. "Umi, aku duluan ya." pamit Ashifa.

'Iya sayang, hati-hati." Jawab Andini.

Andini tersenyum melepas kepergian muridnya, lalu setelah muridnya menghilang dari pandangannya, ia melepas ikat pinggang dildonya berikut dengan celana dalamnya. Perlahan ia memasukan benda tumpul itu kedalam liang vaginanya.

Perlahan ia memompa vaginanya, menikmati setiap gesekan dildo tersebut dengan dinding rahimnya. "Aaaa... Eeehmm... Shifaa... Aaaa... " Ia mengerang, menikmati masturbasinya.

Dan tanpa ia sadari, sedari tadi sepasang mata sedang mengamatinya, dia merekam adegan panas antara seorang guru dan murid di dalam ruang ganti melalui kamera hpnya. Pria itu tersenyum, lalu ia menyimpan kembali hpnya kedalam saku celananya.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.10
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.09

Dosa Yang Nikmat Bag.08

Posted by Unknown

Lanjutan Dari
Dua orang pria dengan cepat menyergap seseorang wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, lalu menariknya hingga terjatuh keatas tempat tidurnya. Saat tersadar, Irma sangat panik ketika melihat empat orang pria bertopeng tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamarnya, dia berusaha memberontak melepaskan diri, tapi dia gagal karena tenaga keempat pria itu terlalu kuat untuk dirinya.

"Diaam, atau kamu mau kami bunuh ?" Ancam seseorang dari mereka sambil menunjukan pisau di tangannya.

"Si... siapa kalian ? tolong lepaskan saya !" Mohon Irma, dia sangat ketakutan, dia tidak menyangkah kalau malam ini akan menjadi malam tersial baginya.

"Jangan takut, kami hanya ingin bersenang-senang hehe... " Jawab mereka sambil membelai wajah cantik Irma, membuat Irma dengan terpaksa memalingkan wajahnya karena menahan rasa jijik dan takut.

"Mau apa kalian ? Tolooong... tooolong... !" Teriak Irma merontah-rontah ingin melepaskan diri.

"Percuma Bu, gak akan ada yang denger."

"Mending Ibu nurutin apa kata kita-kita." Timpal seseorang dari mereka.

"Jangan sakiti saya Mas, silakan ambil apa yang kalian mau di rumah ini, tapi setelah itu kalian boleh pergi dari rumah saya." Ujar Irma pasrah, dia berharap mereka berempat hanya ingin mengambil hartanya.

Keempat pria bertopeng itu saling pandang, lalu sedetik kemudian mereka tertawa lebar.

Seseorang dari mereka tiba-tiba menarik handuk Irma hingga terlepas, membuat wanita itu terpekik kaget, tapi tak bisa berbuat apa-apa ketika tubuh telanjangnya untuk kedua kalinya menjadi santapan pria lain.

"Maaf Bu Ustadza yang terhormat, kami tidak butuh harta benda atau uang Ibu, yang kami inginkannya hanya bersenang-senang dengan tubuh anda. Saya berharap anda bisa bekerjasama, sehingga kami tidak perlu menyakiti, apa lagi harus membunuh anda dengan pisau ini."

Irma terdiam, ada perasaan takut saat mendengar ancaman mereka, bisa saja mereka memang benar-benar nekad membunuhnya dan membuang mayatnya. Membayangkannya saja sudah sangat menakutkan, apa lagi kalau harus benar-benar merasakannya.

"Bagaimana Bu ? Ini tidak akan lama kok, setelah kami puas kami akan segera pergi." Ujar seseorang dari mereka.

"Kalian tidak akan bohongkan, kalian tidak akan membunuh saya, kalau kalian sudah puas." Tanya Irma, memperjelas ucapan keempat pria bertopeng tersebut.

Keempat pria tersebut saling pandang, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Begitu juga dengan Irma, dia seakan tidak yakin dengan ucapannya sendiri, dia merasa bahkan perkataan itu seperti bukanlah keluar dari mulutnya.

Tapi apa yang bisa di lakukan Irma ? Dia juga sadar, pemerkosaan terhadap dirinya juga tak akan bisa terelakan, bagaimanapun juga mereka berempat akan tetap menggilirnya dengan cara paksa dan setelah itu mereka akan membunuhnya, untuk menutupi perbuatan mereka. Irma terntu saja dia belum siap untuk mati, dia sadar betul dosa yang ia perbuat selama ini sangat besar.

Dari pada nantinya dia perkosa secara berutal dan akhirnya di bunuh, Irma lebi memilih menyerah, toh... dia juga bukan Istri yang suci lagi, dia wanita kotor yang jauh lebi menjijikan ketimbang wanita penghibur sekalipun.

"Seriuuuss... !" Tanya seseorang tampak tidak percaya.

"Iya, tapi dengan syarat." Jawab Irma ragu-ragu.

"Oke, syaratnya apa ni ?"

"Kalian boleh menggilir saya, tapi jangan main kasar, dan tolong setelah ini lepaskan saya, jangan bunuh saya." Ujar Irma, dengan bibir gemetar, dia sangat ketakutan sekali.

"Cuman itu ?" Irma mengangguk. "Baiklah, kami setuju." Jawab salah satu dari mereka.

Lalu pria itu seperti memberi aba-aba, kemudian ketiga pria lain segera membuka pakaian tanpa melepas topeng mereka hingga telanjang bulat, Irma melotot saat melihat ukuran penis mereka yang ternyata ukurannya lebi besar ketimbang milik Suaminya walaupun tak sebesar punya Reza.

Mereka bertiga langsung mengepung tubuh Irma, seseorang bermain di atas payudarah Irma, dia meremas dan menciumi payudara Irma secara bergantian, membuat Irma kegelian, tapi dia menyukainya dan sama sekali tidak protes.

"Ayo dong Ustadza, kulumin kontol saya hehe... " Seseorang yang berada di samping Irma menyodorkan penisnya di hadapan Irma.

Walaupun masi tersisa rasa tidak rela membiarkan pria lain menyentuh tubuhnya, tapi Irma berusaha menikmati pemerkosaan yang terjadi kepada dirinya.

Dia menggenggampang penis pria tersebut dengan jari-jarinya yang lembut, lalu mengocoknya perlahan sambil menjilati kepala penisnya beberapa detik, dan kemudian membuka mulutnya, melahap habis penis pria tersebut. Sementara itu, di bawah sana kedua kakinya di buka lebar, dan Irma sama sekali tidak melawan, walaupun dia tau kalau pria tersebut ingin menyetubuhi dirinya.

"Eehmmpp... " Irma merintih pelan dalam keadaan mulut tersumbat penis, ketika benda tumpul itu memaksa masuk, menbongkar pintu vaginanya 

"Anjrriiit... sempit banget !" Keluh seorang pria yang sedang ingin memasukan senjatanya kedalam tubuh Irma.

Sleep… Begitulah kira-kira bunyinya ketika penis pria itu menancap kedalam vagina Irma, masuk semakin dalam hingga menubruk dinding rahimnya.

Semakin lama penis pria itu terasa semakin dalam, Irma hanya dapat merenyitkan dahinya menahan rasa sakit dan nikmat ketika vaginanya mulai di sodok-sodok kasar oleh pria tersebut sambil mencengkrang kedua pahanya.

Suasana terasa semakin erotis, tatkalah seseorang menaiki perutnya, lalu meminta Irma menjepit penis pria tersebut diantara kedua payudarahnya, lalu pria itu mulai menggesek-gesekkan penisnya diantara jepitan payudara Irma sambil memandangi wajah Ustadza tersebut yang sedang mengoral penis sahabatnya.

"Gila enak banget memeknya !" Celetuknya sambil menikmati jepitan vagina Irma.

"Habis kamu, giliran saya ya... !"

"Eeitts... gak bisa, jangan lupa perjanjian kita sebelumnya, habis dia aku dulu." Potong pria yang sedang menikmati di oral oleh Irma. "Mulutnya juga enak kok, habis ini kamu harus coba mulutnya dulu." Sambung pria tersebut sambil membelai rambut Irma yang terurai.

"Terserah kalian aja."

"Hahahaha... "

Irma yang mendengar obrolan mereka hanya bisa berpura-pura tidak mendengarnya, walaupun hatinya sedih tapi ia berusaha tegar, dan berharap malam keji ini cepat berakhir.

Seorang pria yang tadi menyodok vaginanya semakin cepat menyodok vaginanya, tubuh pria itu yang bermandikan keringat mulai mengejang, Irma tau sebentar lagi pria itu akan mencapai klimaksnya membuat ia mulai ikut agresif, menggerekan pinggulnya, membantu pria itu agar cepat memuntahkan spermanya kedalam rahimnya.

Dan benar saja, beberapa detik kemudian pria itu mencabut penisnya lalu memuntahkan spermanya keatas perur Irma.

"Gilaa... puas banget rasanya, memek Ustadza ternyata rapet banget ya, hak... hak... hak... " Tawa pria tersebut, mengejek Irma yang tak berdaya. "Ayo sekarang giliran siapa ? Aku mau istirahat dulu ni, capek juga." Tawarnya, lalu dia menggeser posisinya dan duduk di pinggiran tempat tidur yang kosong.

"Giliran aku ya." Ujar seseorang sambil mencabut penisnya.

Irma menarik nafas panjang, dia tau siksaannya belum berakhir karena masi ada tiga lagi yang belom menikmati vaginanya. Sekarang giliran pria yang tadi menikmati mulutnya, untuk menikmati jepitan vaginanya.

Irma menurut saat di minta menungging, lalu dari belakang seseorang sudah bersiap untuk menyetubuhinya.

Tapi ketika penis itu hampir menusuknya dari belakang, tiba-tiba sudut matanya menangkap seseorang pria yang berdiri di dekatnya sedang mengarahkan handicam kepadanya, Irma yang kaget berusaha memprotes, tapi sebelum Irma ngeluarkan suara protesnya, seseorang yang tadi menikmati jepitan dadanya tiba-tiba saja menjejalkan penisnya kedalam mulut Irma.

Sementara itu orang di belakangnya sudah menjejalkan vaginanya dengan penisnya, dan menyodok-nyodok kasar vaginanya dari belakang tanpa ampun.

"Buka topeng kalian." Perinta pria yang sedang memegang handicam di tangannya.

Irma semakin kaget ketika satu persatu dari mereka membuka topeng mereka, di mulai dari pria yang memegang handycam yang ternyata adalah Reza, lalu di lanjut dengan seorang pria yang barusan menikmati tubuhnya yang ternyata adala satpamnya yang bernama Rojak, lalu kemudian di susul dengan pria yang sedang ia oral yang ternyata adalah Budi, dan yang terakhir adalah Dewa yang saat ini sedang menikmati vaginanya.

Tentu saja Irma marah dengan perbuatan Reza yang berani merencanakan pemerkosaan terhadap dirinya, tapi di sisi lain dia merasa lega karena ternyata Reza yang merencanakan kejutan besar malam ini untuknya. Setidaknya ia tidak perlu khawatir kalau Reza akan menyakiti dirinya.

"Kamu pasti menyukainyakan ?" Ledek Reza sambil mengeshot wajar Irma dari jarak dekat. "Kamu seksi sekali kalau lagi ngemut kayak gitu, saya yakin pasti banyak cowok di luar sana kepingin merasakan oral dari kamu." Lanjut Reza sambi tersenyum cengengesan.

"Gila Boss, mulutnya enak banget !" Ujar Budi yang sedang memperkosa mulut Ustadza alim itu.

"Itu belum seberapa, kamu harus coba memeknya Bud." Celoteh Rozak yang membuat telinga Irma terasa panas mendengar ucapannya.

"Hahaha... kamu kenapa Irma ? Seharusnya kamu senang, karena sudah bikin mereka puas, wanita itu baru di akui keberadaannya kalau bisa memuaskan pasangannya, dan kamu bisa memuaskan mereka semua." Puji Reza, lalu dia beralih kebelakang dan mulai mengeshot kearah vagina Irma yang sedang di sodok keluar masuk dari belakang.

Setelah mendengar penjelasan Reza, perasaan Irma semakin bercampur aduk, antara marah, kecewa, nikmat dan bangga karena melayani mereka, para pria pengejar nafsu birahi.

Irma seoalah telah melupakan dosa besar yang ia perbuat, saat ini yang ada di benaknya hanya mengejar kenikmatan birahi,.walaupun ia harus mengkhianati pernikahannya yang suci, melupakan kalau saat ini ia sedang di lecehkan.

"Aaahk.... Hhnmpp... Aku dapeeeett... Aaahkk... " Pekik Irma, saat ia mendapatkan orgasme yang kedua kalinya.

Wajah Irma jatuh keatas bantal, dia tak mampu lagi mengangkat kepalanya hanya untuk sekedar memberi servis oral kepada Budi Tapi sepertinya pria itu mengerti, kalau saat ini Irma sangat kelelahan setelah mendapatkan orgasme keduanya 

Berbeda dengan Dewa, pria itu seolah tak perduli kondisi tubuh mangsanya yang kelelahan.

Dewa mencabut penisnya lalu membalik tubuh Irma hingga terlentang, dan kemudian dia kembali menjejalkan penisnya, dan memompa dengan ritme perlahan.

"Eehmm... Ooo.... Aaahk... Aaa... "

"Gimana rasanya Ustadza, enakkan di entot rame-rame." Goda Dewa sambil membelai pipi Irma yang memerah menahan rasa malu dan nikmat. "Jawab dong Ustadzah, enakan mana, di entot rame-rame apa di entot sama Suaminya ?" Tanya Dewa tanpa jeda memompa vagina Istri Ustad Iwan.

Mendengar pertanyaan Dewa, Rozak yang tadi sedang duduk santai tiba-tiba dia mendekat kesisi kanan Irma, sepertinya ia juga ingin mendengar pengakuan Irma, sementara Budi sibuk menampar-namparkan penisnya di wajah cantik Irma.

Pendirian Irma perlahan mulai goyah, awalnya dia berusaha mati-matian untuk mengingkari apa yang ia rasakan saat ini, tapi melihat keempat pemerkosanya, Irma merasa tak ada yang perlu di tutupi lagi, kalau dia memang sangat menikmati cara mereka memperkosa dirinya.

Irma mendesah pelan ketika Rozak merempas susu kanannya dengan cukup kasar.

"Jawab dong... kok diam ! Hehehe... " Ujar Rozak.

"Gak usah malu gitu Ustadza, di jawab aja, biar kita semakin semangat genjot memeknya, nanti habis ini giliran Budi yang dapat jatah buat puasin memeknya Ustadza." Timpal Dewa, dia menekan bagian belakang lutut Irma hingga kedua lutut Irma hampir mnyentuh dadanya.

"Aaah... Aaaaa... Aaaaa.... kaliaaaan ! Ooohkk... "

Gilaa... itulah yang ada pikiran Irma, semakin ia di lecehkan semakin ia terangsang, sedari tadi vaginanya terus-terusan memproduksi lendir cintanya, membuat para pemerkosanya semakin muda menggenjot vaginanya tanpa ampun.

Dia menggigit bibirnya, dan perlahan bibirnya bergerak "Iyaaa... kalian hebat, Aaagkk... ayo setubuhi saya Pak." Ucap Irma, dia mencengkram erat lengan Dewa.

"Ini namanya ngentot, bukan bersetubuh." Ralat Budi.

"Ayo di ulang, yang lebi liar biar saya nyodoknya semakin liar, hehe... !" Timpal Dewa, dia sangat yakin kalau saat ini Irma sudah bertekuk lutut di hadapannya.

"Iya Pak, Aahk... Aaahkk... entot saya Pak, saya mohon sodok memek saya Pak. Kontol Bapak lebih besar di bandingkan punya Suami saya." Kata Irma sambil menatap dengan tatapan memelas, dia merasa vaginanya sangat gatal 


"Na gitu dong Haha !"

Dewa semakin bersemangat menggenjot memek Irma, sementara Irma sendiri tanpa henti mengerang-erang dengan bermandikan keringat, menikmati setiap sodokan yang ia dapatkan dari pemerkosanya, bahkan ia tak segan-segan melingkarkan kedua tangannya di leher Dewa.

Sambil merangkul erat leher Dewa, Irma mendekatkan bibirnya lalu melumat bibir Dewa.

Tak lama kemudian, Irma kembali mencapai klimaksnya, pinggulnya terangkat keatas, dadanya terguncang dan teriakannya sangat keras.

"Ni rasain spermaku Sayang !" Erang Dewa sambil membenamkan dalam-dalam penisnya hingga menyentuh dinding rahim Irma.

--------

Setibanya di sekolah aku tidak langsung pulang kerumah, aku langsung ikut bergabung bersama temanku untuk melaksanakan olah raga sore, sehabis olah raga aku mampir keasrama temanku. Aku baru pulang ketika langit sudah gelap.

Sesampainya di depan rumah kulihat rumahku masi tampak gelap, kupikir rumah dalam keadaan sepi, mengingat Saudaraku yang masi di luar kota.

Aku berjalan santai masuk kedalam rumah, dan keanehan mulai kurasakan, pintu rumah dalam keadaan tidak terkunci.

Apa rumah kami baru di masuki maling ? Ah... tidak mungkin, mana berani maling masuk kedalam lingkungan sekolahku, bisa-bisa ia keluar tanpa nyawa.

Aku mencari tombol lampu, lalu menyelakannya dan saat itulah kudengar suara isak tangis sayup-sayup terdengar dari dalam kamar Saudaraku. Karena merasa khawatir, aku buru-buru membuka pintu kamarnya, dan kudapatkan Kakak iparku sedang meringkuk diatas tempat tidurnya. Aku segera menghampirinya, duduk di tepian ranjangnya.

"Kak!" Panggilku lirih.

Dia menatapku sebentar, lalu sedetik kemudian dia berhamburan memelukku sambil menangis dengan suara yang lebi kencang dari sebelumnya. Membuatku semakin bingung dengan keadaan saat ini, tapi tak mau banyak komentar dulu, kubiarkan ia memelukku dengan erat sambil menangis, menumpahkan emosinya kepadaku.

Tangan kananku merangkul pundaknya, sementara tangan kiriku membelai kepalanya, walaupun aku tidak tau, tapi aku yakin saat ini Kak Nadia sedang ada masalah.

Tak lama kemudian tangisnya mulai mereda, berganti dengan suara dengkuran halus. Apa ia ketiduran ? Ah... biarkan saja, mungkin dia kelelahan.
Bersambug Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.09
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.08

Dosa Yang Nikmat Bag.07

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

Hari-hari Irma kini di warnai rasa takut, tegang, dan perasaan bersalah. Setiap kali bertemu dengan Reza, ingin rasanya ia menghindar, tapi senyuman pria tersebut selalu mampu menghipnotisnya, membuat dirinya selalu tak bisa menghindar untuk saling menatap.

Seperti malam ini, lagi-lagi ia merasa terjebak di dalam kondisi yang sulit. Suaminya sedang tidak berada di rumah, sementara di rumah ia hanya besama Reza.

Dari tadi siang semenjak Suaminya pergi, Irma jarang sekali keluar kamar, ia hanya keluar sesekali saja, di saat memang ia harus keluar kamar, seperti ingin buang air, mandi dan memasak makanan untuk mereka.

Jam di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 9 malam, tidak ada tanda-tanda kalau Reza akan mengganggunya, padahal semenjak Suaminya pergi, ia sempat beberapa kali berpapasan dengan Reza, bahkan ketika makan malam bersama, mereka sempat berada satu meja, tapi Reza bersikap seperti biasa saja, seolah tak tertarik ingin menggoda dirinya.

Rasa haus mulai mengusik dirinya, dengan sangat terpaksa, dengan cara mengendap-endap ia keluar kamar, menuju dapur yang ada di bagian belakang rumahnya.

Irma bisa sedikit bernafas lega, ketika ia tak melihat Reza saat ia berjalan tadi menuju dapur, mumpung Reza masi di kamarnya, Irma buru-buru mengambil sebotol mineral dingin dari dalam kulkas, dan ia segera hendak balik kekamarnya.

"Mau kemana Mbak ?" Tegur seseorang yang sebenarnya ingin ia hindari.

"Maaf, saya mau lewat." Ujar Irma, tanpa berani mengangkat wajahnya, dan hendak segera pergi, tapi Reza mencekal tangannya, sehingga ia tak bisa bergerak.

"Temani saya sebentar."

"Ja... jangan Mas, saya mohon." Jawab Irma ketakutan.

"Tenanglah cantik, jangan takut, saya tidak akan menyakitimu sayang, bahkan saya hanya ingin membantumu." Reza menarik tubuh Irma dan memeluknya, membuat Irma mulai memberontak sehingga botol minumannya jatuh dan tumpah kelantai.

Irma yang kaget berusaha memberontak, ia tidak mau lagi terjebak oleh permainan Reza seperti sebelum-sebelumnya, tetapi tenaga Reza, lagi-lagi berhasil membuatnya tak berdaya, membawa dirinya keruang keluarga.

Dengan gerakan cepat, Irma berusaha kabur, tapi lagi-lagi Reza berhasil menarik tangan Irma, dan mendudukan wanita itu di pangkuannya.

Dari belakang, kedua tangan Reza meremas kedua payudarahnya, sementara bibirnya menciumi sekujur wajah Irma, membuat wanita bersuami itu mulai menitikan air mata, ia ingin lepas dari cengkraman Reza, tapi tubuhnya tak mampu, ia terlalu lemah melawan dirinya sendiri, yang terlalu muda dirangsang, sehingga ia tidak bisa berbuat banyak ketika bibirnya di panggut Reza.

Reza begitu pintar memancing birahinya, sehingga tanpa sadar Irma membalas pagutan Reza, dan membiarkan lelaki itu tanpa perlawanan berarti membuka setiap kancing piyama yang ia kenakan, lalu satu-satunya pelindung yang menutupi dadanya, di tarik keatas sehingga payudarahnya mencuat.

Kedua tangan kekar itu langsung menyambutnya, meremas dan memilin puttingnya yang menggemaskan, hingga wanita cantik itu terpekik nikmat.

"Aauww... Hhmmpp... "

"Jangan di lawan, seperti biasanya, kamu nikmatin aja ya." Bisik Reza, lalu di susul dengan kuluman di daun telinganya.

"Jangaan... jangaan... aku tidak mau, tolonglaah Mas lepaskan aku, apa salahku Mas, kenapa kamu tega mengkhianati Suamiku, sadaarlah Mas... Aaww... Aaah... " Rinti Irma ketika Reza tiba-tiba saja melahap payudara kirinya.

Setengah dari dirinya tak rela membiarkan pria lain menikmati tubuhnya, dan setengahnya lagi dia menikmati setiap sentuhan yang di berikan Reza kepada dirinya, sentuhan yang sangat ia jarang dapatlan dari Suaminya yang sah, yang sangat ia cintai melibihi apapun di dunia ini.

Tak sadar Irma memegangi kepala Reza yang sedang menyusu di payudaranya, dia merasakan puttinya terasa hangat ketika lida Reza menjilatinya.

"Putting kamu enak sekali sayang, tapi sayang tidak ada susunya." Reza berujar di sela-sela menikmati payudarah istri sahabatnya.

"Uuhkk... Mass... Aahkk... Aaahkk... " Erang Irma nyaring.

Tolooong... aku tidak mau, ini salaah, aku tidak menginginkannya, maafkan aku Mas... maafkan aku Mas... !

Irma memejamkan matanya, bayangan Suaminya kembali menyadarkannya, apa yang sedang terjadi saat ini, memberinya sedikit kekuatan untuk mendorong pundak Reza hingga menjauh, bahkan sampai terjengkang kesamping.

Kesempatan itu ia memanfaatkan untuk kabur, ia berdiri lalu berlari menjauh dari Reza yang hanya tersenyum memandanginya dari kejauhan.

Sadar atau tidak sadar, Irma berlari kekamarnya, ia merasa di sinilah tempat yang paling aman baginya. Segera ia menutup pintu kamarnya, dan ketika hendak mengunci pintu kamarnya, tiba-tiba batinnya begejolak, antara ingin terus berlari, atau mengakhiri pernderitaannya malam ini.

Tok... tok... tok...
"Aku tau kamu di dalam, buka pintunya Irma !"

"Bajingaaaan... lepasin aku Mas, aku mohoon... " Tangis Irma semakin tak terbendung, ia benar-benar bingung dengan kondisinya saat ini.

Seandainya saja ia bisa lebi tegas, lebi berani, mungkin semua kejadian ini tak perlu ia alami.

"Buka sayang, ini adalah malam pertama kita, malam ini aku ingin membuka segelmu, biarkan aku masuk." Ujar Reza, memancing sisi liar Ibu muda itu, karena Reza tau kalau Irma sebenarnya sudah menjadi miliknya seutuhnya, hanya tinggal di sempurnakan saja maka Irma benar-benar menjadi miliknya.

Dengan jemari yang gemetar, Irma menekan handle pintu kamarnya, membuka perlahan hingga ia kembali melihat wajah Reza yang sedang tersenyum.

Irma tau apa yang ia lakukan saat ini, dengan membuka kamarnya, itu artinya dia sudah benar-benar menyerah, dan malam ini adalah malam penyerahan dirinya seutuhnya kedalam pelukan pria lain yang bukan Suaminya.

Entah kemana dirinya yang dulu, wanita yang setia terhadap suaminya, wanita yang menjaga dirinya dari maksiat, wanita yang taat terhadap aturan.

Reza masuk, lalu dia menutup pintu kamar Irma dan menguncinya sehingga tak ada jalan keluar bagi Irma untuk lari darinya, lari dari jalan yang telah ia pilih. Wanita cantik itu mundur beberapa langkah, lalu duduk di tepian tempat tidurnya, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Reza segera menelanjangi dirinya hingga telanjang bulat, lalu dia berjalan, berdiri di samping korbannya yang telah pasra menunggu eksekusi darinya.

"Kamu istri yang baik !" Ujar Reza memebelai kepala Irma yang tertutup kerudung putih.

Irma menjauhkan kedua tangannya dari wajahnya, dan hendak kembali mengeluarkan unek-uneknya, tapi ia sedikit terkejut saat melihat kesamping, tepat di depan wajahnya saat ini dia melihat benda besar yang sebelumnya ia lihat. Penis Reza memang sangat mengagumkan baginya, ukurannya panjang dan cukup gemuk di bandingkan dengan suaminya, dan benda inilah yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.

Lagi pria berengsek itu menggoda Istri sahabatnya, dia dengan sengaja menabrakan kepala pionnya kebibir Irma, memamerkan kegagahan penisnya yang telah berhasil menaklukan beberapa wanita sebelumnya.

"Kamu perna melakukannya, dan saya yakin kamu pasti ingin melakukannya lagi."

"Cukup Mas, aku mohon hentikan kegilaan ini." Pinta Irma, ia menatap mata Reza, meminta belas kasihan dari Reza agar mau menghentikan dosa ini.

"Sudah terlambat, kamu taukan ?" Jawab Reza sembari tersenyum.

Dengan jemari yang gemetar Irma menggenggam penis Reza, rasanya hangat dan keras, berbeda dengan milik suaminya yang sedikit lembek. Perlahan ia menjulurkan lidanya, menyapu kepala pion itu dengan penuh perasaan.

Sudah kepalang basah, nyebur saja sekalian, mungkin itu yang ada di benak Irma, dia sudah kehilangan jati dirinya sebagai seorang Istri yang setia, yang ia inginkan saat ini hanya satu, yaitu kepuasan. Walaupun masi tersisa sedikit penyesalan karena harus menghianati Suaminya, seseorang yang sangat mencintainya dengan tulus, bukan karena nafsu.

"Aah... kamu semakin pintar sayang !" Puji Reza, ketika kepala pionnya di sapu Irma dengan lidanya, terus turun kebatang kemaluannya, hingga kekantung pelirnya.

"Ya... begitu, Ooo... oo... masukan kemulutmu."

Tangan kanannya mengocok penis Reza, lalu mengarahkannya ke dalam mulutnya, kemudian dengan gerakan seirama, tangan dan mulutnya mengocok penis Reza sehingga pria itu keenakan, merasakan servis oral darinya.

Walaupun tidak punya pengalaman dalam mengoral penis pria, tapi Irma melakukannya dengan baik, nalurinyalah yang menuntun dirinya, harus melakukan apa dan bagaimana untuk membuat pria yang ada di depannya merasa puas dan senang dengan pelayanannya memberikan oral sex.

Sementara itu Reza membelai kepala Irma, sambil ikut memaju mundurkan pinggulnya.

"Cukup sayang, aku belum ingin keluar." Ujar Reza, lalu menarik penisnya dari jangkauan Irma.

"Ka... kamu suda puaskan Mas ?"

"Belum dong, ini baru permulaan, malam ini kamu milikku sayang, kita akan bersenang-senang, mumpung Suamimu pulangnya besok sore." Ujar Reza, lalu dia menerkam tubuh Irma, membuat Irma kaget karena di serang mendadak.

Reza menindih tubuh Irma, lalu bibirnya memanggut bibir Irma, membelit mesrah lidanya, sementara tangan kanannya meremas payudara Irma.

Puas melumat bibirnya, ciuman Reza perlahan turun kelehernya, memberi beberpa cupangan merah di leher jenjang Irma, membuat kerudungnya semakin acak-acakan. Lalu ciuman Reza beralih keatas payudarahnya, dia mengulum secara bergantian kiri dan kanan payudarah Irma.

Puas bermain dengan gunung kembarnya, Reza beralih kebawa, ia menarik lepas celana tidur sekaligus celana dalam Irma, membuat wanita cantik itu memekik pelan sanking kagetnya.

"Hahaha... kupikir kamu gak suka dengan mainan baru yang kuberikan kemarin." Ujar Reza, setelah melihat selangkangan Irma yang terdapat kabal yang menggelantung, yang tersambung dengan remot kecil.

Mainan yang di maksud Reza adalah vibrator kapsul yang beberapa hari lalu ia berikan kepada Irma, dan tidak di sangka-sangka ternyata Irma yang di kenalnya sebagai wanita baik-baik, ternyata diam-diam dia malah menyimpan dan menggunakannya demi kepuasaan birahinya.

Irma memalingkan wajahnya, dia merasa malu karena telah nenikmati permainan Reza, seseorang lelaki yang seharusnya sangat ia benci.

"Aaahkk... " Irma merintih, ketika Reza mencabut vibrator dari dalam vaginanya.

Lalu vibrator itu di gantikan dengan jilatan di bibir vaginanya. Reza memang juaranya dalam merasang korbannya, kemampuannya terbukti membuat Ibu muda itu mengerang, kedua tangannya terkepal ketika lidanya menari-nari di clitorianya, menghisapnya lembut, sambil mengocok-ngocok liang kemaluannya.

Hanya butuh waktu lima menit, Irma mendapatkan klimaksnya, pantatnya terangkat, dan beberapa kali tanpa bisa kontrol vaginanya memuntahkan lendirnya.

"Sepetinya kamu sudah siap ?"

"Kumohon jangan Mas, hoss... hoss.. hoss... !" Deruh nafas Irma memburu, orgasmenya barusan, benar-benar menguras tenaganya, dia hanya bisa memandang pasrah kearah Reza.

"Mas yakin kamu akan menyukainya." Bujuk Reza, dia mengait kaki kanan Irma di lengannya, sambil mendekatkan tubuh bagian bawahnya, hingga penisnya yang besar terasa menggesek-gesek bibir vagina Irma.

Perlahan Reza memaju mundurkan peninya menggesek-gesek penisnya di belahan vagina Irma.

"Aaahk... Mass... Uubkk... " Irna melenguh panjang, ketika kepala penis Reza menyodok, menggesek clitorisnya. Irma mencengkram erat lengan Reza, menahan seribu satu rasa yang ia rasakan saat ini, seandainya saja dia belum betsuami, mungkin sudah sedari tadi ia meminta Reza untuk menyetubuhinya.

Iram memejamkan matanya, menggigit birinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya menolak keras apa yang sedang terjadi saat ini, tapi tubuhnya seolah menghinatinya dan menuntutnya untuk segera menuntaskan nafsu birahi iblisnya yang sudah lama ia pendam.

Reza penisnya sedikit, lalu mendorongnya kembali, menubruk lipatan vagina Irma, kemudian membelanya perlahan dan mulai memasuki lobang vagina Irma yang sudah amat becek.

"Aaahkk... " Irma terpekik, vaginanya terasa ngilu saat penis itu Reza yang ukurannya lebi besar dari milik Suaminya memaksa masuk kedalam vaginanya.

"Kamu kejam Irma, membiarkan kontol pria lain menikmati memekmu, sementaran Suamimu di luar sana mencari nafka untukmu." Bisik Reza, ia membelai wajah Irma yang bermandikan keringat, menahan rasa sakit, sekaligus geli ketika terjadi gesekan antara kepala penis Reza dengan dinding bagian luar vaginanya.

"Maaas... Aahkk... Aaahkk... pelan-pelan Mas ! Vaginaku Aahk... Rasanya ngilu Mas." Erang Irma, dia mencengkram kedua lengannya Reza, sambil mencari posisi yang membuatnya merasa nyaman ketika sedang di setubuhi.

Irma memejamkan matanya, menikmati setiap gesekan antara kulit penis Reza dengan dinding vaginanya. Ia merasa, vaginanya terbuka semakin lebar ketika penis Reza terus memaksa masuk hingga kepala penis Reza terasa menabrak rahimnya. Tubuhnya mengejang, dia kembali mendapatkan orgasme walaupun tidak sehebat sebelumnya.

Jemari Reza membelai wajah cantik Istri sahabatnya, ia tidak menyangka kalau dia akan semuda ini menaklukan Irma.

Perlahan jemarinya turun, menyentuh bibir seksi Irma yang gemetar, ia membukanya perlahan, lalu meminta wanita cantik itu untuk mengulum jarinya, Irma dengan patuhnya membuka mulutnya, membiarkan jari itu membelai lidahnya.

Sementara itu, pinggul Reza mulai bergerak maju mundur menubruk selangkangan Irma, mengaduk dan memompa vagina Irma dengan Ritme teratur, seiring dengan nafas Reza yang semakin memburu, dia sangat menikmati ketika dirinya berhasil membuat Istria sahabatnya yang di kenal baik dan seorang panutan bisa takluk di hadapannya.

Perasaan yang berlawanan juga di rasakan Irma, dia tidak menyangkah kalau dirinya yang seorang guru Agama bisa berbuat zina dengan pria lain, di dalam rumahnya sendiri di atas tempat tidurnya, yang biasa ia gunakan untuk melayani Suaminya, kini dengan suka rela membiarkan pria lain berada di dalam kamar pengantinnya menikmati tubuhnya.

"Mas... Enaaak Mas ! Aahkk... Aahkk... aku dapeeet Mas !" Lolongan panjang Irma menggema, nafasnya menghentak di ikuti dengan goyangan pinggulnya yang liar.

Bukannya berhenti Reza malah semakin cepat mengocok vagina Irma, hingga Ibu muda itu untuk pertama kalinya ia mendapatkan multy orgasme, selama kurang lebi lima menit, dan beberapa detik di awal dia sempat squirt membuat seprei tempat tidurnya menjadi basah.

Reza menarik pinggulnya, lalu dengan satu gentakan dia kembali membenamkan penisnya sedalam mungkin.

Crrooott... crooott... crooott...
"Lihatlah, Aku akan menghamili Istrimu Iwan... " Erang Reza sambil menyemburkan lahar panasnya kedalam rahim Irma yang sedang dalam masa subur.

Reza menyeka keringat sambil mencabut penisnya, sementara Irma segera menjauh dari Reza, dia duduk di pojokan sambil memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya, dia memang menikmatinya, tapi rasa sesalnya jauh lebih besar sehingga membuatnya menangis di dalam keheningan.

Dari sudurnya ia memandang benci kearah Reza yang pergi begitu saja setelah menodai tubuhnya.

Braaak...
Reza membanting pintu kamar Irma, lalu menghilang entah kemana perginya dia. Irma bergegas masuk kedalam kamar mandi, yang ada di dalam kamarnya. Dan lagi-lagi di dalam kamar mandi ia menangis, menghukun dirinya dengan membiarkan tubuh indahnya basah terkena air shower yang dingin.

------------------

Hampir satu jam lamanya ia mengurung diri di dalam kamar mandi, setelah puas menumpahkan air mata penyesalannya, ia segera mengiringkan tubuhnya dengan handuk, lalu melilitkan handuk tersebut ketubuhnya. Saat ia melangkah, Irma masi dapat merasakan rasa ngilu di vaginanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam vaginanya.

Irma menarik nafas panjang, lalu perlahan ia membuka pintu kamar mandinya, dan saat itulah perasaannya mendadak tidak tenang, dia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.08
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.07

Dosa Yang Nikmat Bag.06

Posted by Unknown

Lanjutan Dari

Sore harinya para siswa berkumpul untuk melakukan olah raga pagi, yang putra berkumpul di depan kantor Aliya, sementara yang putri berkumpul di lapangan, di depan asrama khadija.

Setelah di beri arahan sebentar, dan sedikit pemanasan, mereka memulainya dengan lari pagi mengelilingi sekolah.

"Shifa mana ?" Tanya Popi, menanyakan Shifa kepada Latifha.

"Gak tau gue, katanya tadi dia di panggil sama Umi Andini kekamarnya." Jawab Latifha sambil berlari-lari kecil mengikuti rombongan santri lainnya.

"Perasaan, dia sering banget akhir-akhir ini di panggil sama Umi Andini, ada apa ya ?" Tanya Ria.

"Waduh, gak tau juga Ya, tapi iya juga si, semalem dia juga menginap di kamarnya Umi Andini, pulangnya pas habis subuh, terus tadi ke kamarnya Umi lagi." Jelas Lathifa, walaupun penasaran, dia tak menaruh curiga sedikitpun terhadap sahabatmya.

"Apa dia di hukum ya ?"

"Eehmm... bisa jadi tu." Jawab Popi.

"Nanti kita tanyain aja de sama orangnya langsung." Timpal Ria, sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.

Tak terasa saat ini mereka memasuki kawasan Santri, mereka melihat para siswa laki-laki yang masih berkumpul di lapangan, otomatis mereka yang jarang melihat lawan jenis mulai saling menggoda, seperti bersiul atau bersorak, tapi ada juga yang tersenyum malu-malu sambil berbisik.

Para siswa laki-laki yang tadinya sedang serius memperhatikan arahan Gurunya, kini malah memalingkan wajah kearah siswa perempuan yang sedang berlari kecil melewati mereka.

"Lihat tu ada cowok keren, gila ganteng banget ya !" Pekik Popi sambil melambaikan tangan kearah Cakra, pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.

"Apaan si, itu cowok gue... " Omel Latifha kesal.

"Hihihi... ya deh sayang, gitu aja ngambek !" Jawab Popi, memang paling suka menggoda Sahabatnya.

"Ciee... ada yang cemburu niye... " Timpal Ria.

"Apaan si, kalian nyebelin banget si, awas ya kalian nanti." Ancam Lathifa, tapi malah membuat kedua sahabatnya semakin tertawa terpingkal-pingkal.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau Lathifa menjalin hubungan special secara diam-diam dengan Cakra, bahkan beberapa malam yang lalu, mereka berdua sempat janjian bertemu di belakang danau yang ada di lingkungan sekolah.

Mengingat kejadian malam itu, pipi Lathifa merona merah, karena untuk pertama kalinya, dia mencium bibir seorang pria.

----------

Sementara itu di tempat lain, sepasang wanita yang berbeda usia sedang memadu kasih di dalam kamar berukuran 3X4. Mereka berpelukan, sambil berciuman.

Wanita yang usianya lebi tua beberapa tahun, membuka pakaian pasangannya, yang usianya jauh lebi muda, hingga telanjang bulat. Kemudian ia menuntun pasangan mudanya, naik keatas tempat tidurnya.

"Umi... Aaah... " Ashifa merintih tertahan.

"Kamu cantik sekali, Umi gak perna bosan melihat kamu telanjang seperti ini sayang." Puji Andini, sembari tersenyum manis, membuatnya terlihat makin cantik.

Andini kembali melumat bibir muridnya, sementara tangannya meremas-remas payudara muridnya, membuat gadis kecil itu merintih keenakan, sambil membalas lumatan mesrah gurunya yang sekarang menjadi kekasihnya.

Aneh memang, seorang guru yang seharusnya mendidik muridnya, malah melakukan perbuatan yang tak terpuji bersama muridnya, yang seharusnya ia didik menjadi anak yang baik.

"Umi gak adil ni." Rengek Asyifa.

"Loh, gak adilnya di mana sayang ?" Tanya Andini, sambil memebelai wajah cantik muridnya.

"Umi masi pake pakaian lengkap, sementara Shifa uda telanjang kayak gini." Gadis muda itu cemberut, membuat Andini semakin gemas dan menciumi sekujur wajahnya.

Lalu dia mulai melepas gamisnya dan juga branya, hingga payudaranya melompat keluar, kemudian ia menurunkan celana dalamnya, dan saat itulah terlihat benda besar berbentuk penis yang terhubung dengan ikat pinggang yang melilit di selangkangannya.

Sambil tersenyum, Andini memainkan mainannya di depan muridnya. Ashifa seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia langsung merangkak, medekati dildo tersebut dengan wajah girang, lalu tangannya yang halus menggenggam dildo tersebut sambil mengocok dan menjilatinya, seperti menjilati es cream kesukaannya itu.

Sementara Andini membelai rambut Ashifa yang terurai indah, sepanjang punggungnya.

"Kamu sukakan sayang ?"

"Iya Mi, Ashifa suka kontol Umi, rasanya geli-geli di mulut." Jawab Ashifa di sela-sela mengulum mainan Umi.

"Kalau suka, masukin sekarang dong, Umi gak tahan ni."

"Sebentar lagi dong Umi, akukan masi seru mainin kontolnya Umi." Pinta Asyifa seperti anak kecil, yang tak ingin di jauhkan dari mainan barunya, membuat Andini semakin gemas.

Tanpa berkata lagi dia menarik penis mainannya, kemudian dia mendorong tubuh mungil Asyifa, dia mengangkangkan kedua kaki Ashifa, hingga vagina mungilnya terkuak. Andini sudah tidak sabar lagi menikmati madu manis vagina Ashifa, murid kesayangannya, sekaligus kekasihnya.

Lidanya terjulur menyapu bibir vagina Ashifa, rasanya asin tapi menyenangkan, membuat Andini tidak perna bosan menjilati vagina Muridnya.

Tak butuh waktu lama, tubuh gadis muda itu mengejang hebat, kepalanya mengada keatas, ketika orgasmenya tiba, membuatnya berteriak cukup nyaring, tapi untunglah, suasana sore itu tampak sepi sehingga suaranya tidak terdengar oleh siapapun.

"Umi jahaaat !"

"Tapi kamu sukakan sayang." Goda Andini sambil membelai rambut Ashifa.

Perlahan Andini mengangkat kaki kanan Ashifa keatas pundaknya, sementara kaki kiri Ashifa di rentangkan kearah berlawanan sehingga vaginanya terkuak.

Dia memegang batang dildonya, mengarahkan kearah bibir vagina Ashifa, membelanya dengan cara perlahan, ia dorong inci demi inci memasuki lembah nikmat milik muridnya. Raut wajah itu, ya... Andini sangat suka setiap kali melihat wajah imut Ashifa meringis.menahan rasa sakit bercampur nikmat setiap kali dia mebyetubuhinya, dia semakin puas tatkala Ashifa mulai merintih.

Dengan tempo perlahan, Andini menggoyang pinggulnya maju mundur, sambil meremas kedua payudara Ashifa.

Dua bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Andini merenggut keperawanan muridnya, dengan dildo yang ia gunakan saat ini sebagai saksinya. Semenjak saat itu, Ashifa menjadi budak nafsunya hingga saat ini.

"Aaahkk... aaaaa.... aaa... "

"Kamu cantik sekali sayang, tubuh kamu bagus, Umi tidak bisa berhenti memikirkan kamu !" Ujar Andini, sambil menatap dalam mata muridnya.

"U... Umiii.... Aaaah.... Puaskaaan Ashifaaa... sodok teruuss Umi, Ashifaaa milik Umi... !" Erang Ashifa lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Andini.

Andini menyambutnya, dengan melumat mesrah bibir muridnya, hingga akhirnya Ashifa kembali di terjang badai orgasme yang dahsyat, tubuhnya seperti terkena tegangan tinggi, bergetar hebat, dan terhempas.

Walaupun Andini tidak sampai mengalami orgasme, tapi Ibu Guru itu merasa sangat puas, setiap kali melihat muridnya menggelepar, meringis, merintih dan menggeliat di dalam kekuasaannya, dia puas bisa menaklukan gadis muda nan cantik dan baik seperti Ashifa.

-----------------

Dddrrrttt..... Ddrrtt... Drrrrttt....

Suara rington hp cukup nyaring, membuat sang pemilik tergesa-gesa kembali kekamarnya, lalu dengan cepat ia mengangkat telponnya.

"Assalamualaikum!"

"Waalaikum salam, gimana kabar kamu nak ?"

"Baik Ma, kabarnya Mama sama Papa gimana ?" Jawab Nadia, sambil menanyakan balik kabar mertuanya.

"Alhamdulillah baik, kalian kapan pulang? Sudah hampir setengah tahun loh kalian gak pulang."

"Iya Ma, maaf belum sempat pulang."

"Ya udah gak apa-apa, tapi nanti kalau kalian ada waktu jangan lupa untuk pulang." Ujar Farah mertuanya Nadia. "Oh iya ngomong-ngomong sudah ada kabar gembira belom ?" Lanjutnya dengan suara yang terdengar penuh harap.

Deg... perasaan Nadia berubah menjadi tidak tenang. "Maksud Mama kabar apa ?" Tanya Nadia ragu-ragu.

"Gini loh, maksud Mama kapan kamu mau kasih Mama cucu, Mama sudah kepingin menimang cucu." Pertanyaan yang di takutin Nadia akhirnya keluar juga.

Nadia tak langsung menjawab permintaan Mamanya, karena ia sendiri juga tidak tau, apakah ia bisa memberi cucu untuk mertuanya atau tidak, karena kesempatan dirinya untuk bisa hamil sangat tipis.

Bukan karena Nadia seorang wanita mandul, melainkan karena Suaminya yang mandul, selain itu Suaminya juga mengalami ejakulasi dini. Satu bulan yang lalu, Nadia dan Suaminya mendatangi dokter spesialis kandungan untuk mengecek kesuburannya, dan mencari tau penyebab kenapa ia tidak bisa hamil, padahal ia sudah lama menikah.

Dan ternyata, dari penjelasan dokter, Suaminyalah yang mandul, dan mengalami ejakulasi ringan, sehingga sangat sulit baginya saat ini untuk bisa hamil.

"Nadia... " Panggil dari sebrang telpon.

"Eh iya Ma!" Jawab Nadia tergagap dari lamunannya.

"Jadi gimana, kapan Mama bisa menimang cucu." Ujar Farah antusias, membuat Nadia semakin merasa bersalah, walaupun kesalahan terletak pada Suaminya.

"Secepatnya Ma, mohon doanya saja."

"Kamu itu dari dulu jawabannya gitu-gitu terus, Mama butuh kepastian Nad." Paksa Ferah seperti biasanya, padahal yang salah sebenarnya adalah putranya sendiri.

Beruntung Jaka memiliki seorang Istri yang setia dan baik seperti Nadia yang selalu menyembunyikan kekurangan Suaminya, dan membiarkan dirinya yang tersiksa demi kebahagian dan harga diri Suaminya.

"Maaf Ma, ini kami lagi usaha." Jawab Nadia.

"Pokoknya Mama tidak mau tau, tahun ini kamu harus hamil bagaimanapun caranya. Teett.... teeett... " Tiba-tiba saja lawan bicara Nadia mematikan teleponya.

Dan seperti biasanya, dia segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu ia menyembunyikan wajahnya di dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya. Sebagai seorang wanita tentu saja ia sangat sedih, apa lagi ia selalu di salahkan tanpa ada yang mau mengerti penderitaannya.

-------------------

Sore hari menjelang malam, ketika para siswa perempuan berkumpul di kamar mandi umum sebelum melaksanakan ibadah magrib. Diantara kumpulan tersebut terdapat sekelompok anak yang tampak asyik bermain air, saling menyiram dan tertawa cekikikan, terkadang mereka saling kejar.

Ria berlarian masuk kedalam kamar ganti, lalu dia menutup pintunya, sialnya kamar ganti yang di masuki Ria tidak memiliki kunci, karena telah rusak, sehingga ia harus menahan pintu tersebut dengan tubuhnya.

"Bukaaa... Ria !" Pekik Ashifa dari luar.

"Gak mauuu... Hahaha... "

"Dobrak aja pintunya !" Dukung Lathifa.

"Kalau lo gak mau keluar, gue dobrak pintunya." Ancam Ashifa sambil menendang-nendang pintunya.

"Dobrak aja kalau lo bisa !" Tantang Ria, sambil cekikikan mentertawakan sahabatnya.

Braaak... braaak... braakk...
Beberapa kali Ashifa mendobrak pintunya, tapi Ria menahannya cukup kuat, melihat Ashifa yang kesulitan, Lathifa ikut membantu mendorong pintu, hingga akhirnya Ria kalah kuat, sehingga dikit demi sedikit pintunya terdorong.

Ashifa dengan cepat mengambil kesempatan, dia menahan pintu tersebut, dan meminta Lathifa untuk segera masuk dari cela pintu yang sedikit terbuka.

"Dapaat... " Teriak Lathifa girang, ketika berhasil masuk dan memeluk erat tubuh Ria.

Ashifa segera menyusul masuk kedalam, dan kemudian menutup pintunya. Ashifa tersenyum licik kearah Ria, membuat gadis itu panik, berusaha melepaskan diri, tapi dekapan Lathifa terlalu kuat, sehingga gadis itu hanya bisa meronta-ronta kecil.

"Saatnya kita telanjangi." Ujat Ashifa.

Lalu dia bersama Lathifa berusaha menarik kain basah yang dikenakan Ria, wanita berusia 16 tahun itu berusaha memberontak, tapi kedua sahabatnya lebi kuat darinya sehingga perlawanannya tak begitu berarti untuk bisa menyelamatkan dirinya dari kedua sahabatnya.

Dengan begitu mudanya, mereka melepas kain yang menutupi tubuh Ria hingga telanjang bulat.

Ashifa yang memang memiliki kelainan seksual semenjak mengenal Andini, langsung tergoda untuk menggoda tubuh molek sahabatnya Ria, sekuat tenaga ia membuka kedua kaki Ria, sementara sahabatnya Lathifa tidak kalah gilanya, dia meremas-remas kasar payudarah sahabatnya yang terasa kenyal, sementara puttingnya dia pelintir pelan.

Perlahan tapi pasti, rontahan Ria melemah, dan setuasi itu di manfaatkan Ashifa untuk memebenamkan wajahnya, dan menjilati vagina sahabatnya.

"Ooohh tidaaak... Aaaa... Aaa... " Erang Ria frustasi.

"Gimana Ria sayang, enak gak memeknya di jilatin sama Shifa, pasti rasanya enakan ? Apa lagi kalau puttingnya sambil di pelintir kayak gini." Kata Lathifa menggoda sahabatnya, sambil memberi rasangan di kedua payudara Ria.

Sluuupp... Slupp... Sluupps...
"Eehmn... memeknya enak banget, rasanya kayak semanis madu, elo harus mencobanya Latifha. Hihihi... !" Komentar Ashifa di sela-sela memanjakan vagina sahabatnya.

"Ogaah gue, lu aja sendiri !" 

"Yakiiiin, ya udah kalau lu gak mau." Jawab Ashifa, lalu dia kembali menjilati vagina Ria.

Sementara gadis yang bernama Ria, tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha melawan gairahnya yang perlahan mulai terbakar oleh sentuhan kedua sahabatnya. Perlahan Ria memejamkan matanya, dia sudah meyerah dan membiarkan kedua sahabatnya mengerjain habis-habisan tubuhnya.

Jari jempol Ashifa menggelitik clitoris Ria, sementara lidanya menusuk-menusuk lobang vagina sahabatnya yang masih perawan, belum sekalipun di sentuh oleh seorang pria manapun.

Ria membelai rambut sahabatnya, membiarkan sensasi apapun mengusik dirinya, menikmati setiap jilatan dan sentuhan lembut di vaginanya, sementara kedua payudaranya menjadi mainan sahabatnya Latifha.

Aaaahhkk... rasanya nikmat sekali ! Gumam Ria, sambil membayangkan Radityalah yang melakukannya.

"Eehmm... rasanya enak banget ya ?" Tanya Lathifa penasaran melihat sahabatnya yang menggeliat keenakan.

"Aaaah... iya ituku di hisap Fa." Erang Ria, dia sangat menikmati ketika klitorisnya di isap kuat-kuat oleh sahabatnya Ashifa, yang sedang menghisap clitorisnga.

"Lu nyebelin banget si... " Kesal Lathifa karena pertanyaannya tidak di jawab, dan sebagai balasannya Lathifa meremas kencang payudarah sahabatnya, hingga Ria histeris karena kesakitan akibat remasan Lathifa di dadanya.

"Aaauuww... gila lu ya sakit tau !" Protes Ria.

"Makanya kalau orang nanya di jawab !"

"Kalau pengen tau coba aja sendiri." Sindir Ria, lalu dia bangkit melepaskan diri dari mereka, membuat Ashifa tampak kecewa, padahal dia sedang menikmati vagina sahabatnya.

Ria mengambil kainnya kembali, lalu mengikatnya seperti semula. Sebenarnya, Ria tadi sangat menikmati ketika vaginanya di jilat Ashifa, tapi gara-gara remasan kasar dari Lathifa, modnya mendadak hilang. Entah ia harus berterimakasih atau kecewa atas perlakuan sahabatnya, yang pasti sekarang dia merasa lega karena bisa terbebas dari Ashifa.

Ashifa memandang Lathifa dengan sebal, padahal dia sudah lama ingin sekali menikmati vagina Ria, tapi gara-gara Lathifa dia terpaksa menundanya kembali.

"Eee... setan, siapa di sana ?" Pekik Lathifa, sontak kedua sahabatnya melihat keatas, kearah telunjuk Lathifa yang mengarah keatas.

Terlihat tiga kepala orang dewasa muncul dari balik tembok kamar mandi mereka, padahal kamar mandi umum ini memiliki tembol yang cukup tinggi, walaupun di bagian atasnya tidak.tertutup apapun, sehingga sangat memudakan bagi yang mau mengintip setelah mereka berhasil memanjat tembok.

Berselang beberapa detik, sebelum mereka mengenali ketiga pria itu, mereka bertiga telah menghilang di balik tembok.

"Gimana ni ?" Tanya Ria panik, dia yakin sekali, kalau mereka bertiga tadi sempat melihat di telanjangi oleh kedua sahabatnya, setelah di kerjai oleh kedua sahabatnya.

"Tadi siapa ya ? kok berani banget masuk kewilayah santriwati." Timpal Lathifa tak kalah paniknya.

"Uda tenang dulu." Lerai Ashifa.

"Mau tenang gimana, tadi dia melihat apa yang kita lakukan barusan bagaimana kalau nanti dia cerita dengan Umi, bisa-bisa kita di keluarkan dari sini." Timpal Ria panik, bagaimanapun juga, tadi dia yang telanjang, selain malu dia juga takut, kalau nanti apa yang mereka lakukan barusan tersebar.

"Ya uda yuk, nanti kita pikirkan lagi." Ajak Lathifa.

"Maafin gue ya Ria ?" Lirih Ashifa.

"Udalah, nasi uda jadi bubur." Jawab Ria tak bersemangat, lalu mereka keluar dari ruang ganti dan kemudian melanjutkan mandi mereka yang sempat tertunda.

--------------------

"Nyaris aja !" Ujar seorang pria sambil mengelus dadanya.

"Kira-kira mereka tau gak ya, kalau kita yang mengintip mereka barusan ?" Timpal Budi, satu-satunya diantara mereka yang memiliki tubuh paling besar, sehingga wajar saja kalau dia merasa khawatir, takut ketahuan oleh para santriwati barusan.

"Udah, gak perlu khawatir, walaupun mereka tau juga gak akan berani bilang, kaliankan tau sendiri tadi mereka habis ngapain ? Mereka pasti takutlah buat ngadu." Jawab Rozak, menenangkan kedua rekannya Dewa dan Budi.

"Tapi makasi banyak Zak, uda ngajakin kita ngeliat yang bening-bening, hahaha.... !" Ujar Dewa seraya tersenyum mesum.

"Gak sia-sia ternyata kemarin sempat memergoki santri ngintip di sini, hahaha... " Jawab Rozak sambil tertawa girang. Ya semenjak saat itu, ketika ia mengejar dua orang santri yang sedang mengintip, Razak jadi tau kalau tempat ini sangat tersembunyi buat mengintip.

"Eehmm... ngintipin apa ni ?" Tiba-tiba dari belakang seseorang menegur mereka.

Sontak mereka bertiga kaget, ketika nenyadari yang datang seorang Ustad baru di madrasyah, sahabat baik dari Ustad Iwan yang di kenal tegas dan di siplin.

"Ya Pak, kita ketahuan." Desah Budi pasrah.

"Ma... maaf Tad." Ujar Rozak tak berani memandang Reza yang sedang berdiri di depan mereka, seperti seorang hakim yang sedang mengadili tersangkah.

"Ampun Ustad, jangan aduhin kami Ustad." Kata Budi ketakutan.

"Maafin kami Ustad." Timpal Dewa.

Kemudian dari sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, senyuman yang memiliki sejuta arti, penuh makna dan rencana-rencana licik.

Reza menepuk pelan pundak Rozak, satpam Madrsya tempat ia mengajar, sebagai ucapan terimakasi.

"Jangan takut, kalau saya jadi kalian berdua, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, seperti yang kalian lakukan sekarang, tapi bedanya, kalau saya tidak akan puas kalau hanya sekedar mengintip mereka." Ujar Reza sambil memperlihatkan tanduk iblisnya di depan mereka bertiga.

"Maksud Ustad ?" Tanya Dewa.

"Hahaha... kalau kalian mau, saya bisa berbagi dengan kalian, tapi dengan syarat." Jawab Reza.

"Maaf banget ni Ustad ya, kita-kita beneran gak ngerti ni."

"Saya yakin kalian pasti mau nidurin para santri di sinikan ?" Tanya Reza sambil tersenyum.

"Maksud ustad ngentot ?" Tanya Budi.

"Waaa... kalau di suruh ngentot pasti maulah Ustad, tapi Santri mana yang mau kita cicipin." Timpal Dewa, yang kini lebi tenang dari sebelumnya.

"Itu tugas kalian yang nyari nantinya, tapi kalau kalian mau bekerja sama, saya punya satu Ustadza yang bisa kalian cicipi bersama, bagaimana ?" Tawar Reza.

"I... ini serius Ustad ?" Tanya Rozak masi merasa tidak percaya mendengar ajakan Reza, dia takut ini hanya sekedar jebakan buat mereka bertiga.

"Emang Ustadzanya siapa Ustad ?" Timpal Budi.

"Pokoknya kalian gak akan menyesal... "

"Tapi kapan Ustad ?" Tanya Rozak.

"Sini biar saya bisikan... "

Mereka bertiga segera mendekat, mendengarkan sebuah rencana yang membuat mereka tampak bahagia, tapi akan menjadi bencana bagi para Santri dan Ustadza yang akan mereka jadikan korban untuk memenuhi nafsu birahi mereka.

Sesuai yang di janjikan, mereka sudah tidak sabar menunggu beberapa hari lagi, karena hari itu akan menjadi hari yang paling bersejarah di dalam hidup mereka.
Bersambung Ke
Dosa Yang Nikmat Bag.07
More aboutDosa Yang Nikmat Bag.06